Buka Dua Rute International Direct Call, Kaltim Penetrasi Pasar Asia Timur

Oleh: Fariz Fadhillah 11 April 2018 | 19:05 WIB
Kaltim Kariangau Terminal. /Kaltim Kariangau

Bisnis.com, BALIKPAPAN-Kalimantan Timur kian bertekad memacu kinerja ekspor non migas sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltim ke depan. Dalam sepekan ini, dua rute pelayaran langsung atau international direct call diluncurkan, via udara maupun laut.

Ekspor menggunakan skema ini dilakukan di Balikpapan menyasar langsung ke pasar kawasan Asia timur.

Rute Balikpapan-Shanghai melalui Terminal Pelabuhan Peti Kemas (TPK) Kariangau yang lebih dulu dibuka, 9 April lalu.

Berselang sehari kemudian, ekspor langsung melalui jalur udara turut dibuka melalui Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan. Sebanyak 150 ton udang windu dikargokan ke Jepang.

Kota Minyak, kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, sejak lama dirancang menjadi pintu ekspor utama ke luar Kalimantan dan baru kini terealisasi.

"Balikpapan kini sudah memiliki pelabuhan modern dan bandara internasional. Peresmian Puncak Direct Call di Kaltim dilaksanakan di Anggana," jelas dia kepada Bisnis, Rabu (11/4/2018).

Faroek mengatakan, percepatan penyelesaian pembangunan pelabuhan KIPI Maloy di Kabupaten Kutai Timur tengah dikebut. Proyek nasional di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) itu menambah rute ekspor karena juga berada pada lintasan laut perdagangan internasional atau ALKI II.

"Percepatan pendelegasian kewenangan perizinan dan non perizinan di bidang perdagangan ke administrator KEK MBTK (Maloy Batuta Trans Kalimantan) sedang diupayakan," jelasnya.

Sebanyak 100 kontainer berisi coconut fiber dan kayu olahan (Plywood) sebelumnya berhasil diekspor menggunakan rute Balikpapan-Shanghai.

Dicanangkan sejak 2015 silam, baru diluncurkan menyusul ujicoba ekspor 40 kontainer dengan komoditi dan tujuan serupa pada 26 Maret berjalan sukses.

Dari situ, Direct Call dari Balikpapan, dalam perhitungan Pelindo IV, lama waktu ekspor ke Shanghai, China terpangkas menjadi 9 hari dari semula mencapai 25 hingga 30 hari.

Ke Jepang menjadi 18 hari dari semula 28 hari, dan ke Korea menjadi 17 hari dari semula 26 hari.

PT SITC, perusahaan pelayaran asal China, mitra bisnis PT KKT dipastikan memfasilitasi sebanyak lima kapal, masing-masing kapasitas 2.800 teus, flag indonesia tersedia sekali dalam sepekan.

"Penjajakan kami lakukan 1 tahun. Kapal melayani butuh 5 kapal supaya terjadi siklus satu minggu sekali. Perlu biaya operasional yang tinggi. Jadi pemerintah daerah dan pelaku usaha harus mendukung," jelas Direktur Utama Pelindo IV Doso Agung kepada Bisnis.

Yukki Nugrahawan Hanafi Ketua Umum ALFI-Ilfa menambahkan pelaku usaha mesti bahu membahu menyokong pemerintah menjaga layanan ini terus hidup.

"Dari negara tetangga mempertahankan direct call perlu kerja keras. Awalnya diprediksi hanya 3 bulan bertahan kini sudah 3 tahun masih tetap eksis mereka," jelasnya kepada Bisnis.

Jika layanan ini berhenti di tengah jalan, sebutnya, nyaris mustahil untuk mengoperasikan kembali pelayaran langsung ini.

"Jika layanan ini tak jalan untuk menarik kapal internasional masuk ke sini akan susah diulang kembali."

Soal impor, Pemprov Kaltim mengusulkan Karingau sebagai pelabuhan impor produk tertentu dari China ke Kemendag pada akhir bulan Februari 2018.

Deputi Bidang Usaha Konstruksi Sarana dan Prasarana Perhubungan, Kementerian BUMN Ahmad Bambang menilai pertumbuhan sektor impor sangat memungkinkan terjadi.

"Pabrik di Kaltim membutuhkan barang curah sebagai kebutuhan utama. Lewat direct ini bisa sekalian. Kalau lewat Jakarta mahal," ujarnya kepada Bisnis.

Gubernur Awang mengatakan ada tiga hal yang mesti dilanjutkan penerusnya menjaga perjuangan rute ini terus dibuka, utamanya pasokan produk siap pakai.

Satu sisi, PT Kaltim Kariangau Terminal menyatakan siap mendukung tekad pemerintah dalam ekspor langsung komoditi unggulan di sektor perikanan Kaltim ini.

Untuk melakukan ekspor langsung, sebelumnya pemerintah mengandalkan layanan transportasi udara di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan.

Menggunakan pesawat kargo masing-masing berkapasitas 15 ton, sementara pasar yang dituju adalah Jepang. Ekspor dari daerah menggunakan kapal feeder dari Samarinda mengharuskan singgah di dermaga miliki KKT, dipandang sebagai peluang baru ekspor dilakukan dari sana.

"Saat ini via udara dulu, mungkin akan segera dilanjutkan dengan menggunakan container reefer melalui KKT," jelas Jamie Liu.

Dibukanya layanan internasional direct call di Terminal Peti Kemas, Senin (9/4/2018) lalu, menambah alternatif bagi para eksportir di daerah.

Satu sisi optimisme daerah berpotensi menguat untuk melanjutkan ekspor via internasional direct call.

Selain meningkatkan daya saing, sejumlah komoditi di sektor perikanan seperti dipastikan semakin mudah menembus pasar Asia Timur, melalui Shangai di Tiongkok, yang menjadi hub internasional.

"Tantangan saat ini adalah menjaga kesinambungan layanan ini terus berjalan, alhamdulillah dari 40 kontainer meningkat menjadi 100 kontainer," jelas Dirut PT KKT M Basir kepada Bisnis.

40 kontainer dimaksud adalah pada saat ujicoba dilakukan 26 Maret silam. Operator pelabuhan itu berhasil mengumpulkan komoditi ekspor selama 3-4 hari.

Sementara satu sisi beralihnya

ekspor langsung melalui udara ke laut akan mengubah penanganan komoditi, terutama dalam hal penyimpanan.

DUKUNGAN DI UDARA

Operator Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan siap mendukung pelaksanaan direct call melalui jalur udara.

Dua pesawat khusus kargo sejauh ini sudah beroperasi yaitu Tri MG dan My Indo. Operasional pesawat B737-400 ini memungkinkan dalam mengangkut 15 ton kargo.

Jika dilihat dari posisi Balikpapan maka pesawat akan mampu membawa muatan langsung dengan radius 5 jam terbang menuju Hongkong, Guangzhou, dan Taiwan.

"Keunggulan transportasi udara lebih cepat, lebih pasti waktu tempuhnya," jelas General Manager PT AP 1 Balikpapan Handy Heryuditiawan dijumpai Bisnis. Selain itu Bandara SAMS memiliki kapasitas terminal kargo yang memadai.

"Sejauh ini 9 perusahaan ekspedisi sudah beroperasi di bandara, jadi cold storage kami juga tersedia," jelasnya saat ditanya kesiapan bandara.

Ekspor Kaltim pada tahun 2017 mengalami perkembangan yang sangat baik hingga US$ 14,25 juta.

Tercatat surplus ekspor migas sebesar US$ 1,84 juta dan surplus ekspor non migas mencapai US$ 12,4 juta. Secara keseluruhan mengalami kenaikan mencapai 31,5%.

Namun komoditi pertambangan masih mendominasi komoditi utama ekspor mencapai 88,81%.

Disusul hasil pertanian dan perkebunan 4,54%, hasil industri kimia 3,57% dan hasil kayu olahan 2,08%. Kemudian hasil industri logam 0,10% dan hasil perikanan dan kelautan 0,31%.

Sekilas tentang rute ekspor langsung di Terminal KKT Balikpapan :

Biaya logistik mampu ditekan menjadi USD300 - 500 per kontainerWaktu Tempuh ekspor Kurang 20 Hari.

Penurunan biaya dan waktu hemat 50 persen. Kualitas produk hasil laut terjaga karena terdapat pendingin kontainer minus 20 derajat.

Produk potensial Kaltim: cangkang sawit, CPO,karet, bungkil sawit, plywood, polyester, block board, woodchip, albizia (kayu pete China) dan perikanan

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya