Bisnis.com, BALIKPAPAN – Tunggakan retribusi pedagang di Pasar Inpres Kebun Sayur Kota Balikpapan telah mencapai Rp800 juta.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Balikpapan Haemusri Umar menyatakan setiap pedagang di pasar tradisional ini hanya dibebankan retribusi sebesar Rp270.000 per bulan.
Ironisnya, angka tunggakan tersebut mencerminkan betapa beratnya beban ekonomi yang dirasakan para pedagang.
"Masalah ekonomi masyarakat memang berdampak pada kegiatan di pasar ini," ujarnya baru-baru ini.
Kendati demikian, Haemusri menegaskan bahwa pihaknya telah berulang kali mengingatkan para pedagang untuk menunaikan kewajibannya tepat waktu.
"Kami sudah sering memberikan peringatan, tetapi retribusinya tetap macet," terangnya.
Baca Juga
Benang kusut ini membutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat sementara. Sehingga, revitalisasi pasar muncul sebagai opsi jangka panjang yang dianggap mampu menjadi game changer.
Haemusri merujuk keberhasilan revitalisasi Pasar Klandasan sebagai contoh nyata.
"Dulu di Pasar Klandasan juga pedagang tidak mau bayar retribusi, tapi setelah revitalisasi, mereka harus melunasi retribusi sebelum menempati lapak," jelasnya.
Namun, jalan menuju revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur tidaklah mulus. Berbagai tahapan harus dilalui, termasuk pembersihan dan penertiban petak-petak yang terindikasi melanggar aturan.
Salah satu masalah yang terjadi dalam upaya penataan pasar secara keseluruhan adalah adanya pembangunan toilet di dalam lapak.
"Ini sudah menyalahi aturan dan akan segera ditindak," jelasnya.
Lebih lanjut, Disdag Balikpapan telah merampungkan Detail Engineering Design (DED) sebagai landasan teknis revitalisasi. Pelaksanaannya kini berada di tahap pengusulan dalam rapat koordinasi pemerintah.
Adapun, Haemusri telah menyiapkan rencana cadangan dengan mengajukan bantuan dana dari pemerintah provinsi
"Kami berharap revitalisasi ini dapat segera dilakukan agar kondisi pasar lebih tertib dan pedagang lebih taat membayar retribusi," pungkasnya.