REFERENCE : Menjulang Tanpa Membusung

Oleh: Hendrik Lim, MBA, Penulis Growth Profit Solid 08 Desember 2017 | 02:00 WIB
REFERENCE : Menjulang Tanpa Membusung
Hendrik Lim/Jibi

Saya bertemu dengan sosok wanita baya itu di ruang pertemuan. Ruangnya cukup sederhana dibandingkan dengan omzet mereka. Pembawaannya juga kalem. Nada bicaranya biasa saja, tetapi penuh tenaga dan mencerminkan suatu gairah melihat masa depan.

Dia bukan sembarang orang. Dia adalah Direktur Utama Prodia Tbk., Dewi Muliaty dan punya kualifikasi doktor dalam biomedik. Saya mendengarkan dengan takjub bagaimana Prodia dibangun, dan ambisi kolektif untuk membawa Prodia semakin besar dan berkelas global. Saya menjadi semakin takjub ketika melihat komitmen perseroan dalam pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) mereka.

Tidak banyak, bahkan amat jarang perseroan yang punya kemauan untuk investasi bidang pengembangan sumber daya manusia. Jika yang hanya menulis jargon di annual report, itu sih sudah jamak. Bayangkan saja di perseroan ini ada sekitar 35 orang yang menyelesaikan pasca sarjana doktoral dengan bea siswa dari perseroan, dan sekitar 70 orang tingkat master.

Meskipun sangat menguras tenaga dan perlu waktu puluhan tahun untuk membangun kapasitas dan kapabilitas kader kepemimpinan. Itulah yang mereka lakukan. Salah satunya melalui jenjang pelatihan dan pendidikan hingga tingkat doktoral tersebut.

Dewi juga menceritakan values perseroan, yang membuat mereka berjalan lurus tanpa kompromi, ketika berhubungan dengan integritas dan profesionalisme. Misalnya, perseroan ini bersikukuh berjalan di atas prinsip transparent ketika menjalankan usaha.

Maklum saja, berjalan lurus di tengah lika liku praktik yang bengkok bukan hal gampang. Jika kompetitor lain menganggap kick back adalah suatu praktik normatif dan Anda sendiri saja yang tidak, maka idealisme seperti ini akan membuat Anda seperti jalan sendiri di tengah keramaian. Hal itu sangat bisa meng-intimidasi values dan prinsip yang hendak kita junjung. Tim lapangan bisa merasa kehilangan confidence dan competitive edge. Namun, dari credential dan trust yang sudah terbangun, pelanggan dan mitra tetap membeli jasa mereka karena jaminan mutu dan service level.

Tetap Rendah Hati

Hal lain yang membuat saya kagum adalah di salah satu tembok ruang kenangan, yang mereka sebut ruang memorabilia. Di situ terpampang foto founders empat orang, serta juga alat-alat amat sederhana ketika memulai usaha 4 dekade lalu.

Nah, Kalau cuma foto founder saja, saya tidak terlalu takjub. Saya sudah sering melihat hal serupa di banyak perseroan yang berhasil. Ini ada satu yang berbeda. Ada foto dua orang wanita, Sri dan Supinah, terpajang di antara keempat founder itu. Ternyata, dua perempuan itu adalah karyawan pertama perseroan. Mereka menjadi saksi sejarah bagaimana perseroan ini bergerak dari nol menjadi perseroan raksasa.

Prodia kini adalah salah satu perseroan diagnostik terbesar di dunia, menduduki ranking enam. Menempatkan dua foto karyawan yang turut membesarkan perseroan di dinding utama memorabilia, menunjukkan suatu pengakuan yang tinggi (recognition) atas kontribusi kaum pekerja.

Foto karyawan tersebut menyampaikan message yang amat jelas: perseroan telah menjulang, dan itu terjadi karena ada orang- orang yang turut membangun sejak dia masih kecil. Prodia tidak lupa akan sejarahnya. Prestasinya menjulang tapi tidak membusung

Founder dan Suksesi

Adalah Sosok Andi Wijaya, pelopor dan lokomotif yang menggerakkan Prodia. Bersama teman temannya, dia mewujudkan mimpi membangun Prodia. Cikal bakal laboratorium itu berkembang dari sebuah petak kecil di Solo dengan omzet awal Rp37.000. Sebagai gambaran, angka ini tidak cukup membayar gaji sebulan pekerjanya kala itu, yakni 44 tahun yang lalu. Sekarang Prodia punya omzet di atas Rp1 triliun

Kini, para pelopor itu sudah memasuki golden ages. Dr. Andi Wijaya sendiri sudah memasuki usia 80 tahunan. Dia masih segar dan penuh vitalitas pada usia ini. Mereka tidak terlibat lagi dalam detail operasional perseroan. Sejak dekade lalu kepemimpian Prodia telah diserahkan kepada kaum profesional yang tumbuh kembang dari dalam, melalui skema promotion form within.

Yang amat menarik dari suksesi kepemimpian ini adalah tidak ada 'drama klasik' ala perseroan keluarga. Para founder ini membuat policy tidak jamak: Tidak memasukkan anak-anak mereka dalam tata kelola perseroan.

Tidak lazim bukan? Di mana pun orang umumnya punya suatu keinginan primordial, agar generasi penerus mereka yang mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan perseroan yang mereka bangun dengan susah payah. Akan tetapi, hal itu tidak dengan Andi Wijaya dan kawan kawan founder lainnya.

Di sinilah saya melihat kebesaran hati dan visionary leadership jangka panjang pendiri Prodia. Mereka ingin melihat Prodia maju, menjadi perusahaan kelas dunia. Tidak harus terjebak dengan konflik dan drama generasi penerus. Generasi penerus diberi kebebasan untuk menentukan jalannya sendiri.

Maklumlah, empat orang pendiri ini hubungan emosionalnya amat dekat, bahu membahu mendirikan perseroan saat masih susah payah. Empat orang ini tahu kekuatan teman lainnya, dan saling melengkapi. Mereka telah puluhan tahun bekerja dan bermain bersama, sehingga sudah ada suatu chemistry yang cocok. Hal seperti ini tentu akan sangat berbeda dengan konstruksi hubungan anak anak mereka.

Mendengar cerita cerita itu, sungguh saya merasa terpanggil untuk menceritakan business model seperti ini. Ingin rasanya saya melihat perseroan-perseroan di negeri ini bisa mengadopsi (adopt and adapt) praktik manajemen ala Prodia. Kalau hal itu bisa ditularkan, tentu kita akan punya fondasi praktik governance perseroan dalam skala industri yang amat kuat.

Keberhasilan dan Tantangan

Keberhasilan Prodia memberi tahu kita bahwa bisnis bisa jalan dan jadi besar, kendati dijalankan secara lurus, benar, dan tanpa kompromi berdasar prinsip, dan tidak terjebak dengan praktik kompromis pragmatis. Bahwa bisnis bisa menjadi besar kalau manajemen mau membangun orang- orangnya, biarpun dengan susah payah dan memakan waktu yang lama.

Pada akhirnya, ada tiga pilar yang membuat Prodia menjulang. Pertama, satu sisi leadership yang kuat, mimpi-mimpi besar berani mereka telurkan di sini. Kedua, kemampuan management yang tangkas, yang bisa menterjemahkan visionary statement menjadi kerangka kerja, sehingga visi tidak menjadi mubazir dan permainan kata jargonik tanpa akuntabilitas.

Ketiga, unsur scientis. Karena sifat industrinya laboratorium medik, mau tidak mau, elemen science menjadi syarat mutlak yang tidak bisa dihindari, dan ketiga komponen itu hadir dalam tubuh Prodia.

Andi Wijaya sendiri adalah kombinasi yang komplit dan ideal untuk kriteria di atas. Dia tercatat pernah sebagai Ketua Program Studi Pasca Sarjana Bio Medik di Universitas Hasanudin, Makassar selama 2 periode. Dia membimbing dan mempromosikan banyak sekali doktor.

Tantangan besar Prodia ke depan adalah bagaimana Prodia untuk terus tumbuh dan menjadi living legacy ketika founder-nya sudah tidak lagi hadir secara fisik. Oleh karena itu, Prodia harus meng-institutionalize spirit, values, dan mental para founder-nya. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut tinggal di dalam organisasi dan akan terus hidup dalam praktik manajemen sehari-hari.

Selain itu, tentu saja ia tidak boleh complacent, merasa sudah mapan dan terjerat dalam mentalitas: everything is fine and no problem. Sebaliknya, harus tetap gesit dan proaktif meyambut berbagai perubahan yang amat cepat dengan berbagai inovasi dan values creation yang tiada henti.

Editor: Bambang Supriyanto

Berita Terkini Lainnya