Festival Makanan Tradisional Dihelat Pontianak di Wilayah Perbatasan

Oleh: Yanuarius Viodeogo 11 Desember 2016 | 10:18 WIB
Anak-anak menyaksikan panganan lokal pada Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau di Batang Lupar./JIBI - WWF Indonesia

Bisnis.com, PONTIANAK – Pagelaran budaya dalam menjaga kearifan lokal dengan menampilkan keberagaman dan identitas lokal berlangsung di perbatasan Indonesia dan Malaysia tepatnya di Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu.

Bersama masyarakat setempat, sejumlah komponen masyarakat menggelar gawai Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau yang dihelat pada 9-12 Desember 2016.

Festival makanan yang dihidangkan kepada pengunjung dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan pemanfaatan makanan dari hutan yang alami, higienis dan sehat.

Ketua Panitia Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau Indra Prasetyo mengatakan kegiatan di kabupaten ini selaras dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan tradisional.

“Kapuas Hulu yang dijadikan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) oleh pemerintah pusat membutuhkan program-program konkret dan salah satunya ini,” kata Indra juga Kasi Promosi dan Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kapuas Hulu dari rilis yang diterima Bisnis, baru-baru ini.

Beberapa komponen masyarakat sipil turut menyemarakkan kegiatan ini seperti Riak Bumi, PRCF-Indonesia, Dian Tama, Perkumpulan Kaban, Lanting Borneo, Serakop Iban Perbatasan (Sipat), Forina, Aliansi Organik Indonesia (AOI) dan WWF-Indonesia.

Mereka menyajikan makanan dan minuman lokal, kerajinan masyarakat, pelatihan jasa lingkungan serta lokakarya desa hijau, lomba memasak, permainan, drama anak dan pembuatan poster.

Asisten I Bidang Pemerintahan Frans Leonardus mengutarakan festival makanan ini menjadi pilihan utama karena Kapuas Hulu memiliki potensi sumber daya alam yan gkaya dan pendukung ketersediaan pangan setempat.

“Beragam bahan baku pangan diolah sedemikan rupa menjadi kuliner tradisional khas dan dinikmati banyak orang sebagai wisata kuliner,” kata Frans.

Pemda dan DPRD Kapuas Hulu, menurutnya, sedang menggodok regulasi mengenai pembangunan Desa Hijau 2016. Peraturan itu nanti memberikan landasan hukum dan ruang gerak yang jelas dan terbuka bagi setiap desa untuk menerapkan praktik pembangunan berkelanjutan.

Adapun lima pemerintahan desa di Kapuas Hulu yang sudah mengadopsi konsep desa hijau adalah Desa Melemba, Labian, Labian Ira’ang, Sungai Ajung dan Menua Sadap.

 

Editor: Yoseph Pencawan

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer