KONGLOMERASI : Kutukan Generasi Ketiga...

Generasi ketiga perusahaan keluarga boleh jadi tinggal menikmati pencapaian yang dibangun oleh pendahulunya. Seolah hidupnya tidak perlu bersusah payah karena semua sudah tersedia. Tidak seperti ayah atau kakeknya yang berjibaku membangun perusahaan.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 09 Desember 2017  |  02:00 WIB

Generasi ketiga perusahaan keluarga boleh jadi tinggal menikmati pencapaian yang dibangun oleh pendahulunya. Seolah hidupnya tidak perlu bersusah payah karena semua sudah tersedia. Tidak seperti ayah atau kakeknya yang berjibaku membangun perusahaan.

Tetapi jangan lupa, generasi ini juga memiliki tanggungjawab besar karena harus menjaga keberlanjutan perusahaan keluarganya. Mereka justru harus lebih waspada. Apalagi ada anggapan atau mitos bisnis keluarga rentan hancur di generasi ketiga.

Mitos ini disadari betul oleh Victor R. Hartono. Dia adalah generasi ketiga keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum. Ayahnya bos Grup Djarum, Robert Budi Hartono. Sedangkan kakeknya, Oei Wie Gwan, pendiri perusahaan rokok Djarum.

Victor, sebagai generasi ketiga, mengemban tugas yang tidak kecil. Apalagi bisnis keluarganya makin menggurita. Nama ayahnya rajin bertengger di daftar deretan orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes.

Baru-baru ini, Robert Budi Hartono berada di posisi ke-140 orang terkaya di dunia dengan nilai kekayaan per 12 Juni 2017 mencapai US$11,7 miliar setara Rp152 triliun.

“Dari kecil saya sudah tahu [mitos] kutukan generasi ketiga akan hancur," ujarnya dengan santai.

Sebaliknya, Victor ingin mematahkan mitos yang berkembang itu. Dia menjadikan anggapan atau mitos itu sebagai misi penting dalam hidupnya. Caranya bagaimana menjaga perusahaan keluarganya ini tetap langgeng.

“Pokoknya [kalau bisa] hancurnya tidak di generasi saya, ha... ha...ha...,” ujarnya, di sela-sela acara peluncuran panduan filantropi, pekan ini.

Strategi pun sudah dirancang untuk menangkis ancaman tersebut. Dia mengatakan, strategi ini bukanlah hal baru melainkan juga diterapkan pada perusahaan-perusahaan keluarga lain. Jurus tersebut adalah menyiapkan generasi-generasi penerus dan membentuk struktur bisnis keluarga.

Victor mengatakan, dari dua cara itu, pembentukan struktur adalah hal terpenting dan tidak dapat ditawar lagi. Struktur ‘pemerintahan’ ini sebaik mungkin dapat diterima oleh semua anggota keluarga lainnya sehingga tidak memunculkan perselisihan.

Lebih spesifik lagi Victor mengistilahkan struktur itu dengan sebutan konsorsium para sepupu. Isinya adalah anggota keluarga yang memiliki perhatian serius pada pengembangan bisnis keluarga. Jumlah anggotanya biasanya ganjil untuk memudahkan dalam pengambilan keputusan.

Selanjutnya konsorsium ini akan membahas isu-isu strategis dalam perusahaan keluarga. Mau diarahkan kemana perusahaan itu, konsorsiumlah yang membahasnya. Dengan begitu, perusahaan keluarga akan berjalan lebih terarah.

“Contohnya, kami mau investasi di satu bidang [dirundingkan di dalam konsorisum]. Jika hasilnya tidak disetujui, ya sudah tidak usah investasi. Konsorsium inilah yang akan membawa hal-hal strategis secara bersama,” tuturnya.

Saking pentingnya konsorsium sepupu ini, sebisa mungkin tidak didelegasikan ke orang lain tetapi anggota keluarga yang harus mengisinya. Sebab, mereka yang lebih memahami kondisi keluarga.

Bukan hanya itu, konsorsium juga harus memastikan bila ada anggota keluarga yang tak berminat berbisnis maka dipersilahkan untuk keluar. Tujuannya supaya, anggota keluarga itu tidak mengganggu internal konsorsium. Di lain sisi hal ini dibutuhkan agar bisnis keluarga fokus berjalan tanpa ada gangguan dari dalam.

Terkait hal itu, Victor mencontohkan, Bill Gates. Keluarga Gates merupakan pebisnis bank. Namun, dia tidak tertarik bekerja sebagai bankir sehingga memilih membangun Microsoft dan membiarkan keluarganya fokus dengan bisnis bank-nya.

"Hal-hal seperti ini mesti diatur di dalam keluarga."

Mewakili generasi kedua Keluarga Ciputra, Harun Hajadi, Managing Director Ciputra Group, yang juga suami dari Junita Ciputra, mengatakan tidak ada upaya khusus yang dilakukan Ciputra Group bagi generasi ketiganya, selain tentu memastikan generasi ketiga memperoleh pendidikan terbaik untuk melanjutkan bisnis.

“Yang penting harus profesional, ikuti aturan yang ada. Kalau itu saja sudah kuat, pasti sudah beres. Kalau ikuti aturan saja tidak bisa, ya pasti tidak bisa,” ungkapnya.

Harus mengatakan, ada tiga nilai yang ditekankan Ciputra kepada generasi ketiga, yaitu integritas, profesionalisme, dan jiwa entrepreneur.

Interitas menjadi nilai utama yang harus dipegang teguh. Nilai ini mencakup kejujuran dan komitmen untuk menjalankan bisnis dengan transparan serta menjunjung prinsip good corporate governance.

Profesionalitas artinya mencurahkan seluruh daya upaya dan potensi untuk kemajuan perusahaan dan bukan untuk hal yang lain. Generasi penerus bisnis Ciputra tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan perusahaan.

Sementara itu, semangat entrepreneur artinya berorientasi pada inovasi, penciptaan ide-ide baru, cara baru dalam berbisnis, produk baru, dan berwawasan jangka panjang.

“Kalau itu semua jalan, pasti aman,” katanya.

//KEDERMAWANAN//

Lebih jauh, di tengah upayanya menangkis mitos kutukan generasi ketiga, Victor R. Hartono tidak melupakan prinsip-prinsip hidupnya. Dia mengatakan, ada banyak prinsip hidup yang selalu dipegangnya. Prinsip hidup inilah yang membawanya pada posisi sekarang. Dia mewakili prinsip-prinsip hidupnya itu dalam satu kalimat.

“Kita mesti memperlakukan orang lain seperti kita mau diri kita diperlakukan,” tutur Presiden Direktur Djarum Foundation tersebut.

Prinsip hidup ini seakan selaras dengan kegiatan filantropi yang dilakukan oleh Victor dengan Djarum Foundation-nya maupun Ketua Asia Philanthropy Circle. Dalam kegiatan filantropi ini, Victor berfokus pada pengembangan di berbagai sektor seperti pendidikan. Dia merasa bertanggungjawab untuk turut serta membangun bangsa ini.

“Saya tuh lebih banyak berkontribusi di Kudus. Kami ingin bangun kabupaten kami.”

Meskipun begitu Victor selektif dalam berfilantropi. Dia akan sesusaikan dengan passion-nya yaitu di bidang pendidikan. Spesifiknya lagi mengembangkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu contoh suksesnya adalah pengembangan SMK Animasi di Kudus. Sekolah itu difasilitasi perangkat pendukung dan menghubungkannya dengan industri animasi.

“Kalau disuruh yang lain saya tidak bisa. Passion saya di situ [SMK],” tuturnya.

Victor mengatakan, upaya tersebut dilakukan supaya kontribusinya tetap lestari. Melalui cara itu SMK ini akan tetap memanfaatkan hal itu ke depannya sekalipun pihaknya sudah tidak ada.

“Kalau memang sekolah yang kami bantu bagus, silahkan diadaptasi oleh Pemerintah untuk diaplikasikan ke sekolah-sekolah lain,” ujarnya.

Dia mengungkapkan salah satu aspek yang saat ini patut mendapat perhatian filantropi adalah pendidikan. Pasalnya, pendidikan di Indonesia masih memerlukan perbaikan di berbagai aspek. Namun, perbaikan ini tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah melainkan juga perlu peran serta pegiat filantropi.

“Yuk filantropis membantu meningkatkan kualitas pendidikan di wilayahnya masing-masing.” (Emanuel B. Caesario)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pengusaha, konglomerasi

Editor : Gajah Kusumo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top