Bea Cukai Kalbagtim Dorong Ekspor via Direct Call

Oleh: Fariz Fadhillah 23 Mei 2018 | 16:35 WIB
Bea Cukai/Ilustrasi

Bisnis.com, BALIKPAPAN- Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur mendorong daerah memaksimalkan layanan international direct call guna meningkatkan penerimaan negara sekaligus menekan laju pertumbuhan ekspor.

Satu sisi, momentum politik atau Pilgub Kaltim yang akan dihelat pada bulan depan diperkirakan turutmenurunkan aktifitas ekspor-impor.

Sejauh ini kinerja ekspor melalui rute pelayaran langsung Balikpapan-Shanghai dinilai belum berdampak banyak terhadap penerimaan. Tren kenaikan lebih karena kondisi perekonomian nasional yang mulai membaik.

"Ya, meskipun pelemahan nilai tukar mata uang domestik membawa angin segar bagi ekspor kita, momentum pilkada perlu diwaspadai," jelas Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Bea dan Cukai Kalbagtim Agus Sudarmadi kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Dia menyatakan realisasi penerimaan dari PLB di Kalbagtim umumnya menunjukan kinerja positif. Saat ini sudah terdapat 4 PLB yang 3 di antaranya aktif dan bergerak di sektor migas dan pertambangan

Pihaknya merasa kehadiran Pusat Logistik Berikat (PLB) di sektor perikanan di Kaltara akan dapat menjadi alternatif menunjang kinerja ekspor. PLB diperlukan agar ekspor tidak lagi melalui Tawau di Malaysia. Sejauh ini, pendirian PLB terbentur masalah ketersediaan listrik. Pada sektor perikanan setidaknya dibutuhkan fasilitas pendingin guna menjaga kualitas ikan. "Jika mati listrik ya percuma saja."

Direct call, kata Agus, belum akan berdampak signifikan pada sektor penerimaan. Alasannya, daerah perlu menambah jenis komoditas yang dimuat tak hanya cangkang sawit, plywood, kernel, serabut kelapa, kepiting, atau udang windu.

"Kalau belum banyak dimanfaatkan karena mungkin masih belum ada potensi yang bisa diangkut atau belum bisa memenuhi kuota," terangnya.

Pihaknya melihat Kaltim masih memiliki produksi sektor pertanian dan perikanan yang cukup besar.

Eksportir yang belum memenuhi kouta maksimal akan memilih mengirim atau mengumpulkan melalui daerah lain seperti Surabaya untuk sampai ke negara tujuan. Tak kalah penting, ujarnya, Kaltim perlu mendorong kualitas pengiriman melalui produk siap pakai.

Disebutkan penerimaan Bea Cukai Kalbagtim mencapai 44 persen atau Rp 1,4 triliun per April ini. Naik dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 763 miliar.

Disebutkan total penerimaan hingga April jika dirinci, bea masuk Rp 219,7 miliar dan bea keluar Rp 6,2 miliar, cukai Rp 311 juta. Ditambah dengan pungutan pajak yang masuk Rp 1,22 triliun. Di luar pajak, penerimaan tahun ini sebesar Rp 509,1 miliar atau sudah terealisasi 44,45 persen per April ini. Adapun target tahun lalu Rp 498,1 miliar dan terealisasi Rp 562,9 miliar.

GANDENG 8 PELABUHAN PENGUMPAN

Terpisah, dibukanya layanan ekspor langsung melalui international direct call di Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau Balikpapan diyakini akan ikut serta menggenjot kinerja ekspor daerah.

Diwartakan Bisnis sebelumnya ekspor komoditas barang non-migas dari Kaltim mengalami peningkatan cukup signifikan memasuki pertengahan tahun.

SITC memperkirakan dengan direct call akan membantu menekan biaya logistik, serta waktu pengiriman hingga 50 persen.

"Kita perkiraan dengan adanya direct call di balikpapan akan menurunkan biaya logisik 200-300 $ per kontainer," jelas Jamie Liu Direktur SITC Perwakilan Indonesia kepada Bisnis belum lama ini.

Balikpapan-Shanghai sebelumnya butuh 28-30 hari sekarang maksimal 9 hari. Sedangkan untuk ekspor ke China akan menjadi hanya 16 hari dari semula 24 hari. Ke Jepang menjadi 18 hari dari semula 28 hari, dan ke Korea menjadi 17 hari dari semula 26 hari.

Kapal milik perusahaan pelayaran global tersebut berkapasitas 2.800 Teus dan menargetkan memuat minimal 100 kontainer per pekan.

Sampai sejauh ini volume muatan ekspor dari Balikpapan dan sekitarnya mulai menunjukan pertumbuhan signifikan, walau belum mencapai kouta maksimal yang ditetapkan oleh pihak kapal.

PT KKT, selaku operator pelabuhan di kawasan Teluk Balikpapan itu melihat, volume ekspor kini mencapai 70 kontainer dari semula 40 kontainer pada ekspor perdana akhir Maret 2018 lalu merupakan suatu indikator positif.

Direktur Utama PT KKT M Basir kepada Bisnis sore kemarin yakin, letak Balikpapan berbatasan langsung dengan alur pelayaran internasional atau ALKI II sangat strategis untuk melayani ekspor bagi wilayah Kaltimra dan sekitarnya.

Pertumbuhan volume muatan kini bergantung dari kemampuan daerah-daerah pemasok untuk mengirimkan komoditas siap pakai mereka.

Guna mendorong hal tersebut KKT telah membangun kerja sama dengan delapan pelabuhan feeder. Masing-masing Pelabuhan Samarinda, Tarakan, Tanjung Redeb, Nunukan di Kaltimra, serta Pantoloan dan Toli-Toli di Sulteng. Adapun daerah daerah tadi merupakan daerah yang kaya akan bahan baku.

"Semua menyatakan siap mendukung layanan ekspor langsung melalui Balikpapan dengan memudahkan pengiriman barang dari daerah asal," jelasnya.

Selain itu, pembangunan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda yang diperkirakan rampung akhir tahun ini akan meningkatkan aksesibilitas antara pelabuhan dengan daerah sekitar.

Perlu diketahui perlu waktu tak sebentar bagi pemerintah daerah untuk mengurus izin dan meyakinkan kapal international untuk singgah di TPK Kariangau.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya