INDIKATOR PEREKONOMIAN 2017 : Inflasi Terkendali, Tetapi...

Oleh: Hadijah Alaydrus 03 Januari 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — Kolaborasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia terbukti mampu mengendalikan laju inflasi pada 2017. Namun, sejumlah indikator patut diwaspadai.

Pada tahun lalu, inflasi tercatat sebesar 3,61% atau berada di bawah target APBNP 2017 sebesar 4,3%. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), penyebab dominan inflasi pada 2017 adalah administered prices atau harga yang diatur pemerintah, yaitu tarif listrik 0,81% dan biaya perpanjangan STNK 0,24%.

Pola ini berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2016, harga pangan seperti cabai merah dan bawang merah bergejolak sehingga menjadi pendorong utama inflasi.

Kecuk Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik, menilai perubahan pola penyumbang inflasi ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk menekan harga pangan sebagai konsekuensi program reformasi subsidi listrik.

“Volatile food pada 2017 bisa dibilang lumayan sukses dan perlu dijaga terus untuk 2018,” kata Kecuk, Selasa (2/1).

Kendati demikian, pemerintah harus tetap waspada dalam menjaga pergerakan harga volatile food, walaupun pada awal tahun ini telah diputuskan bahwa tidak ada penyesuaian administered prices.

Sementara itu, inflasi inti—komponen inflasi yang cenderung menetap dalam pergerakan inflasi—memperlihatkan angka yang cukup mengkhawatirkan, yaitu sebesar 2,95% pada tahun lalu atau merupakan level terendah sejak 2004.

Terkait hal ini, Kecuk menilai ada beberapa indikasi yang harus diwaspadai. Pertama, persentase pendapatan masyarakat yang ditabung meningkat. “Otomatis pendapatan yang dikonsumsi menurun,” kata Kecuk.

Kedua, ada perubahan pola gaya hidup dari konsumsi non-leisure menjadi konsumsi leisure, yang salah satunya dipicu oleh perkembangan media sosial. Ketiga, ada dugaan perubahan pola belanja dari offline menjadi online.

Menanggapi fenomena itu, BPS tengah bekerja sama dengan Indonesian E-Commerce Association (idEA) untuk mengungkap porsi konsumsi daring masyarakat yang lebih lengkap.

“Kami sedang jalankan, nanti dilihat pada Maret,” ujar Kecuk.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menilai rendahnya inflasi pada 2017 dipicu oleh lemahnya tekanan eksternal terhadap harga barang yang diperdagangkan di dalam negeri.

Dody Budi Waluyo, Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, mengatakan bahwa tekanan eksternal tersebut tergambar dari indeks harga impor yang relatif rendah.

Selain itu, inflasi 2017 juga didukung oleh faktor positif permintaan dan penawaran serta koordinasi kebijakan yang kuat antara BI dan pemerintah, baik di pusat maupun daerah.

Terkait rendahnya inflasi inti, BI menilai capaian itu sejalan dengan konsistensi kebijakan pihaknya dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi.

Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Aset Manajemen, menuturkan pemerintah harus memberikan perhatian terhadap rendahnya inflasi inti tahunan.

Dia juga mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi kenaikan harga minyak mentah dunia yang dapat mengerek harga bahan pangan internasional.

Editor: Maftuh Ihsan

Berita Terkini Lainnya