Peresmian Direct Call di Kariangau Tekan Biaya Logistik Nasional

Oleh: Fariz Fadhillah 09 April 2018 | 20:40 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN- Kementerian BUMN mendukung langkah PT Pelindo IV (Persero) memperluas pelayanan ekspor langsung melalui internasional direct call, rute Balikpapan–Shanghai di terminal petikemas milik PT Kaltim Kariangau Terminal, Senin (9/4/2018).

Direct call merupakan pelayaran langsung petikemas dari pelabuhan dalam negeri ke pelabuhan tujuan yang ada di luar negeri tanpa singgah di pelabuhan manapun yang ada di dalam negeri.

"Untuk sampai ke Shanghai sebelumnya butuh 28-30 hari sekarang maksimal 9 hari,” kata Deputi Bidang Usaha Konstruksi Sarana dan Prasarana Perhubungan, Ahmad Bambang mewakili Menteri BUMN Rini Soemarno yang berhalangan lantaran mengikuti sidang kabinet.

Direct Call kata dia akan menjadi akses Internasional untuk wilayah Kaltim. “Dari Shanghai kita akan memiliki koneksi lebih ke pasar eropa, korea dan jepang."

Dari pelaksanaan ekspor langsung sejauh ini, pihaknya mencatat adanya sejumlah manfaat nyata.

Antara lain, penurunan biaya dan waktu hingga 50 persen. Kualitas produk ekspor juga akan terjaga seiring kualitas pendingin kontainer minus 20 derajat.

“Pada gilirannya sebagai upaya nyata untuk menekan biaya logistik nasional.”

Soal waktu tempuh ekspor ke China diyakini akan menjadi hanya 16 hari dari semula 24 hari. Ke Jepang menjadi 18 hari dari semula 28 hari, dan ke Korea menjadi 17 hari dari semula 26 hari.

“Biaya per kontainer pun berkurang drastis, dari semula mencapai Rp 4 juta per kontainer menjadi hanya sekitar Rp 792 ribu per kontainer.”

Dia mengatakan masalah logistik menjadi isu utama di level Asean.

Indonesia dilihat belum maju di sisi pengeluaran biaya logistik sebab konektivtas antar daerah/pulau masih terbatas.

Dalam hal ekspor-impor, semisal Balikpapan, harus berhenti dulu di Surabaya, Semarang, dan Jakarta sebelum sampai ke China.

Sebelum beralih berstatus menjadi perdagangan ekspor, ini akan tercatat sebagai perdagangan antar pulau atau domestik.

Barang terlebih dahulu mesti berganti ke kontainer ekspor, kemudian izin, dan waktu pemberangkatan ikut menyesuaikan dengan daerah setempat.

“Ini yang menyebabkan cost menjadi mahal, pengusaha belum lagi harus menginventarisi kembali komoditi milik mereka,” kata dia.

Kementerian, kata Bambang, bertekad melirik kawasan indonesia timur untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Dilaporkan sejumlah proyek strategis telah selasai dan siap beroperasi, seperti; dermaga pelabuhan dan petikemas Ternate, Jayapura, Merauke, Biak dan Ambon.

“Ke depan kami fokus melakukan pengembangan infrastruktur strategis sembari berkoordinasi dengan kementerian terkait. Indonesia timur memiliki potensi di sektor perikanan dan kelautan.”

Dia memandang ini adalah langkah nyata BUMN, Pelindo IV, dalam upaya peningkatan ekonomi, peningkatan ekspor dari Kawasan Indonesia Timur.

Pelaksanaan direct call melalui Pelabuhan Balikpapan telah memberikan stimulus positif bagi perekonomian Kalimantan Timur dan sekitarnya, salah satunya dengan menekan biaya logistik USD300 - 500 per container.

Kementerian BUMN mengimbau pemda ikut menyukseskan program ini demi menjaga kesinambungan dari tahun ke tahun.

“Dalam jangka waktu enam bulan ke depan tentu banyak tantangannya. Untuk itu perlu dukungan. Tidak apa sedikit. Di Makassar dulu 40 kontainer sekarang bisa mencapai 3000 kontainer.”

Pelindo IV juga diminta terus menjaga komitmennya dalam hal pelayanan publik yang berdampak pada penurunan harga logistik, efisiensi waktu, hingga dapat menumbuhkan ekonomi daerah dan nasional.

Sementara itu Direktur Utama PT KKT M Basir mengatakan ekpor perdana 26 Maret silam berjalan mulus menjadi stimulant ekspor kedua dilakukan. Kala itu komoditi andalan Kaltim, yakni Cangkang Sawit serta Plywood berhasil diekspor langsung ke Shanghai.

“Produk Kaltim memang sudah mendapat tempat tersendiri di Shanghai,” ujarnya kepada Bisnis.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya