KINERJA BUMD DKI: Misi Baru Manajemen Bangkitkan Jaktour

Trianto Sutopo, Direktur Keuangan PT Jakarta Tourisindo (Jaktour) langsung bergegas menuju lokasi parkir DPRD DKI setelah mempresentasikan kinerja perseroan di hadapan Komisi B DPRD DKI, Selasa (30/5).
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 02 Juni 2017  |  02:00 WIB
KINERJA BUMD DKI: Misi Baru Manajemen Bangkitkan Jaktour
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat

Trianto dan Achmad Mustopa, Direktur Operasional Jaktour baru saja 'diceramahi' oleh Komisi B DPRD DKI terkait dengan kondisi perseroan yang terus merugi beberapa tahun belakangan ini. Sambil terus berjalan menunggu mobilnya tiba di area lobi Gedung DPRD, Trianto tak terlalu banyak bicara.

Dia hanya menyampaikan beberapa patah kata yang akan dikerjakan perseroan ke depan. "Kami akan terus kembangkan bisnis ini. Secara internal kami akan perbaiki alat produksi agar bisa lebih bersaing," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (30/5).

Dia menambahkan secara eksternal perseroan juga akan mencoba membidik peluang bisnis baru agar Jaktour bisa berkembang dan memiliki usaha lain untuk menambah pundi-pundi pendapatan. Dengan demikian, bisnis yang dikembangkan Jaktour ke depan tidak hanya fokus di perhotelan semata. Manajemen melirik sektor-sektor lainnya yang bisa menjadi potensi meningkatkan pendapatan.

Dalam laporan keuangan Jaktour 2015 dan 2016 yang telah diaudit oleh auditor independen, diketahui pendapatan perseroan terus mengalami penurunan. Pada 2016, pendapatan usaha Jaktour mencapai Rp108,52 miliar atau anjlok dari tahun 2015 yang mencapai Rp126,26 miliar. Sementara itu, laba kotor pada 2016 mencapai Rp58,37 miliar atau terjun bebas dari Rp73,35 miliar pada 2015.

Penurunan pendapatan tersebut berdampak buruk terhadap kinerja perseroan sehingga mencatatkan rugi bersih pada 2016 mencapai Rp16,51 miliar atau lebih tinggi kerugiannya dibandingkan pada 2015 yang mencapai Rp1,34 miliar.

Anggota Komisi B DPRD DKI Prabowo Soenirman menuturkan pihaknya mengancam akan mendorong eksekutif untuk memecat jajaran direksi dan komisaris Jaktour karena dinilai tidak bisa membuat perseroan untung. Menurutnya, kinerja Jaktour pada 2016 merupakan kinerja yang paling buruk selama perseroan berdiri pada 2004 lalu. Sebab, kata dia, pada tahun-tahun sebelumnya, Jaktour kerap menorehkan laba yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. "Untuk menjaga kinerja kami minta audit. Kalau hasilnya memang tidak bisa bekerja, kami minta berhentikan direksi termasuk komisarisnya," paparnya.

Yurianto, Kepala Badan Pengawas Badan Usaha Milik Daerah (BP BUMD) DKI meminta Komisi B DPRD DKI untuk bersabar dalam memberikan keputusan terkait dengan kondisi Jaktour.

BENAHI KINERJA
Dia mengatakan akan mengambil sikap untuk membenahi kinerja Jaktour agar bisa menjadi perusahaan milik daerah yang untung dan bisa berkontribusi terhadap pemerintah daerah dan masyarakatnya Jakarta. "Meski Jaktour terus merugi, tapi kami harus bijak dalam mengambil langkah, termasuk audit secara keseluruhan mulai dari SDM, evaluasi hingga mungkin perombakan."

Dia menuturkan pihaknya telah menerapkan sistem key performance index (KPI) kepada seluruh pejabat di BUMD DKI. Dengan demikian pihaknya bisa memantau kinerja BUMD di Jakarta. Dihubungi secara terpisah, Presiden Direktur Jakarta Tourisindo Emeraldo Parengkuan membenarkan kinerja perseroan terus menerus rugi dalam beberapa tahun ini.
Dia mengatakan, sebagai orang baru yang menjabat Presiden Direktur, dia mengklaim tengah membenahi perseroan secara perlahan untuk mengembalikan Jaktour kembali untung.

Emeraldo menjelaskan beberapa faktor kerugian yang terus dialami Jaktour antara lain berkurangnya tingkat hunian dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) sejak 2015 dan 2016. Menurutnya, okupansi jaringan hotel yang dimiliki Jaktour sebagian besar disumbang dari kalangan PNS dan pegawai pemerintahan lainnya.  "Tapi sejak ada kebijakan PNS dilarang rapat di hotel, okupansi kami langsung anjlok," paparnya.

Dia menuturkan saat ini Jaktour tengah menerapkan strategi untuk membidik pangsa pasar baru selain kalangan PNS dan pegawai pemerintahan, yakni menggaet para tamu dari kalangan korporasi. Namun, lanjutnya, membidik okupansi dari korporasi harus dibarengi dengan tingkat pelayanan dan kondisi bangunan yang harus bersaing dengan hotel-hotel milik swasta lainnya. Oleh karena itu pihaknya tengah meremajakan 258 kamar yang dimiliki. Saat ini baru 30 kamar yang berhasil diremajakan dengan anggaran pribadi perusahaan. "30 kamar saja sudah habis anggaran Rp3 miliar sementara sejak beberapa tahun kami tidak mendapatkan penyertaan modal," paparnya.

Emeraldo optimistis, kinerja Jaktour ke depan akan lebih baik dan mampu menarik untung seperti sebelumnya seiring secara perlahan telah dilakukan peremajaan dan strategi yang dilakukan perseroan.  Untuk tahun ini, kata dia, Jaktour menargetkan pendapatan mencapai Rp138 miliar dengan laba kotor sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan mencapai Rp26,3 miliar. Adapun, jaringan hotel yang dimiliki Jaktour antara lain Grand Cempaka Business Hotel Jakarta Pusat, Grand Cempaka Resort & Convention Center Bogor, C'One Hotel Cempaka Putih, C'One Hotel Pulomas, Jakarta Timur, d'Arcici Hotel Plumpang Jakarta Utara, dArcici Hotel Sunter Jakarta Utara dan d'Arcici Hotel Cempaka Putih Jakarta Pusat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhotelan, bumd dki, jaktour

Editor : Roni Yunianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top