Bisnis.com, BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Banda Aceh dan Provinsi Kalimantan Timur resmi menjalin kolaborasi strategis dalam pengembangan industri parfum berbasis komoditas lokal.
Kesepakatan ini memadukan keunggulan minyak nilam berkualitas premium dari Aceh dengan potensi gaharu melimpah dari hutan-hutan Kaltim.
Kerja sama ini ditandatangani pasca-peluncuran inisiatif Banda Aceh sebagai Kota Parfum beberapa waktu lalu.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam mengakselerasi program hilirisasi komoditas pertanian, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di kedua wilayah.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud menyatakan wilayah kekuasaannya memiliki potensi gaharu yang terbilang masif. Komoditas ini tersebar luas di berbagai kabupaten, antara lain Berau, Mahakam Ulu, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, dan Paser.
"Ini akan menjadi parfum legend di dunia yang menggabungkan nilam dan gaharu," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip, Minggu (4/1/2026).
Dari perspektif ekonomi, kolaborasi ini membuka peluang multiplier effect, dimana petani nilam di Aceh dan pengumpul gaharu di Kaltim berpotensi memperoleh akses pasar yang lebih luas, sementara pelaku industri parfum mendapat pasokan bahan baku berkualitas tinggi secara berkelanjutan.
Kendati demikian, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, pembinaan teknis yang memadai, serta strategi pemasaran yang terukur.
Sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), Rudy juga mengajak masyarakat Indonesia untuk mendukung produk lokal hasil kolaborasi ini.
"Alhamdulillah, kami bersyukur atas kehadiran Pak Gubernur Kalimantan Timur Dr H Rudy Mas'ud. Kita sudah berkomunikasi sejak awal untuk berkolaborasi antara Banda Aceh dengan Kalimantan Timur," ungkap Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal.
Lebih lanjut, Illiza menegaskan Aceh memiliki keunggulan komparatif dalam produksi nilam dengan kualitas terbaik di tingkat internasional.
Adapun, dia menuturkan jumlah pegiat parfum lokal di Aceh pun terus mengalami pertumbuhan signifikan, yang mencerminkan minat yang kian menggeliat terhadap industri kreatif berbasis aroma.
"Kami sudah mendapat dukungan dari pemerintah pusat, Kementerian Ekraf, kerja sama universitas, ILO dan penjajagan dengan Grasse, sebuah kota parfum pertama di Prancis. Kerja sama ini saya yakin akan sangat baik, apalagi Pak Gubernur kan dikenal dengan nama Harum, Haji Rudy Mas'ud, jadi pas ini kalau bergabung, Kota Wangi dengan Kota Harum," pungkasnya.