TUMPAHAN MINYAK : Kelompok Besar Pesut Bermigrasi ke Hulu Teluk Balikpapan

Oleh: Fariz Fadhillah 19 April 2018 | 17:59 WIB
TUMPAHAN MINYAK : Kelompok Besar Pesut Bermigrasi ke Hulu Teluk Balikpapan
Peneliti RASI melakukan pengamatan di Teluk Balikpapan./RASI

Bisnis.com, BALIKPAPAN - Sekelompok besar pesut diketahui bermigrasi dari bagian hilir menuju hulu Teluk Balikpapan. Danielle Kreb Manajer Program Ilmiah Yayasan Konservasi RASI memastikan masih adanya penampakan minyak di perairan dan masih menempel pada batang mangrove masih kerap didapati.

Terutama pada bagian barat dan timur di Hulu Teluk Balikpapan, paparan minyak ditemukan masih berada di akar belakang dan dedaunan hutan mangrove.

"Rekomendasi pembersihan yang paling mungkin adalah membiarkan proses alam berjalan dengan sendirinya. Menggunakan campur tangan manusia [membersihkan mangrove] berpotensi abrasi karena struktur tanah akan berubah, dan mangrove akan mati,” jelas peneliti asal Denmark ini.

Pertamina EP Asset V memberikan dukungan berupa penyediaan Oil Spill Dispersant (OSD) dalam penanggulangan sisa ceceran minyak. Danielle menerangkan, penggunaan dispersant berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekosistem mangrove.

Sejumlah penemuan lain, dari penelusuran pihaknya pada pekan lalu, sejumlah mamalia laut bermigrasi dari daerah terdampak dari bagian hilir pascatumpahan minyak terjadi.

Peneliti asal Denmark ini memerinci, 32 ekor pesut ditemukan mengungsi dari bagian hilir menuju hulu. Dua ekor ditemukan di areal Pulau Balang, 14 ekor ditemukan di Pulau Benawa Kecil. Sedangkan 16 ekor ditemukan di kawasan Sungai Riko.

Dia mengatakan pasang tertinggi air laut saat terjadinya tumpahan minyak memungkinkan ceceran menjangkau daerah hilir hingga teluk yang memiliki high conservation value (HCV) atau nilai keanekaragaman hayati yang tinggi ini.

"Paparan terparah ada di kawasan Kariangau, Tanjung Batu, dan Muara Tempadung [hilir]. Pada bagian hulu teluk memang tak separah bagian itu. Kami temukan sejumlah mamalia dilindungi [telah] bermigrarasi," jelasnya saat dihubungi Bisnis.

Sejauh ini pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium air permukaan tengah kedalaman untuk mengetahui tercemar atau tidaknya air di wilayah tersebut pada 11 April lalu.

Uji laboratorium kata dia dilakukan di laboratorium milik Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.

Secara internal, dia menambahkan, hasil pengamatan terbaru terhadap lingkungan khususnya pesut di Teluk Balikpapan telah dilaporkan ke pemerintah daerah.

Di Kariangau, Tanjung Batu, dan Pulau Balang, dari hasil observasi penelitian sebelumnya, yang dilakukan RASI, diketahui bahwa frekuensi terbanyak pemunculan duyung atau dugong adalah di Kariangau.

Di sana, Danielle mengatakan, setiap tahun sebanyak 68.669 ton sedimen terseret ke teluk yang menyebabkan kekeruhan berujung pada penghambatan pertumbuhan rumput laut berfotosintesis.

Selain itu, pembukaan areal hutan mangrove dan formasi hutan pantai untuk pertambakan udang, secara langsung mengakibatkan peningkatan sedimentasi.

Terpisah, Kepala Satuan Kerja Balikpapan, BPSPL Pontianak KKP, Ricky saat dikonfirmasi mengatakan populasi Pesut di Teluk Balikpapan kian menyusut jumlahnya menjadi 60 ekor akibat permasalahan limbah minyak kapal kapal yang lalu lalang setiap harinya.

"Data kami terdapat dua pesut dan dua lumba–lumba selama 2017 lalu yang mati di perairan Teluk Balikapan," jelasnya beberapa waktu lalu.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya