Batu Bara dan Minyak Sawit Topang Ekspor Balikpapan Triwulan I 2018

Oleh: Fariz Fadhillah 16 Mei 2018 | 09:59 WIB
Ilustrasi: Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (7/3/2018)./ANTARA-Nova Wahyudi

 

Bisnis.com, BALIKPAPAN- Realiasi ekspor Balikpapan pada kuartal pertama 2018 lalu mencapai $746 juta, ditopang komoditas non-migas berupa batu bara dan crude palm oil (CPO).

Masing-masing menyumbang sebesar $578 juta, dan sebesar $147 juta lebih. Adapun sisanya disumbang komoditas lain yaitu Senipah Condensate, Plywood dan Fresh Fish.

"Setiap tahun nilai ekspor melalui Balikpapan tetap tumbuh tak signifikan, meski harga batu bara sempat mengalami penurunan," terang Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Balikpapan, Philipus Rimpa dijumpai Bisnis belum lama ini.

Disebutkan jika ekspor pada 2017 lalu mengalami kenaikan sebesar 0,13% atau sebesar $2,5 miliar dari nilai ekspor 2016 yang sebesar $2,2 miliar

Ke depan, Pemkot Balikpapan mengupayakan peningkatan aktivitas ekspor di tengah kenaikan nilai dolar saat ini. Sejauh ini disebutkan Balikpapan setidaknya telah memiliki 33 pelaku usaha ekspor atau eksportir.

"Naiknya dolar akan berpengaruh pada peningkatan realisasi ekspor, tapi sebaliknya untuk impor. Kita akan usahakan ekspor terus naik,” imbuhnya.

Balikpapan dikenal sebagai daerah yang melarang aktivitas pertambangan baru bara. Meski demikian, letak kota yang strategis serta terhubung langsung dengan alur pelayaran internasional atau ALKI II menjadikan Balikpapan pintu keluar-masuk barang khususnya batu bara dari wilayah Kaltim dan Kaltara.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Yaser Arafat menilai pertumbuhan realisasi ekspor akan terus terjadi seiring dibukanya rute pelayaran internasional langsung atau direct call Balikpapan-Shanghai akhir Maret lalu di TPK Kariangau.

“Saat ini direct call memang belum terasa tapi akhir tahun akan segera terlihat,” jelasnya.

Dia pun meminta dukungan para eksportir jangan hanya mengekspor barang mentah saja guna memaksimalkan layanan itu.

“Infrastruktur [direct call] sudah tersedia. Sumber daya alam kita melimpah. Sekarang tinggal pengusaha saja harus proaktif, ” jelasnya.

Kadin Balikpapan disebutkan saat ini tengah melakukan penjajakan dengan salah satu importir di Hongkong terkait kerja sama ekspor.

Guna menunjang volume ekspor, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan pemerintah provinsi Sulawesi Barat yang dikenal sebagai daerah penghasil cangkang sawit.

Mengingat letak geografis yang berdekatan, Wakil Gubernur Sulbar, sebut Yaser, akan siap memanfaatkan layanan direct call di Balikpapan untuk mengekspor hasil komoditas mereka.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer