Neraca Perdagangan Kaltim: Surplus Namun Waspada

Neraca perdagangan Kalimantan Timur tercatat masih mengalami surplus setelah melewati paruh kedua tahun ini tetapi melanjutkan tren nilai yang mengecil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  19:42 WIB
Neraca Perdagangan Kaltim: Surplus Namun Waspada
Kantor Bank Indonesia di Jakarta - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, BALIKPAPAN—Neraca perdagangan Kalimantan Timur tercatat masih mengalami surplus setelah melewati paruh kedua tahun ini tetapi melanjutkan tren nilai yang mengecil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur Tutuk Cahyono mengatakan kondisi itu merefleksikan bumi etam yang terus memproduksi barang mentah. Barang mentah lanjut dia,secara alamiah harganya cenderung fluktuatif dan menjadi spekulasi global.

Menurutnya dorongan hilirisasi mutlak dilakukan agar Kaltim bisa menciptakan harga yang stabil. Selain itu pemerintah memiliki proyeksi perhitungan yang lebih baik dengan menciptakan kondisi bisnis yang nyaman bagi pengusaha.

Kaltim membutuhkan untuk membuka investasi seluas-luasnya dari luar daerah. Sebab, Kaltim belum memiliki teknologi untuk memproses komoditas yang ada. Lazimnya, proses menjadi daerah yang maju mesti diawali dengan penguatan-penguatan teknologi untuk menjadi mata rantai global.

“Proses dari negara maju itu selalu penguatan teknologi dan kelembagan regulasi. Kita harus datangkan teknologi hilirisasi itu, permudah investor agar mau ke Kaltim. Investor datang bawa uang, sisanya dipermudah agar hilirisasi berjalan,” jelasnya Minggu (6/10/2019).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, dengan harga batu bara yang turun neraca perdagangan Kaltim masih tetap surplus. Apalagi jika dibandingkan dengan data nasional yang mengalami masih defitsit cukup tinggi.

Namun, Kaltim juga masih perlu berhati-hati karena karena surplusnya masih berasal dari komoditas mentah.

“Kaltim jika neraca perdagangannya terus mengecil juga akan mengalami hal serupa. Sehingga mutlak diperlukan pertumbuhan sektor lain untuk mempertahankan neraca perdagangan Kaltim,”ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, secara adminitrasi, pihaknya masih terkendala pengwasan dan pemanfaatan teknologi untuk pencatatan nilai ekspor. Sehingga acapkali nilai ekpor yang tercatat di daerah berbeda dengan kondisi riil di lapangan.

Selain itu, dia tidak menampik dibutuhkannya hilirisasi untuk mendongkrak ekspor.

“Kalau dilihat memang hilirisasi crude palm oil (CPO) yang paling potensial direalisasikan kawasannya sudah kita sediakan tinggal menarik investor agar mau investasi hilirisasi CPO di sana,”

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Kalimantan Timur pada Agustus 2019 mengalami surplus senilai US$1,07 miliar. Nilai itu sedikit lebih rendah dibandingkan pada Juli 2019 senilai US$1,18 miliar.

Sementara itu secara kumulatif dibandingkan dari periode Januari—Agustus 2019 neraca perdagang mengalami surplus US$9,15 miliar.

Sebagai perbandingan nilai kumulatif pada paruh pertama tahun ini senuli US$6,91 miliar terus mengecil diebandingkan periode yang sama tahun lalu senilai US$6,99 miliar dan pada 2017 senilai US$7,02 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top