SENI RUPA : Wayang Era Sekarang

Sampai kapanpun wayang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Jawa. Kisah yang digelar dalam jagat pakeliran mengungkapkan perilaku watak manusia dalam perjalanannya mencapai tujuan hidup. Pemahaman terhadap cerita itu tidak semata-mata dilakukan dengan pikiran melainkan dengan seluruh cipta, rasa, karsa, tergantung kepada kedewasaan setiap individu.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 02 Desember 2017  |  02:00 WIB

Sampai kapanpun wayang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Jawa. Kisah yang digelar dalam jagat pakeliran mengungkapkan perilaku watak manusia dalam perjalanannya mencapai tujuan hidup. Pemahaman terhadap cerita itu tidak semata-mata dilakukan dengan pikiran melainkan dengan seluruh cipta, rasa, karsa, tergantung kepada kedewasaan setiap individu.

Masyarakat Jawa gemar mengidentifikasikan diri dengan tokoh wayang tertentu dalam melakukan perbuatan sehari-hari. Besarnya peran wayang dalam kehidupan orang Jawa, maka tidaklah berlebihan jika wayang menjadi salah satu identitas dari manusia Jawa.

Pentingnya arti wayang mendorong 17 seniman yang juga dosen dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara Jakarta untuk memamerkan 56 karya dalam pameran bertajuk nDalang di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki Jakarta, belum lama ini.

Pameran yang menyertakan seniman kontemporer Heri Dono sebagai perupa tamu ini berupaya untuk menampilkan kebudayaan lokal yang semakin tersisih dengan derasnya serbuan budaya asing ke Indonesia. 17 seniman menggambarkan wayang pada zaman sekarang ini.

Penggagas utama pameran Ananta O’Edan mengatakan, proses persiapan pameran dilakukan selama setahun. Kurasi karya yang dilakukan bersama dengan kurator Kuss Indarto dilakukan secara intens dengan tujuan untuk memberikan pameran yang berkualitas kepada para pencinta seni.

“Awalnya kami hanya ingin membuat pameran karya di atas kertas dengan pensil saja, tetapi setelah diskusi [dengan kurator] kami berpikir untuk tidak membatasi karya. Akhirnya muncul beragam karya di sini mulai dari instalasi, lukisan, hingga digital painting,” tuturnya.

Ananta mengatakan, diskursus mengenai wayang dan dalang tidak akan pernah selesai dilakukan. Setiap seniman memiliki penafsiran tersendiri yang diejawantahkan melalui karya. Ananta dalam pameran ini memamerkan karya berjudul Bertaroeng (cat minyak pada kanvas, 200x300 cm). Lukisan ini menggambarkan dua tokoh wayang yakni Hanoman dan Cakil yang berbusana seperti petinju. Karya ini dibuat sebagai kritis atas manuver yang dilakukan para politikus di negeri ini.

Perupa tamu Heri Dono memamerkan empat wayang kulit dengan wajah tokoh politik dunia, terselip wayang yang diberi nama bidadari.

Keterlibatan Heri Dono dalam pameran ini tidak lepas dari peran kurator untuk menampilkan karya wayang sang seniman. Selama ini, selain membuat karya lukis, Heri Dono dikenal sebagai perupa yang juga membuat tokoh wayang sesuai dengan tafsirnya sendiri.

“Awalnya kami bilang ke Mas Kuss [Kuss Indarto], ingin ada Heri Dono juga. Mengingat karena karya-karyanya juga banyak eksplorasi dunia wayang. Setelah dikomunikasikan, rupanya jadwalnya cocok, akhirnya kesampaian bisa pameran bersama Heri Dono,” katanya.

Dalam pameran ini juga disertakan karya seniman Andre Random yang menyeret wayang pada urusan politik gender di Indonesia. Andre Random menampilkan karya lukis digital berukuran 1000 x 5500 pixel dengan judul Shinta VS Rahwana.

Dengan perspektif teori parallel universe, dia berusaha menggambarkan alternatif akhiran bagi cerita Ramayana.

Dalam cerita aslinya, Shinta yang diculik Rahwana menunggu diselamatkan oleh Rama. Oleh Andre, Shinta justru melawan Rahwana sendirian tanpa harus menunggu kedatangan Rama. “Inikan parallel universe, ya mencoba menawarkan alternate ending. Saya pikir, saat ini perempuan tidak lagi sosok yang lemah di mata masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, perupa Untung Saryanto membawa wayang ke dalam pandangan yang lebih personal. Karyanya yang diberi judul Bojoku Dadi Wayang. Karya ini terdiri dari 15 lukisan dengan objek yang terinspirasi dari istrinya.

“Saya mencari karakter-karakter perempuan di dunia wayang yang paling bisa menggambarkan istri saya sebagai ibu rumah tangga. Bagi saya, menjadi ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan terberat dan mulia. Sayangnya, banyak orang menyepelekan hal ini,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wayang, jawa, seniman

Editor : Diena Lestari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup