Bandara APT Pranoto Berpotensi jadi Pusat Umrah Indonesia Tengah

Oleh: Fariz Fadhillah 18 Januari 2018 | 18:07 WIB
/istimewa

Bisnis.com, BALIKPAPAN- General Manager PT Angkasa Pura 1 Cabang Balikpapan Handy Heryuditiawan memandang positif upaya kerja sama Kaltim dengan Malaysia dan Singapura.

Orang nomor satu di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan itu lantas sepakat apabila nantinya APT Pranoto fokus melayani penerbangan intra Kalimantan.

“Ini bisa saja,” singkatnya kepada Bisnis.

Pantauan media ini, daerah seperti Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutim, ataupun Bontang sedang getol membenahi sarana transportasi udara mereka.

Adapun semua daerah tadi masih bertumpu pada akses darat sebagai media transportasi utama.

Sementara Bandara SAMS Balikpapan rata rata melayani penerbangan lintas pulau. Data lalu lintas udara 2017 silam mencatat, arus penerbangan Balikpapan dominan ke Pulau Jawa. Jakarta sebanyak 21 penerbangan dalam sehari. Disusul Surabaya sebanyak 18 penerbangan.

Adapun sumber kekuatan lain SAMS Balikpapan ada pada flight internasional.

Selama ini flight tersebut didominasi tujuan Balikpapan-Arab Saudi. Sebanyak sekali dalam sepekan.

Untuk Umrah mayoritas penumpangnya dominan dari Gorontalo Sulbar, Sulteng, dan Kalsel.

“Kita sudah punya tamunya. Ini tentu bisa ditingkatkan. Mungkin dua-tiga kali sepekan. Kehadiran APT Pranoto tentu semakin bagus,” sambungnya.

Ia mengatakan pihaknya sudah mengutarakan wacana ini ke para pelaku umrah.

“Intinya jika bisa kenapa tidak. Wujudkan pusat umroh Indonesia Tengah ada di sini," tuturnya.

Kata dia, kehadiran Bandara APT Pranoto dapat menjadi nilai tambah Bandara SAMS Balikpapan. Jarak antar kedua bandara ini hanya terpaut jarak sekitar 110 kilometer atau berkisar 3 jam perjalanan darat.

Kemungkinan itu dapat dipersingkat lagi dengan kehadiran jalan tol Balikpapan-Samarinda yang ditarget beroperasi awal 2019 oleh Pemprov Kaltim.

"Jalan tol merupakan resource utama Kaltim, jadi pola bisnis dia bandara ini bukan market sharing, melainkan perluasan market," jelas Handy.

"Di solo bisa, Yogyakarta bisa, Cengkareng-Halim juga bisa bertumbuh. Kenapa Samarinda-Balikpapan tidak? Intinya dikembalikan ke pasar yang memilih," jelasnya.

"Kuenya ini kan kecil. Kalau dibagi lagi ya makin kecil dong. Contoh, dari 7,3 persen hanya 9 persen di antaranya itu merupakan penumpang pariwisata saja," ujar Handy.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer