Transportasi Jadi Kontributor Terbesar Inflasi Kaltim

Inflasi Kalimantan Timur tercatat sebesar 0,15% pada Agustus 2018, lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 0,92%.
Sophia Andayani | 04 September 2018 08:51 WIB
Pesawat berada di apron Bandara Sepinggan, Balikpapan, baru baru ini. - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, BALIKPAPAN -- Inflasi Kalimantan Timur tercatat sebesar 0,15% pada Agustus 2018, lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 0,92%.

Namun, capaian ini masih lebih tinggi dibandingkan posisi nasional yang tercatat deflasi 0,05%.

Pada Agustus 2018, inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) masih disebabkan oleh kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami peningkatan sebesar 1,07% dan memberikan andil 0,19%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim Muhamad Nur mengatakan inflasi tahunan provinsi ini sebesar 3,87% pada Agustus 2018, sedangkan inflasi tahun kalendernya 3,19%. Tingkat inflasi tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Juli 2018 yang sebesar 3,42%.

"Berdasarkan komoditasnya, inflasi Kaltim pada Agustus 2018 disebabkan oleh inflasi angkutan udara sebesar 4,13%. Komoditas tersebut memberi andil sebesar 0,11% terhadap keseluruhan inflasi Kaltim," jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2018).

Nur menegaskan kebutuhan penggunaan angkutan udara Kaltim yang masih tinggi menjadi penyebab utama besarnya andil dari komponen ini. Komoditas lain yang juga mencatatkan inflasi adalah sepeda motor.

"Pada Agustus 2018, sepeda motor mengalami inflasi sebesar 2,93% dan memberi andil 0,04%. Inflasi komoditas sepeda motor disebabkan oleh peningkatan harga oleh salah satu produsen motor utama," terangnya.

Berdasarkan kota pembentuknya, Samarinda mengalami inflasi sebesar 0,28%, disebabkan oleh inflasi sepeda motor dan minyak. Di sisi lain, Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,02% akibat penurunan harga ikan layang/benggol, tomat sayur, dan sejumlah bahan makanan lainnya.

BI Kaltim menambahkan sejumlah kegiatan telah dilakukan guna mengantispasi kenaikan harga yang berkelanjutan, seperti operasi pasar dan inspeksi mendadak ke pasar tradisional maupun modern serta memantau ketersediaan stok di pasar induk dan distributor utama.

Hal tersebut dimaksudkan untuk memantau pergerakan harga secara langsung dan memastikan ketersediaan stok di masyarakat. BI secara konsisten akan terus melakukan asesmen terkait perkembangan perekonomian dan inflasi Kaltim terkini guna menuju sasaran inflasi akhir tahun sebesar 3,5% plus minus 1%.

Tag : Inflasi, kaltim
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top