Realisasi Investasi Kaltim Triwulan IV/2018 Tumbuh 5,14%

Realisasi Januari-Desember 2018 telah mencapai Rp33,81 triliun, dengan rincian Rp25,94 triliun untuk PMDN dan Rp7,87 triliun untuk PMA.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 12 Maret 2019 16:10 WIB
Tambang mineral - Antara

Bisnis.com, SAMARINDA – Realisasi investasi pada triwulan IV/2018 Provinsi Kalimantan Timur mencapai Rp8,48 triliun dengan rincian penanaman modal dalam negeri Rp5,72 triliun dan penanaman modal asing Rp2,76 triliun. Realisasi tersebut mengalami pertumbuhan 5,14% dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu Provinsi Kalimantan Timur Abdullah Sani mengatakan realisasi Januari-Desember 2018 telah mencapai Rp33,81 triliun, dengan rincian Rp25,94 triliun untuk PMDN dan Rp7,87 triliun untuk PMA.

“Jika dibandingkan dengan target realisasi investasi tahun ini yang sebesar Rp38,60 triliun maka mencapai 87,59%,” ujar Abdullah melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Selasa (12/3/2019).

Dari realisasi PMDN Rp25,94 triliun dengan total proyek 520 paket, lokasi yang paling banyak menerima pemasukan investasi adalah Kabupaten Paser sebesar Rp7,94 triliun atau sebesar 30,33% dari seluruh realisasi PMDN.

Peringkat kedua berlokasi di Kabupaten Kutai Kertanegara Rp5,42 triliun atau setara dengan 20,88%. Peringkat ketiga Kabupaten Berau Rp4,12 triliun, atau 15,88%. Daerah lain di Kaltim hanya berkontribusi pada kisaran 11,58% hingga 0,01%.

Adapun serapan tenaga kerja periode Januari 2018 – Desember 2018 sebanyak 12.935 orang, meliputi Kabupaten Kutai Kertanegara 2.887 orang, Berau 2.419 orang, Kabupetan Kutai Timur 2.293 orang, serta Kabupaten Paser sebanyak 1.843 orang.

Subsektor tanaman pangan dan perkebunan menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu 4.601 orang, disusul subsektor pertambangan sebanyak 3.568 orang, dan subsektor industri makanan yang menyerap 1.454 orang.

Sedangkan nilai kontribusi paling besar terhadap PMDN sepanjang 2018 adalah sektor pertambangan yang mengalami penambahan Rp12,56 triliun dan memberi kontribusi terbesar sekitar 48,41%.

Posisi kedua adalah sektor tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp3,75 triliun, atau setara dengan 14,44%. Sementara posisi ketiga adalah sektor konstruksi dengan penambahan realiasi Rp3,20 triliun atau 12,35%.

“Adapun kontribusi subsektor lain yaitu pada kisaran 9,87% hingga 0,03%,” sambungnya.

Abdullah menyebut jika dibandingkan triwulan IV/2017, pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan IV/2018 ini masih mengalami kenaikan 5,14%. Sementara jika dibandingkan dengan triwulan III/2018, pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan IV/2018 tumbuh 4,16%.

Abdullah Sani menyebut kondisi ini berkorelasi positif terhadap realisasi investasi di triwulan IV khususnya untuk penanaman modal asing (PMA).

KONTRIBUSI PMA

Realisasi PMA periode Januari 2018 – Desember 2018 mencapai US$ 587,50 juta atau Rp7,87 triliun dengan jumlah proyek 513 paket. Semua proyek itu tersebut sebaran di 10 kabupaten atau kota.

Abdullah menyatakan Kabupaten Kutai Timur berkontribusi paling besar dengan nilai US$225,67 juta atau setara dengan Rp3,02 triliun atau 38,41% dari total realisasi PMA.

Terbesar kedua adalah Kota Samarinda dengan nilai US$102,10 juta setara dengan Rp1,37 triliun atau 17,38%. Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi kontibutor ketiga dengan nilai US$91,44 juta atau setara dengan Rp1,22 triliun alias 17,38%.

“Adapun kabupaten atau kota lain berkontribusi pada kisaran 9,32% hingga 0,17%,” kata Abdullah.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja melalui PMA, Abdullah menyatakan lokasi yang menyerap paling besar adalah Kabupaten Berau sebanyak 2.672 orang, disusul Kabupaten Kutai Timur 2.628 orang dan Kabupaten Kutai Kartanegera 2.118 orang.

Total penyerapan TKI periode Januari hingga Desember 2018 sebanyak 12.500 orang. Sedangkan untuk Tenaga Kerja Asing (TKA) yang paling banyak menyerap adalah Kota Balikpapan dengan jumlah TKA sebanyak 25 orang.

Untuk PMA, realiasi terbesar juga masih dari sektor pertambangan dengan nilai US$188,76 juta atau Rp 2,53 triliun sama dengan 32,13%.

Subsektor lain yang juga memberikan kontribusi cukup besar bagi investasi di Kaltim adalah subsektor industri makanan sebesar US$118,39 juta atau Rp1,59 triliun atau setara 20,15%.

Kontributor berikutnya kata Abdullah adalah sektor transportasi, gudang, dan komunikasi sebesar US$86,57 juta setara Rp1,16 triliun atau 14,73%. Adapun kontribusi subsektor lain yaitu pada kisaran 10,75% hingga 0,02%.

“Sektor lain yang juga menyerap banyak tenaga kerja adalah subsektor kehutanan dengan share serapan tenaga kerja mencapai 3.082 orang atau 24,66%. Dan subsektor industri makanan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.463 orang atau 11,70%,” terang Abdullah.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur Atqo Mardianto mengatakan untuk pendapatan Provinsi Kaltim pada 2018 diperkirakan mencapai Rp8,36 triliun. Adapun Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang didapatkan sekitar Rp4,28 triliun. Sementara dana perimbangan Provinsi Kaltim pada 2018 tercatat sebesar Rp4,04 triliun.

Atqo menyatakan pergerakan harga komoditas andalan-yakni batu bara dan migas-yang menjadi tulang punggung perekonomian di Benua Etam cenderung masih fluktuatif, pertumbuhan ekonomi pun turut mengalami pasang surut.

“Kondisi ini mempengaruhi berbagai macam hal, salah satu diantaranya adalah target realisasi investasi Kaltim yang juga perlu disesuaikan,” terangnya.

BPS Kaltim menyatakan pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2018 sebesar 2,67% years on years (y-o-y), tumbuh lebih lambat ketimbang pertumbuhan pada 2017 yang sebesar 3,13%. Hal ini dikarenakan pada 2018 terjadi kecenderungan perlambatan ekonomi dunia yang juga berimbas pada perekonomian nasional, termasuk regional Kaltim.

“Perlambatan terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” tulisnya.

Tag : investasi, kaltim
Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top