Dollar Tembus Rp15.000, Kontraktor Kalsel  Mulai Was-Was

Oleh: arief rahman 03 Oktober 2018 | 19:18 WIB
Dollar Tembus Rp15.000, Kontraktor Kalsel  Mulai Was-Was
Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp15.043 pada 2 Oktober 2018./Bisnis-Radityo Eko

Bisnis.com, BANJARMASIN – Melamahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level psikologis Rp15.000 menjadi kegelisahan tersendiri bagi pelaku usaha kontruksi di Kalimantan Selatan.

Ketua Gabungan Pengusaha Kontruksi Indonesia (GAPENSI) Kalsel Edy Suryadi bahkan mengatakan kondisi itu akan kontraktor lokal bangkrut dan melimpahkan proyek infrastruktur yang dimenangkannya.

"Di Jakarta sudah terjadi, untuk Kalsel kemungkinan juga akan menyusul jika nilai mata uang Rupiah kita terus memburuk," tegas Edy, Rabu (3/10/2018).

Saat ini saja, ungkapnya, sudah mulai banyak bahan baku kontruksi yang mengalami kenaikan harga akibat melemahnya Rupiah. Salah satunya bahan baku jenis semen, besi, alumunium hingga aksesoris.

"Kalau proyek sudah dimenangkan dan dikerjakan, saat bahan bangunan naik kita tidak bisa lagi menuntut penyesuaian harga. Akibatnya kontraktor pun harus rela menanggung kerugian karena biaya bahan baku yang membengkak diluar perkiraan," tambahnya.

Untuk itulah Edy meminta pemerintah untuk serius dalam memperkuat nilai mata uang rupiah. Jika tidak maka kedepannya akan semakin banyak pelaku usaha kontruksi di daerah yang bertumbangan.

"Khususnya pengusaha kontruksi di daerah, pasti akan banyak tumbang kalau Rupiah tidak membaik dan makin memburuk. Hal ini karena kemampuan finansial mereka rata-rata terbatas," ucapnya.

Sebelumnya, pelaku usaha perumahan di Banjarmasin, M Fazrin, juga mengakui  mulai ada kenaikan harga beberapa bahan baku kontruksi sejak mulai melemahnya mata rupiah.

Untuk perumahan menengah ke atas menurutnya hal ini tidak masalah, mengingat pihaknya masih bisa menaikkan harga jual rumah. Namun untuk perumahan bersubsidi pihaknya mengaku cukup dirugikan karena naiknya harga bahan bangunan.

"Kalau rumah bersubsidi harganya sudah ditentukan oleh pemerintah. Jadi saat beberapa harga bahan bangunan naik seperti sekarang, terpaksa kita harus mengurangi margin keuntungan," keluh Direktur Utama PT Perumahan Awang Permai tersebut.

 

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya