Dua Pembangkit Diesel di Kaltim Siap Dikonversi ke CPO

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) merancang sejumlah program energi hijau.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  20:19 WIB
Dua Pembangkit Diesel di Kaltim Siap Dikonversi ke CPO
Ilustrasi - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, BALIKPAPAN—PT Perusahaan Listrik Negara (persero) merancang sejumlah program energi hijau.

Pertama, dukungan melalui pengembangan Energi Baru dan Terbarukan EBT.

Kedua, penggunaan teknologi rendah karbon seperti pembangkit USD, Fuel switching (pengalihan BBM ke Gas pada PLTG/GU/MG dan penggunaan campuran biofuel pada PLTD), serta upaya efisiensi pembangkit (CCGT, COgen, Classs H Gas Turbine).

Dalam hal ini, PLN mulai mengimplementasikan peralihan penggunaan crude palm oil atau (CPO) 100% pada 2 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Kanaan yang terletak di Bontang, Kalimantan Timur dengan kapasitas 10 MW serta PLTD Batakan di Balikpapan, Kalimantan Timur dengan kapasitas 40 MW.

Direktur Pengadaan strategis II PT PLN Djoko Raharjo Abumanan menyebutkan, hal itu dilakukan setelah PLTD dengan bahan bakar nabati berbasis 100% minyak kelapa sawit atau CPO milik di lokasi Belitung juga telah berhasil dilakukan pengujian.

Djoko menuturkan proses modifikasi cukup rumit dilakukan karena sifat bahan bakar fosil yang berbeda dengan cpo yang merupakan bahan nabati. Selain itu, suplai CPO dari sejumlah produsen masih terbatas.

Selama ini, kata dia, PLN memprioritaskan sumber energi untuk pembangkit dengan mengoptimalkan penggunaan energi yang berasal dari dalam negeri, seperti batubara dan gas, selain itu juga memperhatikan ketersediaan pasokan dan harga keekonomian. Namun, modifikasi ini harus perlu dilakukan untuk memberikan nilai tambah yakni energi bersih di samping mengurangi impor BBM.

Saat ini harga High Speed Diesel (HSD) yang terbilang mahal dengan kisaran harga bisa mencapai Rp10.000 hingga Rp12.000 lebih. Sedangkan untuk Marine Fuel Oil (MFO) bisa terbilang lebih murah dengan kisaran 0,65% hingga 0,85% dari harga HSD.

“Apalagi CPO itu non impor, petaninya dari petani sawit jadi menjaga kearifan lokal.Uji coba modifikasi peralatan sudah oke. Mofidikasi pembangkit PLTD ke cpo perubahan itu menurut saya oke secara lingkungan,” jelasnya kepada Bisnis Senin (5/8/2019).

Setelah Belitung dan Kalimantan Timur, PLN akan melanjutkan dengan proyek percontohan lainnya di PLTD Suppa di Pare-Pare, Sulawesi Selatan dengan kapasitas 62 MW. Serta pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Jayapura Papua dengan kapasitas 10 MW.

Dia memperhitungkan selama ini keempat pembangkit tersebut membutuhkan kapasitas 190.000 kiloliter diesel per tahunnya. Sehingga, langka konversi ini bisa mengurangi penggunaan diesel sejumlah itu setiap tahunnya. Biaya-biaya yang timbul untuk pengujian dapat diambil dari dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pltd, kaltim

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top