REKENING SIMPANAN : Dana Repatriasi Masih Mengendap

Oleh: Abdul Rahman 08 Januari 2018 | 02:00 WIB
REKENING SIMPANAN : Dana Repatriasi Masih Mengendap
Wajib pajak berjalan menuju bilik tax amnesty di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Rabu (29/3)./Antara-Akbar Nugroho Gumay

JAKARTA—Sebagian dana repatriasi tax amnesty masih mengendap dalam bentuk deposito perbankan meskipun program pengampunan pajak tersebut telah berakhir sejak Maret 2017.

Dana repatriasi tax amnesty belum banyak mengalir ke luar sistem perbankan. Hal tersebut tercermin dari masih banyaknya simpanan jumbo yang tersimpan di bank.

Data distribusi simpanan yang dirilis oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan, simpanan jumbo bernilai di atas Rp5 miliar tumbuh secara signifikan sejak 2016. Nominal simpanan tersebut mencapai Rp2.518,09 triliun, dengan jumlah rekening sebanyak 90.888.

Pada periode yang sama 2016, nominal simpanan di atas Rp5 miliar senilai Rp2.248,80 triliun, dengan jumlah rekening sebanyak 82.092 rekening.

Dody Arifianto, Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS mengatakan, jumlah rekening yang tidak banyak bertambah namun nominal uang yang tersimpan meningkat pesat merupakan dampak langsung dari program pengampunan pajak. Masyarakat pemilik rekening jumbo menambah pundi-pundi deposito bank dari dana repatriasi yang dialirkan dari luar negeri.

Selama satu bulan pada periode Oktober 2017 hingga November 2017, jumlah rekening simpanan di atas Rp5 miliar hanya bertambah 378.

"Jumlah rekeningnya tidak banyak bertambah, tapi nominalnya naik karena dampak tax amnesty," katanya kepada Bisnis, Kamis (4/1).

Sebagaimana diketahui, tax amnesty atau pengampunan pajak di Indonesia dilakukan sejak 2016 lalu. Periode terakhir deklarasi adalah pada Maret 2017.

Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh peserta pengampunan pajak adalah menginvestasikan dana yang direpatriasi di dalam negeri selama 3 tahun. Bentuknya antara lain berupa investasi keuangan di bank, investasi infrastruktur ataupun obligasi BUMN.

Secara umum, pertumbuhan jumlah rekening perbankan selama 6 tahun terakhir meningkat cukup pesat. Akan tetapi, di sisi lain, pertumbuhan nominal simpanan justru melambat.

Hingga November 2017, total rekening yang tercatat di LPS mencapai 239,01 juta rekening dengan nominal Rp5.279,73 triliun.

Angka tersebut bertambah sebanyak 39,71 juta rekening atau tumbuh 19,93% sejak 31 Desember 2016 (year to date/y-t-d). Sedangkan nominalnya bertambah Rp379,54 triliun atau tumbuh 7,75% secara y-t-d.

Pertumbuhan jumlah rekening tersebut merupakan yang paling tinggi dalam 4 tahun terakhir dan tertinggi kedua dalam 6 tahun terakhir. Pertumbuhan paling tinggi tercatat pada 2013 sebesar 23,11%.

Per 31 Desember 2012 nominal simpanan yang tercatat senilai Rp3.277,15 triliun atau bertambah Rp446,83 triliun. Nilai tersebut tumbuh 15,79% (y-o-y).

Namun, pada November 2017 nominal simpanan hanya bertambah Rp379,54 triliun menjadi Rp5.279,73 triliun. Alias, hanya tumbuh 7,75% dibandingkan Desember tahun sebelumnya (y-t-d).

Dody menjelaskan, tren tersebut terjadi karena program Jaring Pengaman Sosial yang dilaksanakan pemerintah. Penyaluran dana bantuan sosial maupun dana subsidi pemerintah disalurkan secara nontunai yang mensyaratkan penerima bantuan untuk membuka rekening bank. Dengan demikian, jumlah rekening bertambah secara signifikan.

Akan tetapi, jumlah nominal simpanan tidak bertumbuh secepat pertumbuhan jumlah rekening karena rata-rata dana bantuan sosial yang disalurkan secara nontunai tidak bertahan lama di dalam rekening.

“Dana yang disalurkan tersebut langsung ditarik oleh penerimanya, itulah yang menyebabkan nominalnya turun sekalipun pemilik rekening bertambah,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan jumlah pemilik rekening tersebut, kata Dody, menunjukkan keberhasilan program Layanan Keuangan Tanpa Kantor untuk Keuangan Inklusif (Laku Pandai) perbankan. Pasalnya, pembukaan rekening sampai penyaluran uang program tersebut melalui agen Laku Pandai yang tersebar hingga pelosok daerah.

LONGGAR

Pada perkembangan lain, kondisi likuiditas perbankan pada 2018 diperkirakan masih sangat memadai untuk menopang ekspansi kredit yang diproyeksi akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Presiden Direktur PT Bank Ina Perdana Tbk. Edy Kuntardjo memperkirakan likuiditas pada 2018 masih akan tetap longgar. Hingga akhir Desember 2017, rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) ada di level 78%. Pada tahun ini, LDR diperkirakan akan sedikit naik ke level 80%, karena kredit akan digenjot tumbuh 15%.

"Secara industri likuiditas tahun 2018 masih longgar karena pertumbuhan kredit masih terbatas di 10% di samping masih adanya kekhawatiran NPL," katanya.

Dia menambahkan, perkiraaan tersebut lantaran adanya kemungkinan bunga deposito naik lagi jika rate acuan BI naik sehingga akan menghambat pertumbuhan kredit.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja menuturkan LDR BCA masih jauh di bawah industri, yakni di kisaran 74% - 75% pada akhir 2017.

"Kredit lebih bagus dari perkiraan. Tahun ini bisa naik mendekati 12% di atas perkiraan yang hanya 10%," ujarnya.

Editor: Farodlilah Muqoddam

Berita Terkini Lainnya