Pesan Kemerdekaan dari Puncak Tertinggi Kedua di Indonesia

Ekspresi kegembiraan yang menjadi pertanda bahwa Indonesia menjadi alasan utama persatuan, di tengah multikulturalisme yang mengitarinya.
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 18 Agustus 2019  |  06:05 WIB
Pesan Kemerdekaan dari Puncak Tertinggi Kedua di Indonesia
Upacara memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia di Tugu Yuda, Gunung Kerinci pada Sabtu (17/8/2019). - Bisnis/Bobi Bani

Bisnis.com, BATAM — Upacara HUT ke-74 RI di puncak Gunung Kerinci — gunung tertinggi di Indonesia setelah Puncak Jaya Wijaya di Papua — berlangsung khidmat meskipun Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) tidak membuat perayaan secara resmi.

Upacara yang dilakukan atas inisiatif para pendaki ini berlangsung sebanyak dua kali. Bisnis mengikuti secara langsung satu dari dua prosesi perayaan kemerdekaan tersebut.

Upacara kedua dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB, bermula pada sekitar pukul 08.40 WIB, seorang laki-laki memakai baju cokelat menghampiri para pendaki lain di Tugu Yuda, lokasi terakhir sebelum pendaki mencapai puncak tertinggi Gunung Kerinci, 3.805 meter di bawah permukaan laut (MDPL).

Seruan dari laki-laki yang belakangan diketahui bernama Agung ini, mengajak para pendaki bersama-sama melakukan upacara bendera. Ia berulangkali melintas, bergerilya menemui kumpulan pendaki yang tengah asyik bercengkerama.

Gayung pun bersambut, ajakan Agung langsung diiyakan oleh pendaki lain. Tak lama kemudian ratusan pendaki sudah berkumpul, mengitari lokasi upacara di kawasan Tugu Yuda yang telah terpancang beberapa bendera. Laki-laki, perempuan, orangtua, bahkan anak-anak terlihat sesaat sebelum upacara ini diadakan.

Proses upacara berlangsung saat seorang laki-laki bertopi dan jaket berwarna hitam maju beberapa langkah dari barisan, memberikan aba-aba kepada peserta untuk melakukan penghormatan kepada bendera merah putih. Peserta yang langsung memberi penghormatan tanpa aba-aba langsung menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Suasana kala itu terasa sangat khidmat sekali, sebuah perayaan kemerdekaan yang nampak sederhana. Namun dilakukan dengan penuh suka cita oleh semua peserta. Membuatnya terasa istimewa dan sakral, tidak semua orang bisa merasakannya.

Pesan Persatuan

Proses upacara ini dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Hari Kemerdekaan Indonesia dan Padamu Negeri. Tidak jauh berbeda, kesakralan upacara ini jelas sekali terlihat.

Lagu Padamu Negeri yang jadi lagu terakhir bahkan terasa sarat akan makna. Beberapa peserta yang ditemui setelah prosesi ini mengaku merinding saat lagu padamu negeri itu dinyanyikan.

"Selalu istimewa bisa ikut upacara di gunung, tadi sempat merinding saat nyanyi lagu terakhir, terasa berbeda. Pas nyanyi lagu Indonesia Raya juga merinding," kata Topik, peserta upacara kemerdekaan Indonesia ke-74 di Gunung Kerinci asal Batam, Kepulauan Riau (Kepri) saat ditemui seusai upacara.

Topik melanjutkan, upacara yang ia ikuti kali ini memang cukup sederhana dibanding kegiatan serupa di gunung lain di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya panitia upacara memiliki tim tersendiri dalam upacara tersebut, sehingga prosesnya terasa lebih formal.

"Di Rinjani dan Lawu dulu ada tim paduan suaranya, tetapi tetap menyanyi bersama peserta. Mungkin karena ini spontan jadinya langsung saja," kata Topik lagi.

Upacara yang berlangsung dalam hitungan menit saja ini, ditutup dengan kegiatan foto bersama seluruh peserta upacara. Mereka yang tidak saling kenal nampak tetap nyaman membaur dalam kegiatan tersebut.

Semua yang terlibat terlihat senang, berulangkali terdengar sorak sorai dari para peserta, menunjukan rasa bangga mereka bisa menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan di salah satu puncak tertinggi negeri ini.

Ekspresi kegembiraan yang menjadi pertanda bahwa Indonesia menjadi alasan utama persatuan, di tengah multikulturalisme yang mengitarinya.

Merasa istimewa bisa ikut dalam upacara di puncak gunung, dinilai tidak salah, karena memang perjuangan untuk sampai ke puncak gunung bukan perkara mudah. Seperti di Gunung Kerinci ini, para pendaki harus melalui trek terjal sepanjang rutenya. Meskipun demikian, sebagian besar para pendaki yang dimintai tanggapannya terkait tantangan mereka tersebut, mengaku justru menikmatinya.

Data yang didapat dari pusat informasi TNKS pada Jumat (16/8/2019) pagi, diketahui sudah ada sekitar 400 pendaki yang sudah bergerak mendaki. (K41)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hut ri, Features

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top