Ini Tips Jika Ingin Jumpa Beruang Madu di Balikpapan

Beruang madu hanya akan makan pada jam 09.00 WITA dan 15.00 WITA. Oleh sebab itu, pengunjung hanya diperkenankan masuk ke area enklosur pada dua waktu itu saja.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  23:34 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Jika Anda mengunjungi Kota Balikpapan, Anda akan menjumpai ikon kota ini berupa gambar seekor beruang berwarna hitam yaitu beruang madu, bagaimanan kondisi beruang madu saat ini yang wajib kamu ketahui?
 
Sekitar pukul 14.30 WIB, beberapa orang mulai berdiri di depan pintu masuk Enklosur Beruang Madu. Merea sedang menunggu dibukanya pintu masuk kayu yang dibangun oleh Chevron itu. Alasannya, sekitar pukul 15.00 WIB nanti, enam ekor beruang madu akan mulai makan sore dan pengunjung diperkenankan untuk melihat dari jarak jauh.
 
Mulyana, Petugas Lingkungan Hidup dari Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) atau Pusat Beruang Madu mengatakan kepada Bisnis.com, beruang madu hanya akan makan pada jam 09.00 WITA dan 15.00 WITA. Oleh sebab itu, pengunjung hanya diperkenankan masuk ke area enklosur pada dua waktu itu saja.
 
“Beruang madu itu sifatnya pemalu, jadi pengunjung tidak boleh berisik selama berjalan di jembatan atas hutan, kalau panik mereka akan langsung pergi,” kata Mulyana kepada Bisnis, Sabtu sore (24/2/2019).
 
Saat ini KWPLH Kota Balikpapan menjaga 6 ekor beruang madu, 2 betina bernama Anna dan Chan, dan 4 ekor jantan bernama Haris, Batik, Bedu, dan Pedru. Adapun total luas hutan  yang dihuni 6 ekor beruang ini adalah 1,3 hektare. Sebenarnya luas hutan ini kata Yana masih kurang untuk beruang madu karena menurut penelitian, beruang madu betina saja membutuhkan satu kawasan yang bisa dia kuasai sendiri seluas 500 hektare.


“Untuk memanggil mereka [beruang madu] untuk makan, kita menggunakan lonceng saja. Mereka sebab tidak bisa bersamaan dan kita juga tak bisa terlalu dekat. Setiap harinya kami juga mengobservasi mereka dari pola makan, dan sisa makanan mereka,” jelas Yana.  

 
Kata Mulyana yang akrab dipangil Yana, mereka adalah beruang madu yang menjadi korban perburuan liar atau korban kebakaran hutan di wilayah Kalimantan. Oleh sebab itu rata-rata kondisi fisik 6 ekor beruang ini tidak terlalu baik. Misalnya saja, Haris yang sudah mengalami kebutaan pada mata bagian kanan. Meskipun begitu beruang madu di KWPLH juga terlihat berbulu bersih.

Ternyata, kata Yana, beruang madu cukup pintar untuk membersihkan dirinya sendiri. Sesudah bermain kotor di hutan, mereka akan menceburkan diri di sungai kecil yang berada di tengah hutan sehingga bulu mereka tetap tampak bersih.
 
Hewan endemic Asia yang tersebar dari Tibet, Cina, Bangladesh, sampai Indonesia ini hanya memakan buah-buahan citrus dan biji-bijian hutan.

Umumnya, kata Mulyana, seekor beruang madu bisa hidup sampai 35 tahun dengan berat badan sampai 65 kilogram. Dalam keadaan yang baik, mereka bisa berkembang biak seumur hidup sampai 1-3 ekor anak.

Sebaliknya, jika ekosistem di sekitarnya mengancam kehidupan beruang, dia bisa tidak berkembang biak sama sekali, apalagi, jika sumber makanan hutan mulai menipis akibat kebakaran hutan atau pengalihan lahan hutan menjadi kebun sawit.
 
Bisnis mencatat dari Pusat Informasi Beruang Madu, hewan liar ini sudah dilindungi negara sejak tahun 1973. Berkurangnya populasi beruang madu khususnya di Kalimantan paling banyak disebabkan oleh kebakaran hutan dan pengalihan lahan sawit. Pada musim kemarau panjang, 1982-1983 akibat El-Nino, ada 3 juta hektare lahan terbakar di Kalimantan Timur.

Adapun kasus gangguan beruang madu di kebun meningkat pesat setelah kebakaran besar 1997-1998. Hal ini menunjukkan bahwa jika habitatnya dirusak, beruang madu terpaksa mencari makanan di wilayah yang biasanya mereka hindari termasuk ke area hunian manusia.
 
“Beruang madu memang hanya bisa hidup di hutan karena mereka jago memanjat dan suka membuat sarang di pohon dengan dedaunan,” jelas Yana.
 
Sementara itu terkait biaya perawatan beruang madu, Mulyana mengaku nilai yang digelontorkan memang cukup besar. Oleh sebab itu, selain mengandalkan dana dari Yayasan, pemerintah kota, kemitraan, dan donasi sukarela, ada pula dana dari souvenir yang dijual di KWPLH untuk para pengunjung.


Biaya terbesar untuk perawatan beruang madu ini adalah untuk biaya makan per hari yaitu 40 kilogram buah per hari untuk dua kali makan, biaya madu dua kali dalam seminggu, dan biaya perawatan dari dokter hewan.
 
Dilansir dari website resmi KWPLH Balikpapan, www.beruangmadu.org, enklosur ini secara luas dikenali sebagai salah satu yang terbaik di Asia, dan meningkatkan jumlah wisatawan yakni 70.000 orang tercatat pada 2013 untuk domestik dan mancanegara yang datang melihat maskot Balikpapan di ruang lingkupnya yang alami.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
balikpapan, beruang

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top