BAHANA SEKURITAS: 2018, Pasar Saham Cari Keseimbangan

Oleh: Tegar Arief 14 Januari 2018 | 16:15 WIB
BAHANA SEKURITAS: 2018, Pasar Saham Cari Keseimbangan
Pengunjung melintas di gedung Bursa efek Indonesia Jakarta, Kamis (11/1)./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Bahana Sekuritas memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada level 7.000 pada akhir tahun ini. Adapun, pasar saham akan lebih stagnan pada semester I/2018.

Bahana menila ada sejumlah hal positif yang akan mempengaruhi kondisi pasar sepanjang tahun ini. Sejumlah positif tersebut a.l berlanjutnya belanja infrastruktur, dana subsidi untuk sosial, serta dana kampanye yang biasanya meningkat menjelang Pilkada serta Pilpres akan meningkatkan konsumsi masyarakat.

Dalam siaran pers yang diterima, Minggu (14/1/2018), Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin mengatakan faktor lain yang juga berpengaruh adalah harga komoditas global yang stabil meningkat khususnya harga batu bara sehingga akan memberi multiplier effect terhadap perekonomian.

"Dengan melihat beberapa faktor positif dan risiko yang perlu dicermati, indeks diperkirakan tidak akan banyak bergerak pada semester pertama tahun ini, tetapi pada semester kedua baru akan terlihat pergerakan yang berarti tergantung pada proses dan hasil Pilkada serta menanti langkah yang akan diambil pemerintah untuk menyelamatkan anggaran 2018," katanya.

Dia menambahkan, pada awal tahun ini pasar saham Indonesia akan mencari keseimbangan meski untuk jangka menengah dan panjang sangat optimistis karena dukungan bonus demografi serta pemerintah masih akan melanjutkan reformasi struktural.

"Tahun ini pasar akan mencari keseimbangan antara stabilitas makro ekonomi yang terjaga dengan beberapa faktor risiko yang membayangi yakni tren kenaikan harga minyak dunia, perhelatan pilkada serentak di dalam negeri serta kebijakan investasi pemerintah Cina," imbuhnya.

Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian investor dalam tahun ini di antaranya kebijakan Pemerintah China yang ingin mengurangi investasi langsungnya di luar negeri dalam waktu dekat termasuk di ASEAN, yang bisa berakibat pada perlambatan ekonomi domestik. Pasalnya, investasi menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia.

Selanjutnya, tren kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada pada kisaran US$66 per barel, lebih tinggi dari asumsi harga minyak dunia yang ditetapkan dalam APBN 2018 senilai US$48 per barel. Menurutnya, ini akan berpengaruh terhadap defisit transaksi berjalan bila tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau bakal menimbulkan inflasi bila harga BBM subsidi naik.

Faktor lain adalah kondisi politik di dalam negeri yang akan menghadapi Pilkada serentak serta Pilpres 2019, akan menjadi faktor penentu bagi investor khususnya saat proses Pilkada sedang berlangsung hingga hasil akhirnya. "Bila semuanya berjalan transparan dan hasil akhirnya sesuai dengan ekspektasi pasar, akan membawa dampak positif," ujarnya.

Dengan berbagai faktor yang dipaparkan, Bahana merekomendasikan delapan saham unggulan yakni Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga Rp8.500/lembar, United Tractors (UNTR) dengan target harga Rp39.700/lembar, Semen Indonesia (SMGR) dengan target harga Rp11.600/lembar, Adaro Energy (ADRO) dengan target harga Rp2.174/lembar, Waskita Karya (WSKT) dengan target harga Rp3.500/lembar, Indofood CBP (ICBP) dengan target harga Rp10.600/lembar, Bank Negara Indonesia (BBNI) dengan target harga Rp10.000/lembar dan Bank CIMB Niaga (BNGA) dengan target harga Rp1.700/lembar.

Editor: Riendy Astria

Berita Terkini Lainnya