Menakar Peluang Investasi Asing di Balikpapan

Oleh: Fariz Fadhillah 26 Februari 2018 | 20:05 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN- Peter Simojoki Sekretaris Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Australia datang langsung menyambangi Sekretariat Kamar Dagang Industri (Kadin) Balikpapan, Senin(26/2) sore.

Ketua Kadin Balikpapan Yaser Arafat menyambut positif kunjungan ini. Ada dua peluang kerjasama yang ditawarkan.

Dia menawarkan peluang di bidang olahraga dalam hal pengelolaan Stadion Batakan Balikpapan, sekaligus penawaran pelayaran langsung atau direct call di Terminal Peti Kemas yang dikelola Kaltim Kariangau Terminal di Kawasan Industri Kariangau atau KIK Balikpapan.

"Direct call semua fasilitas penunjang sudah tersedia. Produktifitas perusahaan yang beroperasi di situ bisa terjamin dengan surplus listrik dan aksesibilitas yang terjangkau. Banyak kawasan industri di luar yang terpisah dengan pelabuhan, tapi tidak dengan Balikpapan," jelasnya.

"Sementara itu kita juga sudah berhasil membangun stadion standar FIFA.Perlu pengelolaan yang baik untuk mendatangkan income daerah," sambungnya.

Sebagi perwakilan pengusaha, ia mengatakan infrastruktur jalan yang mengarah ke KIK dan drainase area masih perlu ditingkatkan guna menumbuhkan minat perusahaan asing datang berinvestasi ke Balikpapan.

Yasser juga mengatakan sektor kehutanan memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi di Kaltim. Pun demikian dengan kondisi ekonomi Kaltim ia menilai cukup stabil meski memasuki tahun politik. Hanya saja, kepada Peter, dia berujar gejolak harga Batu Bara turut berdampak pada perekonomian Kaltim selama dua tahun belakangan.

Sementara Peter Simojoki mengatakan pihak Australia siap menangkap peluang investasi yang di Balikpapan. Sejauh ini kata dia banyak perusahaan asal Australia diterima baik oleh masyarakat Balikpapan, seperti PT Thiess Kontrakor Indonesia, dan Coates Hire.

Kedua perusahaan beroperasi langsung di kawasan Batakan Balikpapan Timur fokus bergerak di sektor jasa pertambangan Batu Bara.

"Selama ini perusahaan Australia mengandalkan sektor jasa pertambangan baru bara di sini. Pertemuan dengan Kadin untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi ekonomi Balikpapan termasuk pengamatan mengenai potensi Migas di sini," jelasnya.

Pengamatan sejauh ini ia mengatakan iklim investasi cukup baik ditunjang predikat sebagai Kota Layak Huni. "Keindahan dan kebersihan kota Balikpapan cukup membanggakan sudah sangat layak huni. Saya dari hotel ke kantor Kadin memilih jalan kaki karena pemerintah sudah menyediakan trotoar yang baik," ujarnya.

Bisnis mencatat adapun tiga daerah di Kalimantan Timur berlomba-lomba merealisasikan penanaman modal asing atau PMA mereka. Ketiga daerah tersebut, yakni Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Balikpapan.

Total realisasi investasi PMA sampai dengan triwulan IV atau Desember 2017 diketahui mencapai US$ 1,285 milyar atau sebesar Rp 17,22 triliun, yang tersebar di 10 kabupaten/kota se-Kaltim.

"Balikpapan berada di peringkat ketiga memberikan kontribusi sebesar US$ 171,76 juta atau Rp 2,30 triliun) atau 13,36% yang terdiri atas 132 proyek," jelas Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Diddy Rusdiansyah dihubungi Bisnis belum lama ini.

Ia mengatakan total tenaga kerja yang tersebar di Kabupaten/Kota Kalimantan Timur sebanyak 15.508 orang. Penyerapan tenaga kerja paling besar di Kabupaten Kutai Timur yaitu sebanyak 7.305 orang atau 47,10% dari total penyerapan tenaga kerja Indonesia.

Penyerapan tenaga kerja terdistribusi pada sub sektor pertambangan sebanyak 5.900 orang atau 63,91% dari seluruh jumlah tenaga kerja. Hal ini membuktikan bahwa sub sektor ini masih merupakan penyangga serapan tenaga kerja (labour intensive).

Adapun sektor lain yang juga menyerap banyak tenaga kerja adalah sub sektor tanaman pangan dan perkebunan sebanyak 1.614 orang tenaga kerja atau 17,48% dan sub sektor kehutanan sebanyak 1.434 orang atau 15,53%.

Meminjam data pihaknya, sampai dengan triwulan IV tahun 2017 secara keseluruhan realisasi investasi PMA mencapai US$ 1.285,22 milyar (Rp 17,22 triliun).

Berdasarkan sektor usaha, sub sektor pertambangan mendapatkan tambahan investasi sebesar US$ 900,53 juta (Rp 12,07 triliun) atau sebesar 70,07% dari total realisasi investasi PMA.

Sub sektor lain yang memberikan kontribusi cukup besar bagi investasi adalah tanaman pangan dan perkebunan yaitu sebesar US$ 159,35 juta (Rp 2,14 triliun) atau sebesar 12,40 % dan industri makanan sebesar US$ 72,146 juta (Rp 0,17 triliun) atau 5,61%.

Secara keseluruhan terdapat sekitar 16 sub sektor usaha yang berkontribusi terhadap penambahan nilai investasi PMA pada triwulan IV atau sampai dengan bulan Desember 2017.

Adapun pertumbuhan ekonomi Kaltim sepanjang 2017 lalu diperkirakan mencapai 3,13%. Secara andil sektor pertambahan masih yang terbesar mempengaruhi pertumbuhan ekonomi mengingar harga komoditas batu bara yang terus membaik.

Tahun sebelumnya Pemprov Kaltim melaporkan laju ekonomi Kaltim mengalami pertumbuhan minus.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya