Industri Kaltim Perlu Perhatian Lebih

Kaltim menjadi kandidat yang cukup kuat sebagai arena pemindahan ibu kota.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 08 Mei 2019 21:16 WIB
Presiden Joko Widodo berjalan di kawasan hutan saat meninjau salah satu lokasi calon ibu kota negara di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Rabu (8/5/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, SAMARINDA – Pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur selain bisa dipicu dengan pemindahan ibu kota pemerintahan sebenarnya membutuhkan perhatian prioritas pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan industri.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi mengatakan pasca kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Taman Hutan Raya Bukit Soeharto kemarin, Kaltim menjadi kandidat yang cukup kuat sebagai arena pemindahan ibu kota.

Hadi menyebut selain bebas dari ring of fire atau gempa, konteks sosial dan politik masyarakat di Kalimantan Timur juga cenderung minim konflik. Meski dia menilai salah satu kebutuhan utama Bumi Etam saat ini adalah menguatkan industri.

“Belum tentu untung [memindahkan ibu kota]. APBN terbebani. Perlu membangun klaster ekonomi baru di luar Jawa,” terang Hadi di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (8/5/2019).

Menurut Hadi, Kalimantan Timur sangat cocok mendapat predikat sebagai klaster industri energi di Indonesia. Hampir semua jenis energi bisa berkembang di Kaltim. Sebut saja minyak, gas, batubara, hingga nuklir.

“Kalau gas dan batu bara dimaksimalkan seharusnya separuh industri pindah ke Jawa,” sambung Hadi.

Hadi beranggapan hal ini perlu dipertimbangkan pemerintah pusat mengingat biaya untuk pemindahan ibu kota cukup besar yakni Rp475 triliun. Sementara ada banyak sektor lain yang juga harus diperhatikan secara nasional selain Kaltim. Dia berharap penguatan industri di luar Jawa, khususnya di Kaltim bisa terwujud.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur merilis pertumbuhan ekonomi di Bumi Etam pada triwulan I/2019 adalah 5,36% (y-o-y) tumbuh di atas rata-rata nasional yakni 5,07% (y-o-y). Semua sektor mengalami pertumbuhan terkecuali industri pengolahan dan lapangan usaha jasa perusahaan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Atqo Mardiyanto menjelaskan, salah satu tantangan Kaltim adalah mendorong sektor industri agar bisa mencatatkan prestasi pertumbuhan dan berkontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Saat ini Pemprov Kaltim memang mengupayakan pertumbuhan industri salah satunya melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan. Namun dengan industri yang hanya tumbuh -1,84% ini kata Atqo perlu ditelusuri penyebab pencapaian yang minus tersebut.

Atqo menilai jika lapangan usaha non pertambangan hendak bertransformasi menjadi tulang punggu ekonomi di Kaltim, harus dipastikan pertumbuhan setiap sektor berkisar 10% sampai 15%. Tujuannya agar bisa memenuhi porsi yang biasa ditempati oleh pertambangan yakni 46%.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ibu Kota Dipindah

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top
Tutup