Transaksi Saham di Kaltim Triwulan IV Capai Rp364,39 Miliar

Oleh: Muhamad Yamin 09 Februari 2018 | 17:56 WIB
Ilustrasi/JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, SAMARINDA – Perkembangan sektor pasar modal di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dalam penghimpunan dana di tahun 2017 cukup menggembirakan.

Nilai transaksi saham meningkat sejalan dengan pertumbuhan investor.

“Nilai transaksi saham di Kaltim pada triwulan IV tahun 2017 sebesar Rp 364,39 miliar meningkat 2,02% dibanding triwulan sebelumnya,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim, Dwi Ariyanto, Jumat (9/2/2018).

Transaksi saham tertinggi berada di Balikpapan dengan nilai Rp 234,60 miliar dan Samarinda sebesar Rp 80,58 miliar.

Adapun, jumlah investor saham di Kaltim juga meningkat seiring dengan bertambahnya Single Investor Identification (SID) sebesar 8.553 investor meningkat 5,80% dibanding triwulan sebelumnya.

“Sementara di Kalimantan Utara pada triwulan IV tahun 2017, transaksi saham mencapai Rp 9,21 miliar menurun sebesar 29,65% dibanding triwulan sebelumnya. Transaksi saham tertinggi berada di Tarakan dengan nilai Rp 8,79 miliar dan selanjutnya Nunukan sebesar Rp 3,05 miliar,” jelas Dwi.

Meski begitu, jumlah investor saham di Kalimantan Utara meningkat seiring bertambahnya SID pada triwulan IV tahun 2017 sebanyak 456 investor meningkat 4,59% dibanding triwulan sebelumnya.

“Kondisi yang baik ini berkat komitmen, kerja keras serta dukungan yang diberikan oleh pemerintah, industri jasa keuangan dan pelaku usaha. Capaian ini merupakan modal yang baik bagi kita untuk menapaki tahun 2018. OJK melihat ada optimisme, peluang dan tantangan untuk mempertahankan ini,” kata Dwi.

OJK Kaltim juga mencatat kinerja lembaga keuangan non bank nasional menunjukan perkembangan yang positif dengan risiko yang terkendali. Ini tercermin dari pertumbuhan aset industri asuransi sebesar 20,2% (year on year) melampaui pertumbuhan tahun 2016 sebesar 18,2% (year on year).

“Piutang pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan juga tumbuh 7,05% year on year, dengan tingkat pengelolaan risiko memadai dengan Non Performing Financing (NPF) pembiayaan sebesar 3,08%,” kata Dwi.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer