Kaltim Tak Bisa Hanya Andalkan IKN

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menuturkan pembangunan IKN masih dalam jangka waktu panjang. Setidaknya 5 tahun ke depan baru terlihat.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  19:14 WIB
Kaltim Tak Bisa Hanya Andalkan IKN
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, BALIKPAPAN -- Pemerintah provinsi Kalimantan Timur diharapkan tidak bergantung besar terhadap isu Ibu Kota Negara (IKN) dalam mencari solusi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menuturkan pembangunan IKN masih dalam jangka waktu panjang. Setidaknya 5 tahun ke depan baru terlihat.

"Dan apakah pembangunan nanti berdampak pada daerah? Lihat di pulau Jawa, pembangunan yang dijalankan apa ada dampak langsung bagi masayarakat," jelasnya Rabu (9/10/2019).

Dia menjelaskan hal itu dikarenakan sumber daya manusia tidak banyak memanfaatkan masyarakat lokal. Selain itu, komponen pembangunan banyak yang sudah jadi dan tidak dibuat secara lokal.

"Multiplier effect-nya sangat kurang. Bisa jadi, yang terjadi di Kaltim terjadi seperti itu. Apalagi, hal itu proyek jangka panjang," jelasnya.

Menurutnya saat ini Bumi Etam perlu mencari solusi jangka pendeknya di tengah ancaman kondisi ekonomi global yang tak menentu.

Dengan demikian tidak bisa hanya menunggu momentum terealisasikannya IKN.

Menurutnya ancaman pasar ekspor Kaltim sudah mulai menghantui dengan tujuan ekspor utama Tiongkok sudah mulai tidak mengandalkan batu bara. Tiongkok dan Jepang ke depannya bakal menggunakan energi terbarukan.

"Dalam 1 tahun--2 tahun ini langkah antisipasi sudah dilakukan. Jangan hanya mengandalkan batu bara. Salah satu jalan, kembangkan industri lain, seperti manufaktur. Di Kaltim belum ada. Kemudian, sektor turunan dari komoditas. Nilai jualnya bakal meningkat," tekannya.

Menurutnya jika hanya mengandalkan produk mentah, akan sangat bergantung pada harga acuan batu bara. Padahal konsumsi dalam negeri paling mentok saat ini masih ke PLN saja.

Kaltim, sebutnya, bisa saja menawarkan kepada investor denganIKN menjadi nilai jual. Namun uolya tersebut harus dilakukan dengan jemput bola.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, Ibu Kota Dipindah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top