Bea Cukai Kalbagtim : Bisnis Alat Berat & Sparepart Sumbang Penerimaan Terbesar

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur (DJBC Kalbagtim) menyebutkan sektor alat berat pertambangan, spare part mesin dan crude palm oil masih menjadi penyumbang bea masuk dan keluar terbesar bagi bumi etam.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  15:49 WIB
Bea Cukai Kalbagtim : Bisnis Alat Berat & Sparepart Sumbang Penerimaan Terbesar
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, BALIKPAPAN-- Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur (DJBC Kalbagtim) menyebutkan sektor alat berat pertambangan, spare part mesin dan crude palm oil masih menjadi penyumbang bea masuk dan keluar terbesar bagi bumi etam.

Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan Internal dan Layanan Informasi Kanwil DJBC Kalbagtim, Arief Rahman mengatakan bahwa untuk bea masuk masih didominasi dari alat berat, spare part mesin, dan minyak bumi. Sebaliknya untuk bea keluar ekspor masih disumbang dari Crude Palm Oil (CPO), dan kayu lapis.

Dia menekankan bahwa dulunya batu bara memang dipungut bea keluar, tetapi karena kebijakan khusus yang baru  baik batu bara dan pupuk tak dikenakan bea keluar.

Berdasarkan data DJBC Kalbagtim realisasi pendapatan bea cukai hingga mendekati akhir tahun ini sebesar 70% atau mencapai Rp482,3 miliar. Tahun ini, pemerintah pusat menargetkan penerimaan bea dan cukai  sebesar Rp687,8 miliar.

Dia memerinci untuk provinsi Kaltim penerimaan paling besar ada di Balikpapan dengan target sebesar Rp573 miliar dan realisasinya hingga kini sudah mencapai 71,05% atau senilai Rp407 miliar.

Disusul oleh Samarinda dengan target Rp55,3 miliar, dan realisasi mencapai 53%. Penerimaan di Bontang masih minim atau hanya 9,7% dari target Rp11,7 miliar.

Selanjutnya Tarakan senilai Rp25,37 miliar dengan realisasi Rp18,3 miliar, dan Sangata yang dipatok target Rp19,4 miliar dengan realisasi Rp18,16 miliar.

Sementara untuk Nunukan memiliki target Rp2,6 miliar  realisasinya mencapai Rp7,6 miliar atau sebesar 20%. Sedangkan Bontang dengan target Rp11 miliar lebih realisasi baru Rp1,1 miliar atau 9,7%.

Kepala Seksi Pemerikasaan Bea Cukai Kalbagtim Heru Wahyudi menjelaskan, penerimaan paling besar memang diraup di Balikpapan. Hal itu lantaran gerbang masuk pencatataan penerimaan yang sebelumnya di kota Bontang sudah di Balikpapan. Apalagi, lanjut dia, infrastruktur logistik di Balikpapan memang lebih baik dibandingkan dengan daerah lain.

Dengan demikian, banyak barang perusahaan memilih keluar dan masuk melalui Balikpapan. DJBC pun berencana merevisi target penerimaan Bontang sebagian besar tahun ini akan dialihkan ke Balikpapan

“Untuk Bontang, sangat minim karena beberapa perusahaan sudah tidak lewat sana lagi pungutannya. Seperti Badan LNG sekarang ini lewat Balikpapan. Nantinya kami akan meakukan revisi target untuk beberapa wilayah,” terangnya.

Sedangkan untuk kawasan Nunukan berhasil mencapai kenaikan signifikan karena adanya tambahan pemasukan dari impor karpet. Heru menjelaskan dulunya impor karpet tersebut masih dilakukan secara illegal tetapi kini sudah berhasil  melakukan pendekatan ke importir disana.

Apabila dibandingkan dengan tahun lalu target penerimaan bea cukai Kalbagtim senilai Rp598 miliar ditargetkan naik sebesar 10% menjadi Rp687 miliar. Dia menjelaskan, saat ini pihaknya akan lebih mendetail dalam pemeriksaan barang guna mempercepat target penerimaan akhir 2019.

“Harus tercapai, nggak ada kata tidak. Mendekati akhir tahun semua pihak selalu ekstra effort,”tekannya

Selain itu, penerimaan bea dan cukai memang bergantung dari kondisi ekonomi daerah. 

Selain itu, penerimaan cukai dapun penerimaan cukai untuk tahun ini ditargetkan total senilai Rp693 juta. Pihaknya saat ini memperolah pungutan cukai baru untuk tahun ini dari rokok elektronik (Vape)

Saat ini produksi vape berada di Balikpapan dan Samarinda. Dari dua parik itu saja, pihaknya bisa meraup ratusan juta. Diperkirakan potensi penerimaan cukai ini akan sama seperti rokok nantinya.

Sebagai catatan nilai ekspor di Bumi Etam mengalami penurunan sejalan dengan penurunan di sektor migas, pertambangan dan industri pengolahan.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor provinsi Kalimantan Timur pada Agustus 2019 mencapai US$1,28 miliar atau mengalami penurunan sebesar 9,55% dibandingkan dengan ekspor pada Juli 2019.

Sementara secara tahunan bila dibandingkan dengan Agustus 2018 mengalami penurunan sebesar 8,41%.

Secara kumulatif nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur periode Januari-Agustus 2019 mencapai US$ 10,93 miliar atau turun 9,33 persen dibanding periode yang sama tahun 2018.

Dari seluruh ekspor periode Januari-Agustus 2019, ekspor barang migas mencapai US$1,36 miliar atau turun 12,86% dan barang non migas mencapai US$ 9,57 miliar atau turun sebesar 9,09% dibandingkan dengan periode yang sama pada2018.

Negara tujuan ekspor migas terbesar adalah Jepang ( 66,33% ) China ( 33,66% ) Singapore ( 0,01% ) sedangkan untuk non migas adalah China ( 31,67% ),India ( 17,43% ), Taiwan ( 8,37% ), Jepang ( 8,26% ) Filipina( 8,10%).

Sementara itu membandingkan dengan nilai impor pada Agustus 2019 mencapai US$216,68 juta atau turun 10,01% dibandingkan pada Juli 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, Bea Cukai

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top