Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kelangkaan Telur, Bank Indonesia Minta Sintang Subsidi Biaya Angkut

Manajer Komunikasi Bank Indonesia Sony Ciputra mengatakan, saat ini Sintang mensubsidi biaya angkutan komoditas telur karena daerah itu sering mengalami kelangkaan telur yang menyebabkan harga komoditas itu acapkali mahal.
Yanuarius Viodeogo
Yanuarius Viodeogo - Bisnis.com 07 November 2016  |  17:15 WIB
Ilustrasi - JIBI / Sunaryo Haryo Bayu
Ilustrasi - JIBI / Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, PONTIANAK – Bank Indonesia minta terobosan dari Kabupaten Sintang dengan mensubsidi biaya angkutan telur untuk mengatasi kelangkaan komoditas tersebut bukan sebagai agenda jangka panjang.

Manajer Komunikasi Bank Indonesia Sony Ciputra mengatakan, saat ini Sintang mensubsidi biaya angkutan komoditas telur karena daerah itu sering mengalami kelangkaan telur yang menyebabkan harga komoditas itu acapkali mahal.

“Mereka (Pemda Sintang) mensubsidi Rp8 juta biaya angkut telur dari Singkawang dan Kubu Raya ke Sintang untuk dua kali angkut. Sekali angkut membawa 200 ton telur,” kata Sony kepada Bisnis, belum lama ini.

Kendati demikian, Sony menjelaskan langkah Sintang mengendalikan harga telur dengan mensubsidi biaya angkut tidak boleh berlangsung terus menerus tetapi harus ada program jangka panjang.

Menurutnya, upaya subsidi biaya angkut tersebut masih langkah responsif.  Sehingga Bank Indonesia, lanjut dia, mengusulkan supaya Kabupaten Sintang membuat peternakan ayam petelur karena lebih efektif dan efisien.

“Beberapa waktu lalu, diadakan pertemuan dengan Dinas Peternakan Sintang, mereka menyepakati akan mengundang investor lokal terdiri dari pengusaha rumah makan, pengusaha hotel atau pengusaha ritel supaya mendirikan peternakan ayam petelur di Sintang,” tuturnya.

Program jangka panjang tersebut untuk mengantisipasi supaya Sintang tidak defisit telur terus menerus. Adapun kebutuhan konsumsi telur untuk Sintang per hari sebanyak 15-20 ton, sementara pada hari raya kebutuhan menjadi 25 hingga 30 ton telur.

Bahkan, menurutnya, pada pertemuan nanti dengan calon investor lokal tersebut, Pemkab Sintang mengingingkan muncul salah satu desa pusat ayam petelur.

Kadis Perikanan Kalbar Abdul Manaf mengatakan, setiap daerah yang jauh dari sentra ayam mesti membuat kemitraan peternakan ayam petelur khususnya Kabupaten Sintang dan Melawi.

“Itu adalah caranya agar harga telur bisa dikendalikan. Produksi telur Kalbar 100 ton per hari. Kami ingin muncul daerah juga memiliki peternakan ayam petelur jadi stok tetap ada,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telur
Editor : Yoseph Pencawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top