Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan, Pertamina akan Evaluasi Menyeluruh

Oleh: Fariz Fadillah 13 April 2018 | 14:45 WIB
tumpahan minyak yang terbakar di perairan Teluk Balikpapan, Sabtu (31/3/2018)./Istimewa

Bisnis.com, BALIKPAPAN- PT Pertamina (Persero) bertekad melakukan evaluasi secara menyeluruh atas insiden tumpahan minyak yang terjadi di perairan Teluk Balikpapan 31 Maret 2018.

"Apakah ada evaluasi menyeluruh? pasti ada. Saya rasa bukan cuma Pertamina. Dari bibir pantai 150 meter di luar kewenangan kami," jelas Yudy Nugraha, Region Manajer Komunikasi dan CSR Pertamina Kalimantan saat ditanya media ini soal keamanan pada areal vital pelayaran di jalur pipa milik Pertamina.

Di Perairan Teluk Balikpapan, pipa sepanjang 4,5 kilometer melintas dari Terminal Lawe-Lawe menuju Balikpapan. Terdapat dua pipa penyalur crude oil atau minyak mentah, dan tiga pipa penyalur gas, kata Yudy.

Pipa pengganti 16 inci, kata dia, sudah mengalir dalam kondisi diperbantukan dari Terminal Tanjung ke RU V di Balikpapan. Adapun pipa distribusi sebelumnya diameter 20 inci tebal 12 milimeter berusia 20 meter yang dikatakan bergeser 120 meter maaih akan diperiksa di laboratorium forensik Polri, Surabaya.

"Produk cadangan kita banyak yang sudah diolah, masih bagus sampai penyambungan selesai dilakukan," jelasnya.

Diketahui RU V sebagai penopang produksi 25 persen bahan bakar minyak untuk nasional mengalami penurunan produksi mencapai 180 ribu barel dari 260 ribu barel per hari. Unit Pengolahan Migas ini sedianya dalam upaya perluasan produksi menjadi 360.000 barel per hari. Proyek berdurasi 2 tahun dengan nilai invesati mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp65 triliun saat ini sedang konsen pada tahap clearing lahan.

Yudy memandang masyarakat perlu memandang dari dua sisi atas masalah tumpahan minyak. Dengan kontribusi sebesar itu, 48 persen pertumbuhan ekonomi Balikpapan saat ditopang oleh Pertamina.

"Dari bisnis pengolahan crude oil PBB [Pajak Bumi dan Bangunan] Rp 300 miliar bagi daerah," jelasnya.

Sementara, satu sisi, pihaknya terus berkomitmen menuntaskan permasalahan lingkungan untuk mengembalikan kinerja bisnis seperti semula.

Progres sterilisasi lingkungan perairan dari limbah minyak di Kecamatan Balikpapan Barat, dari empat zona terdampak, dipastikan 90 persen telah dilakukan.

Soal penggantian rugi atas insiden ini pihaknya memastikan asuransi tengah diajukan. Kementerian Kelautan, kata dia, turut dilibatkan dalam penghitungan ganti rugi nelayan. Terhadap korban jiwa, hasil penghitungan sementara Rp 200 juta akan diberikan ke masing-masing pihak korban. Bukan Rp,2,5 juta seperti yang ramai diberitakan sebelumnya, kata Yudy.

"Sebagian [pihak korban] mereka ada yang bisa memahami persoalan ini, ada juga yang tidak," terang dia. Ditanya persiapan menghadapi guguatan, baik perdata ataupun pidana, Yudi mengatakan pihaknya sudah bersiap diri.

"Intinya kita sangat serius melakukan penanganan atas kasus ini."

INVESTIGASI INTERNAL TERUS DILAKUKAN

Direktur Utama Pertamina Massa Manik mengunjungi rumah keluarga korban musibah ceceran minyak Teluk Balikpapan di Kelurahan Baru Ilir Kecamatan Balikpapan Barat, kemarin.

Massa Manik saat bersama keluarga alm. Imam mengungkapkan rasa bela sungkawa dan keprihatinan yang mendalam.

"Kami datang dengan kerendahan hati ingin mengucapkan secara langsung rasa keprihatinan kami atas musibah ini dan tanggung jawab kami untuk keluarga korban akan kami penuhi", ungkapnya.

Almarhum Iman merupakan satu dari lima korban meninggal musibah korban ceceran minyak teluk Balikpapan pada minggu 31 Maret 2018.

Sebagai wujud kepedulian dan kemanusiaan, Pertamina sudah memberikan kepada keluarga korban meninggal santunan dan bantuan dalam bentuk kesempatan kerja bagi keluarga korban.

Selain itu paket bantuan CSR yang terdiri dari Asuransi pendidikan dan kesehatan, serta bantuan dukungan ekonomi dalam bentuk modal kerja.

"Hingga saat ini proses Investigasi musibah ceceran minyak teluk Balikpapan masih terus dilakukan,” ujarnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya