Cuan di Kelas Menengah Atas

Kopi asli Indonesia dengan kualitas terbaik sangat eksklusif. Perlu cara untuk memperluas kesempatan masyarakat untuk bisa menikmati olahan kopi Nusantara.
Nurhadi Pratomo | 12 Maret 2017 07:15 WIB
Kopi - smokeybarn.co.uk

Kopi asli Indonesia dengan kualitas terbaik sangat eksklusif. Perlu cara untuk memperluas kesempatan masyarakat untuk bisa menikmati olahan kopi Nusantara.

Dengan demikian, akan tercipta cuan lebih banyak bagi para pebisnisnya. Menurut Wakil Ketua Asosiasi Specialty Kopi Indonesia Daroe Handojo, hanya 5% orang yang sanggup membeli kopi dengan kualitas terbaik. Eksklusifitas ini pulalah yang kerap menghambat orang untuk bisa menikmati olahan kopi Nusantara.

Sebetulnya, melalui proses pengolahannya, produk kopi dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan kualitas (grade). Tentu, masingmasing tingkatan memiliki sasaran konsumen berbeda. “Ibarat ingin makan daging, kita bisa mencari dari kelas sate hingga wagyu. Tentu rasanya masing-masing berbeda,” ujar Daroe

Menurut Daroe, kopi yang dihasilkan dengan kualitas nomor wahid dari suatu perkebunan itu jumlahnya tak mencapai 10%. Artinya, masih banyak sisa kopi dengan tingkat kualitas lainnya yang dapat menjadi alternatif konsumsi bagi masyarakat.

Masalahnya, kopi-kopi di bawah grade satu langsung dipatok dengan harga murah karena dianggap tidak memiliki permintaan pasar. Kondisi tersebut sejatinya memberatkan petani. “Nah ini sekarang kita bikin agar grade dua bisa ada yang menampung. Kopi yang secara fisik tidak menarik tetapi rasanya enak,” ujar Daroe. Dia menegaskan kopi dengan grade dua menyimpan peluang untuk dipasarkan.

Hal itu dinilainya sebagai langkah pengenal masyarakat terhadap cita rasa kopi. Jika sudah mengenal rasa, maka masyarakat akan mulai mencari kualitas lebih tinggi. Akhirnya, konsumsi kopi pun akan terangkat. Dia mengungkapkan adanya kecenderungan pascapameran, para calon konsumen kebingungan ketika akan membeli produk kopi.

“Biasanya setelah lihat ada kopi enak di pameran mereka takut untuk masuk ke kedai kopi. Mereka khawatir dan bingung memesan jenis kopi.” Oleh karena itu, perlu membudayakan ngopi dengan benar di tingkat masyarakat menengah ke bawah. Hal itu akan berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan mengolah biji kopi.

MENENGAH ATAS

Menurutnya, saat ini bisnis kedai kopi masih didominasi kelas menengah ke atas. Kedai kopi di dalam negeri pun terus bertambah. Sayangnya, banyak kedai di berguguran di tengah perjalanan, akibat ketidakmampuan melihat pasar dan konsep yang kurang kuat.

“Jangan memulai bisnis kedai kopi dengan memaksakan modal yang terlalu besar. Harus disesuaikan dengan kemampuan,” ujar Daroe.

Dia menganjurkan mereka yang ingin memulai kedai kopi untuk segmen menengah ke bawah perlu melakukan riset pasar. Harus diperhatikan modal yang digelontorkan apakah nantinya bisa disesuaikan dengan produktifitas

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top