Komoditas Beras Lokal jadi Perhatian BI Kalsel

Manajer Kehumas Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Provinsi Kalsel Abdul Haris menegaskan, pihaknya akan berupaya mengkaji komoditas beras lokal sebagai salah satu penyumbang inflasi yang cukup besar setiap momen hari raya besar.
Arief Rahman
Arief Rahman - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  16:30 WIB
Komoditas Beras Lokal jadi Perhatian BI Kalsel
Aktivitas pedagang beras lokal di Pasar Sentral Antasari Banjarmasin, Kamis (20/9/2018). - Bisnis/Arief Rahman

Bisnis.com, BANJARMASIN- Manajer Kehumas Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Provinsi Kalsel Abdul Haris menegaskan, pihaknya akan berupaya mengkaji komoditas beras lokal sebagai salah satu penyumbang inflasi yang cukup besar setiap momen hari raya besar.

Hal tersebut diungkapkannya dalam kegiatan Temu Wartawan Bulan Juni 2019 bersama Perwakilan BI Wilayah Kalsel, Selasa (18/06/2019) di Cafetaria Lantai 3 Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel.

"Pada dua bulan terakhir, beras lokal memang menjadi salah satu komoditas yang cukup tinggi dalam menyumbang inflasi di Kalsel. Hal ini tentunya akan menjadi bahan kajian kami untuk diteliti lebih jauh," tegasnya.

Pengkajian sendiri penting dilakukan agar Tim Pengendalian Inflasi Daerah  (TPID) Kalsel bisa melihat secara seksama kenapa beras lokal mengalami inflasi yang cukup besar selama momen hari raya besar.

Apakah karena memang dari sisi produksinya tidak mencukupi atau kah memang pola komsumsi masyarakat yang terbilang tinggi saat momen tersebut.

"Dari hasil kajian tersebutlah kita nanti akan melakukan kordinasi dengan TPID Kalsel untuk melakukan berbagai langkah strategis, agar kedepannya komoditas beras lokal harganya senantiasa stabil dan tidak lagi menjadi sumber terjadinya inflasi," tegasnya.

Bukan hanya komoditas beras saja, berbagai komoditas lokal lainnya yang menjadi andil terjadinya inflasi juga menjadi perhatian TPID Kalsel. Bahkan bukan hanya didorong ketersediaannya secara instan, namun juga melalui peran serta masyarakat.

"Misalnya untuk memenuhi kebutuhan cabai dan bawang merah di Kalsel, kita mendorong  masyarakat di beberapa kabupaten untuk dapat membudidayakannya. Dengan demikian kedepannya Kalsel bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus tergantung dengan daerah lain," tambahnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis kondisi inflasi yang ada di Kota Banjarmasin pada Mei 2019. Hasilnya Kota Banjarmasin mengalami Inflasi sebesar 0,90 persen. Ada pun laju inflasi kalender tahun 2019 (Mei 2019 terhadap Desember 2018) sebesar 2,91 persen dan laju inflasi “year on year” adalah 4,89 persen. 

Ada pun komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kota Banjarmasin antara lain ikan bakar, beras, kue kering berminyak, pepes ikan dan angkutan laut. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil 

deflasi tertinggi antara lain tarif pulsa ponsel, sepeda motor, bawang merah, daging ayam ras dan telur ayam ras.

Di 82 kota di Indonesia, tercatat 81 kota mengalami inflasi, 1 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di kota Tual sebesar 2,91 persen dan inflasi terendah terjadi di kota Kediri sebesar 0,05 persen. Adapun satu kota yang mengalami deflasi yaitu kota Merauke sebesar 0,49 persen. Dari kota-

kota IHK di wilayah pulau Kalimantan mengalami inflasi ada 9 kota, Inflasi tertinggi terjadi di kota Sampit sebesar 1,01 persen dan inflasi terendah di kota Samarinda sebesar 0,42 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kalimantan Selatan, produksi beras

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top