Cuaca Buruk Picu Inflasi Akhir Tahun

Oleh: Fariz Fadhillah 06 Desember 2017 | 11:13 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Balikpapan, Suharman Tabrani / Bisnis.com - Fariz Fadhillah

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Kota Minyak mencatatkan angka deflasi 0,20% (mtm) atau hampir sama dengan deflasi yang terjadi pada bulan sebelumnya sebesar 0,22% (mtm). Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan melansir, deflasi yang terjadi November ini, didorong oleh kelompok Volatile Foods sebesar minus 0,25 persen.

Yang merupakan sumbangan dari beberapa komoditas bahan makanan antara lain daging ayam ras (-0,08%)  tomat sayur (0, 06%) dan kangkung 0,04%). Kelompok inti memberi andil inflasi sebesar 0,02% (mtm) yang  didorong oleh kenaikan harga bahan bangunan, yaitu batu bata (0,02 %) dan kayu balokan (0,01%).

Sementara dari kelompok administered price mencatatkan inflasi sebesar 0,02% yang disebabkan oleh kenaikan harga rokok sebesar 0,02%. 

Secara tahunan, inflasi IHK tercatat sebesar 0,02% yang disebabkan kenaikan harga po tertunda 2,31% (yoy) dan diperkirakan masih akan tetap pada level yang terkendali, sehingga inflasi tahun kalender tercatat 1,03 % (ytd).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Balikpapan, Suharman Tabrani, menjelaskan, hal ini tak lepas dari peran Tim Pengendalian Inflasi Nasional (TPIN). 

TPID Balikpapan, Penajam Paser Utara dan Paser diberikan kesempatan mengikuti kegiatan capacity building yang diselenggarkan di Jakarta medio  November 2017 silam. Dengan narasumber dari TPID DKI Jakarta yang notabene terbaik se-Jawa pada 2017 ini.

Mereka dibekali tugas dan fungsi TPID sesuai Kepmendagri No.500.05-8135 Tahun 2017 dikaitkan dengan UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sekaligus mekanisme kerja, koordinasi dan pelaporan TPID.

“Juga sharing mengenai program kerja unggulan dan mekanisme penganggaran dan strategi BUMD,” ujarnya. Ke depan, kata Suharman, ada tiga faktor yang diperkirakan akan memberi tekanan inflasi.

Pertama cuaca buruk akibat siklon puspa. Berdasarkan informasi dari BMKG, Balikpapan dan daerah sentra produksi bahan makanan masih terpapar berisiko cuaca buruk akibat gelombang siklon puspa yang dapat berdampak pada fluktuasi harga barang dari luar daerah dan pasokan ikan yang berkurang akibat aktivitas melaut yang menurun.

Kedua, tren kenaikan harga barang-barang konsumsi menjelang akhir tahun. Dan ketiga, potensi naiknya tarif angkutan udara, dengan kedamaian Hari Besar Keagamaan Nasional dan akhir tahun.

“Untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi ke depan perlu langka antisipatif  diperlukan koordinasi yang baik antar instansi terkait

Editor: Nur El Fathi

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer