Berinovasi Pada Tanaman Hidroponik di Pulau Terluar

Oleh: Eldwin Sangga (k29) 24 April 2018 | 15:28 WIB
Berinovasi Pada Tanaman Hidroponik di Pulau Terluar
Ilustrasi hidproponik di Pulau Bunyu/Twitter

Bisnis.com, BUNYU - Peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April diperingati Team Ekspedisi Kalimantan Utara (Kaltara) dengan mengangkat sosok-sosok pejuang lingkungan lokal yang berada di Pulau Bunyu, Kaltara.

Ketua Ekspedisi Kaltara M. Abrar Putra Siregar mengatakan sosok-sosok inspirasi yang diangkat adalah orang yang selalu menjaga dan melestarikan bumi yang ada di sekitarnya dan sehari-harinya dalam mengelolah hasil bumi secara sistem tradisional dan organik yang selalu mengedukasikan ke masayarat sekitar.

"Hari Bumi kali ini mengangkan tema Terus Berinovasi Untuk Lingkungan yang Asri. Tema tersebut mengangkat tiga sosok inspirasi dari pulau kecil terluar indonesia yaitu di Pulau Bunyu. Di mana keseharian beliau-beliau lah yang selalu menjadi sorotan masyarakat untuk berbuat dan menjaga bumi agar tetap terjaga keseimbangan ekosistemnya," kata Abrar kepada Bisnis, Senin (23/4/2018).

Dia membeberkan, sosok pertama yang diangkat adalah Suprapto sebagai ketua Bank Sampah Permataku dan Pengurus Pertanian Hidroponik Pulau Bunyu. Suprapto, kata Abrar, seharinya mengkoordinir kegiatan Bank Sampah Permataku dari berbagai ancaman tumpukan sampah yang ada di sekitar lingkungannya. Juga mengelola hasil sampah organik menjadi bahan pembuatan pupuk padat organik.

Selain itu, Suprapto dipercaya mengurus Pertanian Hidroponik dan tidak henti-hentinya selalu mengedukasi pertanian hidroponik melalui program Kampung Hijau yang dilakukan oleh PT. Pertamina EP Asset 5 Bunyu Field.

"Salah satu inovasi yang dilakukan pak Suprapto, yaitu menggantikan nutrisi utama pada larutan hidroponik yaitu nutrisi AB Mixmenjadi nutrisi organik dari bahan baku buah-buahan busuk diolah menjadi nutrisi organik pada larutan hidroponik. Di mana larutan tersebut dapat memperkaya sumber nutrisi makro dan mikro tanaman hidroponik," jelasnya.

Kedua, cetus Abrar, inovasi yang diciptakan M. Lahudin, yakni yang bertani dengan cara sistem pertanian tradisional. Memanfaatkan bahan baku sekitarnya dalam mengelola lahan pertanian miliknya. M. Lahudin juga selalu berinovasi dalam pengembangan teknik budidaya tanaman khususnya pertanian organik beliau telah menjadikan lahan marjinal yang tidak layak untuk bertani menjadi lahan produktif.

"Dan akhirnya beliau telah menghasilkan berbagai tanaman seperti tanaman cabai, labu madu, labu siam, tomat dan lain-lain," ujarnya.

Dia juga berpesan, bila ingin bertani terapkanlah sistem pertanian yang ramah lingkungan agar mikroba atau unsur tanah dalam tanaman tetap terjaga.

Lebih lanjut dia membeberkan, inovasi lain juga diciptakan srikandi dari Pulau Bunyu, yaitu Nani. Nani dikenal selalu semangat ketika melihat potensi lokal yang kurang dimanfaatkan. Nani juga adalah seorang pengembangan usaha UMKM di Pulau Bunyu. Nani, katanya, kerap menjadi pelatih UMKM di daerah Bunyu untuk meningkatkan perekonomian daerah.

"Dengan melalui UMKM yang beliau bentuk dengan berbagai aneka pengolahan makanan olahan dari potensi lokal yang dimiliki di Pulau Bunyu seperti kekayaan lautnya. Salah satu olahan makanan yang menjadi ciri khas dari produk beliau yaitu Empek-Empek Bunyu, Amplang Bunyu dan lain-lain sebaginya," ungkapnya.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya