Pontianak Diguyur Hujan Es, Ini Penjelasan BMKG

Oleh: Caroline 09 Agustus 2018 | 01:17 WIB
Pontianak Diguyur Hujan Es, Ini Penjelasan BMKG
Caption: Seorang pegawai AirNav sedang mengamati pergerakan pesawat di Air Traffic Controller Working Positions Bandara Supandio Pontianak/Bisnis.com-Rio Sandy Pradana.

Bisnis.com, Pontianak - Angin kencang disertai hujan es terjadi di Pontianak. Kejadian heboh ini berlangsung selama tujuh menit sekitar pukul 13.22 Rabu (8/8/2018).

Dari kejadian tak biasa ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan keterangan dan analisanya.

Sutikno, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, mengatakan terdapat awan yang sangat kuat yang diindikasikan sebagai hujan es  di Kota Pontianak sekitar pukul 13.22 WIB.  

"Fenomena hujan es/hail ini merupakan fenomena cuaca alamiah yg biasa terjadi. Kejadian hujan lebat/es disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya atau pada saat terjadi pemanasan yang sangat kuat akibat beberapa hari tidak hujan," jelasnya Rabu (8/8/2018). 

Menurut dia, hujan itu terbentuk dari awan cumulonimbus (cb) yang diawalnya hanya awan cumulus. Ia kemudian menjelaskan indikasi dan kronologis akan terjadinya hujan es. 

Biasanya satu hari sebelumnya, udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Udara panas dan gerah ini diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%).

"Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis - lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu - abu menjulang tinggi seperti bunga kol. Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu - abu / hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus)," jelasnya.

Selanjutnya, awan tersebut berubah warna dengan cepat menjadi abu - abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus). Setelah itu, pepohonan disekitar akan bergoyang cepat.

"Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba - tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita," ujarnya.

Hal tersebut lumrah terjadi jika 1 - 3 hari berturut - turut tidak ada hujan pada musim transisi atau pancaroba. Maka dari itu, potensi hujan lebat yang pertama kali turun akan wadiikuti angin kencang, baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

"Tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0.5 - 1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda - tandanya dengan tingkat keakuratan lebih dari 50 %. Kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama," tukasnya. 

 

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya