CORE: Bank di Indonesia Paling Malas Tapi Untung Besar

Oleh: M. Richard 11 Januari 2018 | 11:20 WIB
CORE: Bank di Indonesia Paling Malas Tapi Untung Besar
Nasabah bertransaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri di Tangerang, Banten./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Pieter Abdullah Redjalam menyatakan kebijakan moneter Bank Indonesia saat ini belum berhasil dalam menstimulasi pemilik modal untuk berinvestasi.

Selain itu, dia mengatakan penyaluran kredit yang tumbuh sangat rendah sekitar 8%, tetapi justru ada bank-bank besar mendapatkan keuntungan tinggi.

"How come padahal tugas bank adalah menyalurkan kredit," katanya saat berkunjung ke redaksi Bisnis, Rabu (10/1/2018)

Menurut Pieter, sistem moneter yang berlaku saat ini hanya menguntungkan konglomerat.

Mantan pegawai Bank Indonesia ini mengatakan, beberapa bank justru memanfaatkan sistem moneter Indonesia untuk memperkaya diri.

"Bank-bank besar adalah bank paling malas tetapi mereka paling untung," tuturnya.

Berdasarkan survey dari Forbes Desember 2017, aset 50 orang terkaya di Indonesia melejit dari dari US$99 miliar menjadi US126 miliar.

Menurutnya, kecenderungan beberapa bank yang malas dalam memberikan kredit dan hanya memanfaatkan surat utang negara sebagai instrumen investasinya adalah penyebab akumulasi kapital yang berlebihan, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

"Mamang tidak terjadi pada seluruh bank, hanya beberapa bank besar yang memiliki cost of fund rendah," tuturnya.

Selain itu, dampak dari sistem moneter juga sangat membatasi ruang swasta dalam berinvestasi.

Pieter mengatakan kredit perbankan yang melambat malah diikuti dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang memecahkan rekor.

Kemajuan sektor riil haruslah didukung oleh penyaluran kredit, dan sayangnya IHSG yang menembus rekor tidak akan pernah berpengaruh banyak pada kemajuan sektor riil.

"Walaupun ada beberapa sektor industri di dalam IHSG, tetapi mereka tidak terlalu tinggi, dan yang justru mencuat adalah indeks saham bank," katanya, dan artinya uang tersebut masih berputar di sektor jasa.

Berkuasanya deposan.

Disamping itu, seluruh perbankan dalam hal ini tidak dapat disalahkan, karena masih banyak bank yang kekeringan likuiditas dan kesulitan mencari dana.

"Bank-bank yang mengalami excess likuiditas hanya terjadi pada bank-bank diperkotaan, sedangkan Bank Umum Kelompok Usaha [BUKU] 1 dan BUKU 2 malah kekeringan dan mereka sangat tergantung pada nasabah-nasabah besar mereka," tuturnya.

Nasabah yang mempunyai modal besar menjadi memiliki bargaining power kuat, sehingga akan mencari suku bunga yang tinggi untuk tempat menabungnya.

Hal semacam inilah yang malah membuat suku bunga di bank-bank masih mahal, dan meskipun BI menurunkan suku bunganya, bunga kredit di perbankan tidak akan turun.

Ini menyebabkan biaya investasi menjadi mahal, dan pengusaha-pengusaha swasta enggan untuk berinvestasi.

"Investasi yang besar seperti infrastruktur adalah investasi jangka panjang, oleh karena itu pemerintah akan sangat sulit mengharapkan swasta untuk ikut berpartisipasi dalam investasi infrastruktur," jelasnya.

Editor: Achmad Aris

Berita Terkini Lainnya