ENTERPRENUR MUDA BALIKPAPAN: Ambisi di Tengah Kelesuan Bisnis Konstruksi

Oleh: Fariz Fadhillah 16 Januari 2018 | 04:44 WIB
ENTERPRENUR MUDA BALIKPAPAN: Ambisi di Tengah Kelesuan Bisnis Konstruksi
Glenn Nirwan, CEO and Director PT PT Balikpapan Ready Mix (BRM) Pile yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Balikpapan/Bisnis.com-Fariz Fadhillah

Di usia 27 tahun, Glenn Nirwan dipercaya menahkodai Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Balikpapan. Beban berat dipanggul CEO and Director PT PT Balikpapan Ready Mix (BRM) Pile.

Bisnis keluarga yang membesarkan namanya bergeliat mengikuti kelesuan ekonomi yang terjadi. Keluarganya penganut bisnis ala ‘ortodok’. Berdiri sejak 1990, PT Balikpapan Ready Mix (BRM), didirikan ayahanda, Roy Nirwan, berfokus hanya di bidang konstruksi. Setidaknya, BRM menjadi pemasok satu-satunya beton pracetak dan prateken di Kaltim, bahkan Sulawesi hingga kini.

Singkat cerita, enam anak perusahaan penunjang kebutuhan industri beton berdiri. PT. BRM Marine untuk jasa angkutan kapal tug boat dan ponton, PT. GOA Energi Mandiri untuk  pengadaan solar industri, PT Tiang Beton BRM untuk pengadaan tiang listrik khusus beton, PT. Bukit Rimba Makmur untuk perkebunan kayu sengon, dan PT. Martadinata Indah Tambang untuk pertambangan batu dan pasir.

Peraih penghargaan enterprenur muda Balikpapan ini mesti pulang ke kampung halaman Balikpapan. Menetap 11 tahun di negeri Kanguru atau sejak lulus SMP, pebalap rally nasional ini terlanjur betah.

“Dilematis. Di Australia untuk mencapai tingkat kebahagiaan itu mudah. Tidak dengan materi. Hampir semua kebutuhan sandang pangan papan dibantu oleh pemerintah.” 

Lulus dari Queensland University of Technology (QUT) Brisbane, Australia program manajemen proyek konstruksi Glenn langsung menyokong sang kakak, Ryan Nirwan dalam bisnis BRM. Walhasil, di enam perusahaan tadi ia langsung mengemban tugas sebagai CEO and Director. 

“Saya ini makan dan hidup dari Balikpapan. Saya diingatkan untuk pulang kampung, membangun daerah sebagai timbal jasa,” tuturnya. 

Berikut petikan perbincangan Bisnis dengan anak kedua Roy Nirwan ini di Kantor BRM, kawasan Kariangau, Balikpapan Barat. 

Apa ambisi Anda ke depan untuk perluasan usaha? 

Ambisi untuk selalu berkembang pasti selalu ada. Saat ini rasanya pengembangan akan lebih difokuskan pada teknologi dan peralatan pada usaha ketimbang diversifikasi ke arah yang lain mengingat keadaan ekonomi seperti sekarang. 

Pandangan Anda mengenai situasi  ekonomi sekarang? 

Perekenomian agak lambat. Memasuki tahun politik tentu mesti wait and see. Saya harap ini tidak menganggu proyek pembangunan yang disetujui dan sudah berjalan. Di Kaltim, harga baru bara, dan pertumbuhan ritel membaik. Akan ada efek domino dari ini.

Produksi beton precast dan prestressed sekarang?

Rata rata produksi, tiap tahun beda namun signifikan. Ada penurunan yang cukup drastis dibanding tahun tahun sebelumnya. Dari 2015 hingga 2017 total produksi kami rata rata 7.000 kubik meter beton. Era 2014-2015 itu tahun yang sangat baik untuk usaha saya. Saya kira ini efek dari krisis ekonomi global. 

Bagaimana prospek industri beton di Kalimantan?

Selama pembangunan terus berjalan, kebutuhan akan beton akan tetap ada. Kami berharap kebutuhan tidak hanya dikuasai oleh  perusahaan BUMN tapi juga bisa dikendalikan oleh perusahaan lokal. Setidaknya daerah merasakan pemerataan ekonomi. 

Apa modal bergelut di dunia usaha sejak dini?

Tentu nama bersih orang tua. Baik saja tidak cukup. Minimal tidak pernah cacat hukum. Berbisnis itu utamanya adalah kepercayaan.

Banyak yang bilang anda beruntung sejak lahir. Benar demikian? 

Orang bilang jadi anak Roy Nirwan enak. Padahal banyak yang enggak tahu. Saya harus ke sana sini juga untuk memulai, mencari relasi, dan mencari pasar. PT GOA saya dirikan dari keringat saya bersama dua rekan saya. Dari sini kami bisa mandiri pasokan solar.

Di BRM, kiat seperti apa yang dapat mempertahankan bisnis ini?

Perusahaan besar tentu ditunjang banyak lini usaha. Berjalannya bukan tak mungkin bertambah. Inti bisnis adalah mandiri. Jangan memberi subsidi silang, mesti mandiri.

Di mana pasar terbesar produk anda?

Pasar terbesar adalah pemerintah. Baik kota, provinsi ataupun nasional. Kita tidak pernah membeda-bedakan sebuah project dari besar kecilnya, semua mendapatkan pelayanan semaksimal mungkin.

Megaproyek perluasan kilang minyak Balikpapan sudah akan berjalan. Bagaimana pandangan anda? 

RDMP sudah saatnya menjadi kesempatan pebisnis lokal untuk berkontribusi. Uang daerah juga harus berputar di daerah. Saya sepakat 3 persen dari total investasi bisa dirasakan langsung masyarakat Balikpapan. Memang, mengambil peran di proyek besar perlu modal besar. 30-50 persen modal keseluruhan harus ditanggung. Duit dari mana segitu. Kita tak menuntut di luar kapasitas. 

PR (pekerjaan rumah) Hipmi saat ini? 

Berorganisasi di Hipmi sifatnya sukarela. Sejak menjadi pengurus bagaimana minimnya kontribusi organisasi kepada anggota. Ke depan saya akan perjuangkan agar anggota mendapatkan benefit sehingga semangat berorganisasi. Hipmi ini bisa menjadi batu lompatan siapa saja untuk keuntungan usaha, atau membuka relasi baru,

Program andalan Anda di Hipmi?

UKM Training. Kami akan gelar secara berkala. Pelaku UKM Balikpapan akan kami bekali cari berbisnis, modal, hingga penetrasi pasar. Masalah utama kan modal. Kami sudah komunikasikan ini dengan perbankan agar mempermudah pinjaman beserta mekanismenya.

Target Anda untuk Hipmi setahun ke depan?

Masuk Hipmi gratis. Kouta member, target 150. Keberadaan Sekretariat BPC juga kami upayakan. Selama ini nomaden. Untuk pengurus sudah terbentuk. Banyak perombakan dari sebelumnya semata demi penyegaran organisasi.

Editor: Nur El Fathi

Berita Terkini Lainnya