Pengembang Perumahan Bersubsidi Terimbas Penguatan Dolar

Oleh: Arief Rahman 14 September 2018 | 13:06 WIB
Pengembang Perumahan Bersubsidi Terimbas Penguatan Dolar
Perumahan bersubsidi yang ditawarkan pengembang./Antara-Arief Rahman


Bisnis.com, BANJARMASIN – Pengembang perumahan bersubsidi di Banjarmasin menghadapi kenaikan biaya pembangunan seiring pergerakan harga bangunan yang terimbas penguatan dolar.

"Baik itu semen, keramik hingga beberapa aksesoris rumah sudah naik dari 5-10 persen. Kenaikan ini tentunya membuat biaya pembangunan rumah bersubsidi menjadi membengkak," kata M Fazrin, Wakil Direktur PT Awang Sejahtera Permai, Jumat (14/9/2018).

Kenaikan harga bahan bangunan sendiri tidak serta merta membuat pihaknya bisa menaikkan harga jual. Hal itu mengingat harga jual perumahan bersubsidi sudah diatur oleh Pemerintah. Jadi pilihannya pengembang bersubsidi terpaksa harus mengurangi keuntungan.

"Untuk sekarang memang tidak terlalu besar kerugian yang diterima, karena sebagian besar bahan bangunan masih kita ambil dari stok lama yang ada di gudang. Namun kalau stok lama habis terpaksa kita harus membeli bahan bangunan dengan harga sekarang dengan jumlah besar," tambahnya.

Menurutnya penguatan dolar berbarengan dengan lemahnya daya beli masyarakat selama 1-2 bulan terakhir membuat penjualan semakin berat.

"Kalau dulunya kita bisa closing rumah bersubsidi rata-rata 1-2 unit perhari, maka kini setelah 2-3 hari baru 1-2 unit bisa kita jual," ungkapnya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Kalsel H Muklis juga mengakui cukup sulitnya menjual perumahan subsidi di Banua sekarang di tengah turunnya daya beli masyarakat.

Jadi ketimbang berekspansi untuk membuka lahan perumahan baru, sekarang ini pihaknya lebih banyak memaksimalkan penjualan perumahan di kawasan lama yang belum 100 persen terjual unitnya.

"Kita kini lebih banyak menjual stok lama saja. Kecuali lahan yang lama stoknya sudah hampir habis, baru kita berekspansi. Sebab kalau bangun terus perumahan baru namun yang beli tidak ada, banyak sekali modal yang jadinya tertahan," pungkasnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya