Pertamina Alih Kelola Blok Mahakam

Oleh: Fariz Fadhillah 02 Januari 2018 | 10:52 WIB
Dari kiri: Direktur PHI Bambang Manumayoso, President & General Manager TEPI Arividya Noviyanto, Kepala SKK Migas Amien Suryanadi, Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam, Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Arizon Suardin /Bisnis.com-Fariz Fadhillah

BALIKPAPAN - Awal Januari 2018 ini menjadi babak baru pengelolaan Blok Mahakam. Setelah 50 tahun dikelola oleh Total E&P Indonesie (TEPI), malam tahun baru 2018 lalu menjadi saksi sejarah serah terima alih kelola Wilayah Kerja (WK) Mahakam dari TEPI ke Pertamina.

Alih kelola tersebut berlangsung mulus. Pengelolaan dilaksanakan dengan tetap menjaga produksi WK Mahakam yang telah melewati masa puncak produksi reservoirnya pada periode 2003-2009, mengontrol biaya operasi. 

“Sebagai komitmen menjaga kesinambungan operasi dan produksi, sampai hari ini kami telah menuntaskan pengeboran 14 sumur dan akan menyelesaikan sumur ke 15 dalam beberapa hari ke depan, ditargetkan dari Juni hingga Desember 2017; transfer pekerja TEPI menjadi pekerja PHM telah mencapai 98,23 persen; melakukan penyesuaian kontrak kerja untuk 530 kontrak eksisting dengan pihak ketiga dengan nilai USD 1,27 miliar untuk menjaga kesinambungan kegiatan produksi di Blok Mahakam," ungkap Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam.

Upaya pengeboran yang telah dilakukan Pertamina berhasil dilakukan dengan menekan biaya pengeboran sumur hingga lebih efisien 23% terhadap anggaran, mencatat waktu pengeboran lebih cepat hingga 25%, mendapatkan potensi penambangan cadangan hingga 120% serta memperoleh penambahan ketebalan reservoir sebesar 115%.

Komitmen penuh Pertamina untuk kesinambungan produksi di wilayah kerja juga dibuktikan dengan anggaran yang dikucurkan pada 2018 yang lebih dari US$1,7 miliar untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi.

Berdasarkan data SKK Migas, per November 2017, WK Mahakam berproduksi minyak dan kondensat sebesar 52 ribu barel minyak per hari dan 1.360 juta kaki kubik gas bumi per hari. Potensi di Blok Mahakam  masih cukup menjanjikan. Cadangan terbukti per 1 Januari 2016 sebesar 4,9 TCF gas, 57 juta barel minyak dan 45 juta barel kondensat.

Pengelolaan WK Mahakam oleh Pertamina, menjadikan Pertamina sebagai penyumbang lebih dari 30% produksi minyak dan gas nasional pada 2018.

Terkait produksi migas dan kondensat 2017, Bambang Manumayoso Direktur Pertamina Hulu Indonesia (PHI) tak menampik jika kondisi Blok Mahakam saat ini kini bisa dibilang sedang terpuruk. “Karena potensi migas secara umum dari reservoir yang sudah sepuh kurang begitu menjanjikan,” ujarnya.

Fase produksi yang turun itu, sebutnya, menjadi tantangan yang tidak mudah. Selain sudah sepuh, pertaruhan yang cukup besar mengingat reservoir atau tempat cadangan migas kebanyakan di area rawa-rawa atau swamp sampai ke area South Mahakam reservoir terputus putus atau terbagi-bagi.

Dengan harga minyak USD 55 dolar per barel pihaknya mencoba solusi keekonomian tak hanya mengandalkan satu field, melainkan 5-6 field ke depan. “Untuk itu mesti cepat menemukan titik-titik pengeboran yang baru,” sebutnya. 

Persetujuan Program Kerja dan Anggaran (WP&B) 2018 oleh SKK Migas menargetkan produksi PHM 42,01 ribu barel minyak per hari dan 916 mmscf gas per hari. Angka tersebut dapat dicapai dengan pengeboran sumur pengembangan sebanyak 69 sumur, 132 workover sumur, 5.623 perbaikan sumur serta POFD 5 lapangan migas di WK Mahakam.

Editor: Nur El Fathi

Berita Terkini Lainnya