Musim Kawin di Banjarmasin, Penjualan Furnitur Lokal Meningkat

Banyaknya masyarakat Banua yang menggelar kegiatan perkawinan sebelum momen Idul Adha, membuat permintaan furniture lokal dari pasangan pengantin baru mengalami peningkatan.
Arief Rahman | 07 Agustus 2018 14:30 WIB
Perajin furnitur lokal di daerah kampung melayu sedang mengerjakan oder pembuatan meja hias dari konsumen - Arief Rahman

Bisnis.com, BANJARMASIN- Banyaknya masyarakat Banua yang menggelar kegiatan perkawinan sebelum momen Idul Adha, membuat permintaan furniture lokal dari pasangan pengantin baru mengalami peningkatan.

Dari pantauan di salah satu pusat penjualan furnitur lokal di Banjarmasin, yakni di daerah Kampung Melayu, para pedagang furniture lokal mengklaim sudah ada kenaikan permintaan berbagai jenis furnitur hingga 20% dibanding hari biasa sebulan terakhir.

"Kalau biasanya 8-9 buah furniture lokal bisa kita jual, kini naik menjadi belasan buah satu bulan terakhir. Kenaikan ini sendiri kami prediksi terus berlanjut hingga akhir tahun nanti," jelas Owner Mebel Berkat Usaha, Raffi'i, Selasa (7/8/2018).

Untuk jenis furnitur lokal yang banyak dibeli didominasi oleh jenis lemari pakaian, tempat tidur, meja rias hingga meja televisi. Lalu untuk harganya lemari pakaian dibandrol Rp950.000-Rp1,2 juta, tempat tidur dari Rp600 ribu - Rp1 juta, meja rias sebesar Rp450 ribu dan meja televisi dari Rp250 - Rp400 ribu perbuahnya.

"Kami juga menerima desain sendiri dari konsumen. Namun harganya menyesuaikan dengan bentuk, ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya," ungkapnya.

Walau mengalami kenaikan permintaan, jika dibandingkan dengan 10 tahun silam, kenaikan permintaan sekarang ini turun hingga mencapai 50%. Hal itu mengingat 10 tahun lalu saat musim kawin penjualan furniture lokal bisa tembus hingga mencapai puluhan unit perbulannya.

Berkurangnya permintaan futniture lokal sendiri mengingat kalah bersaing dengan furniture modern yang kini banyak dijual dipasaran dengan menawarkan desain dan konsep yang lebih menarik bagi konsumen.

"Kalau furniture lokal memang modelnya itu-itu saja, berbeda sekali dengan furniture modern yang beragam modelnya. Namun kalau dari sisi kualitas furniture lokal jauh lebih awet dan tahan lama," tambahnya.

Sementara itu, pedagang furniture lokal di daerah Kampung Melayu lainnya, M Arsyad, juga mengakui jika kini masyarakat sudah mulai beralih meninggalkan furniture lokal ke furniture modern.

Bahkan walau kini sudah memasuki musim kawin, pihaknya tidak berani membuat furniture lokal yang lebih banyak. Mengingat takut barangnya tidak laku sehingga membuat modal tertahan.

"Kami kini lebih banyak menunggu orderan dari konsumen saja, baru membuatnya. Lagi pula kini masyarakat lebih senang minta buatkan furniture lokal dengan desain sendiri ketimbang desain yang biasa kami buat," pungkasnya.

 

Tag : banjarmasin, furnitur
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top