Restriksi Batu Bara oleh China tak Berimbas ke Pertumbuhan Ekonomi Kaltim

 Restriksi impor yang dilakukan oleh Tiongkok masih belum terasa dampaknya terhadap permintaan batu bara Kaltim yang menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Kaltim.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 07 November 2019  |  15:03 WIB
Restriksi Batu Bara oleh China tak Berimbas ke Pertumbuhan Ekonomi Kaltim
Pekerja berjalan di dekat timbunan batu bara, di Berau, Kaltim. - REUTERS/Yusuf Ahmad

Bisnis.com, BALIKPAPAN  -  Restriksi impor yang dilakukan oleh Tiongkok masih belum terasa dampaknya terhadap permintaan batu bara Kaltim yang menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Kaltim.

Tutuk Cahyono, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur,  mengatakan sejumlah perusahaan pertambangan di Kaltim melakukan sistem kontrak jangka menengah-panjang dalam melakukan penjualan ke Tiongkok. Hal tersebut membuat permintaan akan terus terjaga. 

Selain itu dampak monsoon (Badai) di India yang terjadi dari Juni hingga September 2019, juga mampu meningkatkan permintaan ekspor batu bara Indonesia menuju India.

Pasalnya badai tersebut cukup mempengaruhi produksi batu bara domestik India yang mengalami penurunan produksi mencapai 21%. Penurunan tersebut merupakan yang terendah dalam 3 tahun terakhir.

"Membaiknya kinerja pertambangan dikarenakan cuaca yang membuat kondisi pertambangan jauh lebih kondusif dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi oleh permintaan negara tujuan yang terjaga akan membuat pertumbuhan ekonomi Kaltim akhir tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," jelasnya kepada Bisnis Kamis (7/11/2019).

Dia menilai positifnya kinerja pertambangan batu bara dan komponen ekspor tersebut, terkonfirmasi dari peningkatan volume ekspor batu bara sebesar 15,24% (yoy) di triwulan III/2019 yang didominasi oleh pengiriman ke India dan Tiongkok. 

Di tengah harga batu acuan (HBA) yang mengalami penurunan dari awal tahun, dia memperkirakan bahwa banyak perusahaan batu bara yang mencoba mengejar target produksi serta melakukan langkah antisipatif penurunan harga lebih lanjut pada akhir tahun dengan melakukan produksi dan penjualan ekspor yang cukup tinggi hingga triwulan III/2019 ini. 

Langkah antisipatif tersebut direspon positif oleh negara tujuan utama dengan permintaan yang terus tinggi baik dari Tiongkok maupun India. 

Sementara itu, untuk komoditas kelapa sawit mentah (CPO,) tercatat harga CPO Kaltim triwulan III 2019 mengalami kontraksi sebesar -8,09% (yoy) lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -17,42% (yoy). 

Membaiknya kinerja CPO juga tercermin dari meningkatnya kinerja ekspor CPO yang tercatat mengalami pertumbuhan mencapai 45,17% (yoy) di triwulan III 2019 ini. 

Peningkatan ekspor CPO tersebut utamanya disebabkan oleh tingginya permintaan CPO dari India, yang sedang melakukan pembatasan impor dari Malaysia sebagai dampak ketegangan hubungan politik kedua negara tersebut.

Selain itu, ada penurunan tarif impor CPO Indonesia menuju India.

Namun, lanjut Tutuk, masih terdapat sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2019mengalami perlambatan dibandingkan dengan kuartal III/2019.

Kondisi tersebut didorong dengan sejumlah perusahaan batu bara yang sudah hampir memenuhi target tahunannya lebih awal sehingga kemungkinan akan terjadi penurunan dibandingkan dengan triwulan III/2019 serta kondisi cuaca yang diperkirakan akan mulai masuk musim penghujan pada akhir tahun.

Kemudian, dari sisi permintaan, perlambatan juga diperkirakan bersumber dari India yang mulai kembali melakukan produksi domestik pasca monsoon yang telah selesai. 

Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi juga dapat bersumber telah selesainya sejumlah pengerjaan proyek infrastruktur di Kaltim. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, EKONOMI KALTIM

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top