Karet Kapuas Hulu Ber-SNI Bikin Harga Sentuh Rp14.200

Oleh: Yanuarius Viodeogo 22 Desember 2017 | 15:24 WIB
Petani menoreh pohon karet/ANTARA-Abriawan Abhe

Bisnis.com, PONTIANAK – Sentral kebun karet di Kapuas Hulu menggunakan sistem pengawasan internal atau Internal Control System (ICS) sebagai upaya meningkatkan kualitas karet sehingga diharapkan terus mengerek harga komoditas itu lebih baik. 

Saat ini harga karet merata di Kalimantan Barat terutama di Kapuas Hulu berada di harga jual Rp5.000-Rp6.000 per Kilogram (Kg) dan semenjak didampingi oleh WWF-Indonesia menggunakan inovasi ICS membuat harga bokar bersih di sepanjang Koridor Labian-Leboyan Kapuas Hulu sekarang menjadi Rp9.600 hingga Rp14.200. 

“Sejak terbentuk November 2015 lalu, kami meningkatkan kualitas bahan olahan karet (bokar) dengan membuat sejumlah inovasi salah satunya ICS. Sistem ini terbukti berhasil menjaga kualitas karet dihasilkan petani,” kata Manager Sentra Karet Barese Octavius Jubang dari rilis diterima Bisnis, Jumat (22/12/2017). 

Menurutnya, bokar diuji di laboratorium Unit Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Barang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalbar.

Karet yang dikering-anginkan selama 2 minggu sudah memiliki kadar kering (K3) sebesar 76,19% dengan kadar kebersihan 91,44%. 

Sementara untuk karet usia pengeringan satu bulan, K3 sudah mencapai 78,24% dengan kadar bersih mencapai 92,01%. Hasil uji laboratorium tersebut menunjukkan Sentra Karet Barese di koridor Labian-Leboyan dinyatakan sesuai SNI 06-2047-2002. 

“Petani telah mengubah perilaku dari sebelumnya merendam dan memasukkan kontaminan lain ke dalam bokar menjadi mengeringkan bokar di rak-rak,” kata Jubang. 

Selanjutnya, pemilihan wadah bambu memiliki kandungan asam semut alami. Mereka juga menjaga karet baru disadap agar tidak terkontaminasi pasir, batu dan kulit kayu dari pohon karet itu sendiri. 

Landscape Leader WWF-Indonesia Kapuas Hulu Anas Nasrullah mengatakan, WWF-Indonesia sejak 2011 mengkaji kawasan koridor itu yakni Desa Labian, Desa Mensiau, Desa Sungai Abau. Di sana, petani mampu menjual karet basah dengan K3 54% sekitar 80 ton per bulan. 

“Hasil kajian kami memprediksi karet rakyat dapat meningkat hingga 300% pada 2016, dengan cara reforestasi kawasan yang dimiliki oleh masyarakat dan insentif pasar terhadap produksi bokar bersih,” ujar Anas. 

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer