Hilirisasi Agroindustri jadi Masa Depan Kaltim

Oleh: Fariz Fadhillah 19 Februari 2018 | 18:10 WIB

Bisnis.com, SAMARINDA– Program pembangunan ekonomi Kaltim ke depan dipastikan akan berbasis agroindustri dan juga agribisnis.

Dua sektor ini menjadi strategis pasca era minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara berakhir. Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan pelambatan pertumbuhan ekonomi daerah saat ini memaksa transformasi dilakukan.

“Transformasi ekonomi kita ditandai dengan industrialisasi dan hilirisasi komoditas unggulan,” kata Awang dalam keterangan resminya, Senin (19/2).

Dalam menuju visi Kaltim 2030, proporsinya pengembangan sektor industri sebagai basis ekonomi utama sebesar 42 persen pada 2030.Sementara pada sektor perdagangan dan jasa akan menempati proporsi kedua dengan 20 persen. Sedangkan sektor tambang di urutan ketiga dengan 17 persen, dan pertanian di urutan keempat dengan proporsi sebesar 10 persen.

Ia menjelaskan transformasi ekonomi akan dilakukan secara bertahap melalui lima periode, yakni, inisiasi, pengembangan kapasitas, peningkatan nilai tambah dan penguatan rantai nilai, pengembangan klaster industri ramah lingkungan dan inovasi.

Adapun saat ini Kaltim masuk pada periode peningkatan nilai tambah dan rantai nilai yang dimulai sejak 2015 lalu hingga 2020. Strategi yang dilakukan yakni dengan melakukan pembatasan produksi batubara dan peningkatan industri migas, serta mengembangkan industri turunan sawit, tanaman pangan beserta industri, serta peningkatan sektor jasa dan perdagangan.

“Ini sebagai upaya peningkatan nilai tambah melalui penguatan rantai nilai produksi (hulu-hilir) dengan melakukan turunan produk-produk mentah,” katanya. Pihaknya pun menargetkan pertumbuhan ekonomi 6-8 persen, tingkat pengangguran 6-7 persen, tingkat kemiskinan 4-5 persen dan emisi karbon 1051 ton Co2eq/juta US$ dapat tercapai dari strategi ini.

Selain itu, pada periode 2020-2030, ia menyebutkan Kaltim akan memasuki periode pengembangan klaster industri ramah lingkungan. Strategi yang dicanangkan, dengan pengembangan sektor industri yang rendah emisi yang terintegrasi dalam satu kawasan, didukung dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ramah lingkungan.

Kemudian juga pengembangan infrastruktur pendukung serta pemenuhan energi yang bersumber dari energi baru terbarukan. “Pada tahap ini mulai diperkuat basis-basis klaster industri yang telah dirintis pada tahap sebelumnya,” ungkapnya

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada Mudrajad Kuncoro mengatakan, tak mudah mewujudkan transformasi ekonomi karena Kaltim merupakan daerah yang berbasis Batu Bara dan Migas.

“Pemimpin Kaltim ke depan harus lebih kreatif membangun transformasi ekonomi dengan tidak bergantung pada SDA tidak terbarukan, memang sulit tapi bukan berarti tak bisa diwujudkan,“ ujarnya dalam Kaltim Summit III yang digelar pekan lalu di Convention Hall Samarinda.

Hasil penghitungan IPM 2016 menunjukkan bahwa Kaltim berada di posisi ketiga dengan skor 74,59, berada di bawah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Penghitungan, kata dia, dilakukan oleh Badan Pusat Statistik melalui analisis proyeksi penduduk hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya