Habitat Rusak, Bekantan di Kaltim Masuki Wilayah Tambang & HTI

Oleh: Muhamad Yamin 23 November 2017 | 19:54 WIB
Hasil foto kamera trap dari peneliti Yaya Rayadin, menunjukan bekantan hidup di atas permukaan tanah yang semula hidup di atas pohon mangrove/Istimewa

Bisnis.com, SAMARINDA - Bekantan (Narsalis Larvatus) semula hidup hanya di pohon mangrove di Kalimantan Timur, kini mulai memasuki wilayah tambang, kebun sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Perubahan prilaku bekantan ini akibat habitatnya rusak dan sumber pakannya berkurang.

“Akibat perpindahan hidup ini, bekantan akan mudah dimangsa oleh satwa lain misalnya oleh ular Phyton, macan dahan, bahkan untuk yang kecil sangat potensial untuk diterkam kucing hutan. Ini bisa mengganggu kesetabilan kelompok bekantan,” kata Dosen Fakultas Kehutanan Unmul, Yaya Rayadin, Kamis (23/11/2017).

Yaya Rayadin bekerjasama dengan team Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) telah melakukan penelitian bekantan sejak tahun 2013 hingga 2017. Dari hasil penelitian melalui camera trap, diketahui prilaku bekantan telah berubah.

“Selama ini kita hanya mengenal bekantan hanya hidup dan bergerak di atas pohon yang berada dalam habitat yang khusus, kawasan rivarian (kanan kiri sungai) dan mangrove. Tapi, faktanya kamera trap merekam pergerakan hewan bekantan diatas permukaan tanah,” kata Yaya.

Menurut Yaya, sumber pakan yang biasanya berada diwilayah mangrove dan rivarian berkurang, menyebabkan bekantan bergerak kekawasan HTI, Tambang dan perkebunan Sawit. Khusus dikawasan HTI dan dan kawasan reklamasi Tambang Bekantan memakan pucuk tanaman pohon sengon (Paraserianthes falcataria) sebagai sumber pakannya.

Bekantan merupakan satwa endemik pulau borneo (di dunia hanya hidup di pulau borneo) dan hanya tersebar di beberapa tipe habitat mangrove dan rivarian merupakan satwa yang hidup secara berkelompok dan sangat tergantung kepada vegetasi mangrove dan beberapa jenis pohon diwilayah rivarian.

“Populasi bekantan kini berada dalam ancaman yang serius. Karena semakin berkurangnya wilayah mangrove, serta adanya pembangunan disekitar wilayah rivarian (kanan kiri sungai) yang selama ini menjadi habitat utama bekantan,” jelas Yaya.

Untuk mencegah terganggunya kelompok bekantan, perlu dibangunnya koridor satwa untuk memudahkan pergekan bekantan dari kawasan yang terganggu ke kawasan yang masih berhutan. Dan, melindungi habitat bekantan baik yang berada di kawasan Mangrove maupun yang berada diwilayah Rivarian.

Selain itu, perlunya sosialisasi kepada para pihak dalam rangka perlindungan Bekantan maupun kawasan yang menjadi habitat Bekantan.

“Jumlah populasi bekantan di kepulauan Borneo secara khsusus belum pernah dihitung namun bila mengkompilasi hasil berbagain penelitian yang dilakukan dibeberapa tempat diwilayah Sabah, Brunei, Serawak dan Kalimantan diperkirakan populasinya tinggal 15.000 sampai 20.000 ekor saja,” kata Yaya.

Dijelaskan Yaya, di dunia populasi dan sebaran orangutan hanya ada di pulau Borneo dan Pulau Sumatra, sementara Bekantan hanya ada di pulau Borneo.

“Bekantan sangat sulit hidup atau dipelihara diluar habitatnya karena memerlukan pakan khusus yaitu vegetasi yang ada diwilayah mangrove dan rivarian, sementara orangutan dan primate lain dapat hidup meskipun dengan sumber pakan dari buah buahan yang dibeli dipasar umum,” jelas Yaya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer