Kejar Target, PHM Genjot Produksi dari Lapangan Handil

Oleh: Fariz Fadhillah 15 Januari 2018 | 05:38 WIB
Tangker MT Gede milik Pertamina menjadi armada andalan penyaluran minyak mentah ke kilang domestik/Bisnis.com-Fariz Fadhillah

BALIKPAPAN- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memastikan akan mengebor sumur baru di Lapangan Handil, satu sari wilayah kerja (WK) Mahakam. Dari Lapangan Handil, PHM akan meningkatkan pasokan khususnya minyak mentah. Adapun saat ini pasokan jenis Handil Mix Crude berkisar 17 ribu barel per hari (BPH).

“Kami akan banyak membuka sumur Handil baru. Tambahan produksinya saya belum tahu, Handil kebanyakan sumur gas beberapa akan menyumbang minyak. Bergantung dari sumur gas menyumbangkan kondensatnya. Yang pasti akan naik signifikan,” jelas Anto Suryananto Vice President Well Construction dan Intervention (WCI) PT PHM kepada Bisnis, Minggu (14/1).

Ia mengatakan pihaknya mesti mengejar target 69 pengeboran sumur sepanjang tahun ini. Dalam rencana kerja dan anggaran (WP&B) ditarget sebesar 42.010 barel per hari atau BPH. Sedangkan, 916 juta kaki kubik per hari (MMscfd) untuk gas. Sebelumnya, US$1,8 miliar dikucurkan Pertamina untuk biaya operasi produksi di wilayah yang dulu bernama Blok Mahakam itu.

Selain pengeboran, 132 workover sumur, dan 5.623 perbaikan sumur juga akan dilakukan. "Satu sumur kita pastikan telah selesai barusan (2018), lalu 14 sumur sudah selesai 2017 lalu. Rencana mengebor banyak sumur, 69 sumur tahun ini,” katanya.  

14 sumur terdahulu itu hasil kolaborasi PHM dengan TEPI dalam rangkaian alih kelola. Total sebanyak 15 sumur yang berproduksi. Peningkatan, kata dia, juga diupayakan dengan efisiensi pengeluaran di beberapa fasilitas produksi. “Selama ini efisiensi sudah bagus. Harus dipertahankan agar tak berdampak ke produksi. Selain juga mempercepat proses, perawatan sumur juga dikerjakan,” ungkapnya.

Anto mengutarakan jika kendala terbesar di lapangan saat ini adalah penurunan produksi secara alamiah. “Setiap reservoir yang dibor pasti mengalami natural decline. Makanya sulit untuk dijawab (produksi) karena bergantung pada decline itu,” jelasnya.

Minyak yang akan diproduksi diproyeksikan untuk untuk memenuhi pasokan kilang dalam negeri. Sebelumnya, Bambang Manumayoso Direktur Pertamina Hulu Indonesia (PHI) tak menampik jika kondisi WK Mahakam saat ini tak sebaik dulu karena reservoir yang sudah sepuh. “Sudah kurang begitu menjanjikan,” ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Solusi keekonomian  tak hanya mengandalkan satu field, melainkan 5-6 field ke depan akan dilakukan guna menyiasati hal itu. “Kita mesti cepat menemukan titik-titik pengeboran yang baru,” sebutnya.

Terpisah, SKK Migas mendukung penuh upaya peningkatan produksi ini. Pengapalan sebanyak 150 ribu barel crude oil dari terminal Senipah mesti dilanjutkan di tengah kondisi Blok Mahakam saat ini. “Kami SKK berharap produksi dan lifting dapat dipertahankan,” ungkap Humas SKK Migas Kalimantan Sulawesi Damar Setyawan dikonfirmasi. 

Terkait produksi gas dari sumur-sumur di WK Mahakam sampai saat ini terus mengalir ke kilang PT Badak di Bontang untuk diolah menjadi LNG. Pihaknya belum menghitung berapa jumlah produksi  sumur yang sudah berproduksi  2018 ini. 

"Ya, kalau untuk gas kan terus berproduksi, (penjualan) nantinya tanpa melalui proses pengapalan seperti ini," jelasnya. Berdasarkan data pihaknya  SKK Migas, per November 2017, WK memproduksi minyak dan kondensat sebesar 52 ribu barel per hari (bph) dan 1.360 MMscfd gas.

Editor: Nur El Fathi

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer