Tekanan Permintaan Menurun, Inflasi Akhir Tahun Balikpapan Terkendali di Level 2 Persen

Bank Indonesia memproyeksikan bahwa tingkat inflasi di kota minyak hingga akhir tahun dalam kondisi terkendali bahkan bisa lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya dengan berkurangnya tekanan permintaan dari masyarakat.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  15:58 WIB
Tekanan Permintaan Menurun, Inflasi Akhir Tahun Balikpapan Terkendali di Level 2 Persen
Ilustrasi kegiatan di pasar tradisional - Antara

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Bank Indonesia memproyeksikan bahwa tingkat inflasi di kota minyak hingga akhir tahun dalam kondisi terkendali bahkan bisa lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya dengan berkurangnya tekanan permintaan dari masyarakat.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan Bimo Epyanto mengatakan secara year to date tingkat inflasi masih rendah berada dalam level 1,19%. Bimo memprediksikan pada akhir Desember tingkat inflasi setinggi-tingginya hanya akan bertambah 1% yang berarti masih dalam batas bawah proyeksi semula.

Menurutnya tingkat inflasi juga masih berada dalam level terkendali lantaran pada tahun ini tak banyak kebijakan penyesuaian harga ataupun kenaikan BBM bersubsidi. Bahkan, lanjut dia, tarif pesawat yang dulunya sempat naik kini juga sudah mulai berangsur normal.

“Kami rasa hal-hal tersebut yang paling berpengaruh mengapa lebih rendah terutama tiket pesawat dibandingkan tahun 2018. Kemungkinan juga akhir tahun ini orang lebih memilih transportasi darat ketimbang jalur udara sehingga tekanan inflasi bisa lebih rendah lagi,” jelasnya Selasa (3/12/2019).

Bimo melanjutkan bahwa dari sisi ekonomi juga belum sepenuhnya pulih maka masyarakat lebih menahan diri dalam melakukan konsumsi. Tekanan permintaan menjadi berkurang karena masyarakat lebih menahan konsumsi.

“Ada juga indikasi keterkaitan-nya dengan pertumbuhan ekonomi. Karena secara makro dalam jangka panjang kalo pertumbuhan ekonomi melambat maka inflasi-nya cenderung melambat. Karena tekanan permintaan berkurang. Kalo inflasi tinggi biasanya permintaan juga melonjak. Sekarang kondisinya ekonomi melambat, sehingga tadi pedagang dan pengusaha juga berpikir untuk menaikkan harga,” imbuhnya.

Kondisi tersebut juga menyebabkan daya beli masyarakat di golongan tertentu cenderung lebih rendah. Untuk masyarakat golongan menengah ke- atas juga memilih untuk menahan atau berjaga. Terutama karena melihat bahwa tahun depan tingkat ketidakpastian masih tinggi.

Kecenderungan masyarakat mengurangi konsumsi barang yang tahan lama juga terlihat dari tingkat konsumsi hari raya idul Fitri tahun ini yang tidak setinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Adapun untuk tahun –tahun sebelumnya, kata Bimo, inflasi mulai bisa dikendalikan sejak peluncuran kebijakan BBM satu harga yang tentunya mendorong turunnya sejumlah harga barang untuk kawasan timur. Selain itu kehadiran tol laut memberikan dampak pada distribusi barang lebih lancar.

Sementara itu Kepala Badan Pusat Statistik kota Balikpapan Achmad Zaini mengatakan pertumbuhan inflasi hingga akhir tahun masih berada pada level sekitar 2%.

“Karena sekarang ini upaya pengendalian inflasi terus dilakukan. Seperti untuk pengendalian harga Lombok. Lombok ini merupakan salah satu komponen yang memiliki bobot cukup besar sebagai pemberat inflasi. Lalu harga tiket turun terus angkutan udara,”jelasnya.

Achmad menyebutkan bahwa tahun depan akan ada lebih banyak jumlah pendatang yang masuk sebagai dampak IKN. Untuk itu, menjadi penting bagaimana upaya pemerintah untuk pengadaan kebutuha.

“Kalau kerja sama antar daerah terjadi, inflasi setelah isu IKN masih bisa terkontrol. Pemerintah daerah kita cukup sigap responsif dalam pengendalian inflasi,” ungkapnya.

Adapun laju inflasi tahun Kalender atau Year-to-Date pada akhir Desember 2018 di Balikpapan sebesar 3,13% dan inflasi Year-on- Year sebesar 3,13%.

Kelompok komoditi pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan indeks hargapada Desember 2018 yaitu : Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar; Kelompok Sandang; Kelompok Kesehatan dan Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan.

Sementara itu, Kota Balikpapan pada November 2019 mengalami inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya -0,69 persen (mtm).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi November 2019 disebabkan oleh peningkatan harga bahan makanan terutama tomat sayur, daging ayam ras dan telur ayam ras.

Hal itu sejalan dengan berkurangnya pasokan dari daerah pemasok dan kenaikan permintaan momen Maulid Nabi Muhammad SAW dan mendekati akhir tahun. Selain itu, inflasi juga didorong oleh peningkatan tarif angkutan udara jelang akhir tahun.

Di sisi lain, laju deflasi sedikit tertahan oleh penurunan harga pada beberapa komoditas sayuran seperti kacang panjang, cabai rawit, sawi hijau dan kangkung seiring dengan peningkatan produksi di wilayah Balikpapan dan sekitarnya serta di luar Balikpapan.

Dia memperkirakan ke depan, terdapat beberapa faktor yang diperkirakan masih akan memberi tekanan inflasi, diantaranya:kenaikan permintaan bahan makanan mendekati akhir tahun,Kenaikan harga angkutan udara menjelang Natal dan libur akhir tahun, serta kenaikan harga rokok.

Sebagai informasi Inflasi kota minyak pada November 2019 juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi bulan November selama 3 tahun terakhir sebesar -0,02 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan mencatatkan angka sebesar 2,06 persen (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Kalimantan Timur sebesar 1,80 persen (yoy) tetapi lebih rendah dari nasional 3,00 persen (yoy). Adapun secara tahun kalender, inflasi Kota Balikpapan hingga November 2019 mencapai 1,19 persen (ytd).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, balikpapan

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top