Pebisnis Batubara Diimbau Jaga Harga

Oleh: Fariz Fadhillah 28 Februari 2018 | 21:40 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN— Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) mengimbau pelaku usaha pertambangan batu bara untuk tak serta memacu laju produksi seiring harga komoditas tersebut mengalami peningkatan sebesar US$100 per ton.

Pengusaha wajib wait and see. Sebab Aspindo memperkirakan kondisi ini tak akan bertahan lama. Bisnis menghimpun, impor batu bara China pada Oktober 2017 sempat merosot 24% secara month on month (mom) seiring dengan tingginya persediaan di dalam negeri.

Permintaan ekspor yang menurun itu membuat berkurangnya permintaan dari konsumen luar negeri harus segera disiasati.

"Saat ini jangan hanya mengandalkan pasar luar karena harga cenderung rawan [fluktuatif], pemenuhan kebutuhan domestik bagus sebagai jaminan konsumsi berkelanjutan," jelas Bambang Tjahjono Pelaksana tugas Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo)

kepada Bisnis di Balikpapan, Rabu (28/2). Tantangan industri batu bara kaltim mengalami pelambatan serupa hampir di wilayah Indonesia.

Dia melihat masih ada ibukota provinsi di penjuru Nusantara saat ini mengalami krisis setrum alias biarpet. Kondisi ini wajib dimanfaatkan untuk para pelaku usaha memasok batu bara untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Seksi Produksi dan Penjualan Minerba Dinas ESDM Kaltim mencatat produksi batu bara pada 2017 lalu meningkat dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya. Produksi tahun lalu mencapai 244,5 juta ton. Sedangkan 2016 sebesar 224,7 juta ton dan 2015 sebanyak 237,1 ton.

"Produksi Kaltim terbesar kemudian Kalsel. Kaltim kaya batu bara tapi telat membangun pembangkit listrik. Bangun PLTU butuh 3 tahun. Hasil produksi dipasok ke luar," ujarnya.

Memacu produktifitas kata Bambang bukan semata dari target produksi melainkan memperpanjang umur alat atau maintanance. "Jangan memaksa kinerja alat untuk memacu produksi. Biaya maintanance komponen kedua terbesar dengan range 15-25 persen disusul bahan bakar 30 persen," kata dia.

Terkait ini, Colin Cui General Manager Industrial Lubricants PT Exxon Mobil Lubricants Indonesia mengatakan pertumbuhan industri khususnya pertambangan batu bara saat ini menunjukan prospek cerah.

"Memang [penurunan harga] sempat berdampak tapi tidak terlalu berpengaruh pada bisnis kita karena ditopang sektor manufaktur di pulau Jawa," ujarnya didampingi Meyki Budi Ferdian National Sector Manager dijumpai Bisnis usai pergelaran Seminar bertajuk Efficiemcy for Operational Site di Hotel Swiss Belhotel Balikpapan.

Dia mengatakan keberlangsungan bisnis di sektor industri tak terlepas dari performa mesin. "Pemilihan pelumas yang tepat dapat menunjang kinerja komponen mesin industri demi mencapai efisiensi dan produktifitas bisnis."

Bisnis pelumas kata dia masih bertopang pada pemenuhan sektor

energi (Oli dan gas/pembangkit listrik, produksi mesin, plastik, makanan, pertambangan, dan besi dan baja. Di Kaltim pangsa terbesar Exxon berada di sektor pertambangan batu bara. Adapun di Jawa bertopang pada industri manufaktur, Sumatera industri Palm Oil, dan di Sulawesi untuk industri nikel.

Dengan seminar itu pihaknya berniat melakukan penetrasi pasar Kaltim. 100 perwakilan pelaku industri pertambangan batu bara Kaltim diundang. "Indonesia sebagai great market. kami berniat mengambil kesempatan di tengah pulihnya harga bata baru.

"Sektor pertambangan Kaltim juga memegang peranan penting dalam kinerja Exxon," ujarnya. Namun begitu ia enggan memerinci terkait market share Exxon di Kaltim.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya