Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OJK Kaltim Belum Temukan Industri Jasa Keuangan Bangkrut Akibat Corona

Relaksasi ini dibuat untuk menghadapi virus Corona. Ada dua jenis relaksasi, yakni perusahaan pemberi kredit dengan nilai maksimum Rp10 miliar dan, kedua, di atasnya. Masing-masing dari mereka, kemudahannya berbeda.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  18:56 WIB
Pengunjung gerai Slik menunggu panggilan petugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (5/2/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung gerai Slik menunggu panggilan petugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (5/2/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, BALIKPAPAN - Pandemi virus Corona (Covid-19) yang terus meluas di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan agar warga tetap berada di rumah. Perusahaan diminta untuk membantu dengan menjalankan instruksi tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan kebijakan relaksasi kepada industri jasa keuangan. Harapannya, melalui stimulus tersebut, usaha tetap bergairah sehingga ekonomi tetap bergerak.

Kepala Kantor OJK Kalimantan Timur (Kaltim), Made Yoga Sudharma, mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada lembaga jasa keuangan (LJK) yang gulung tikar di wilayahnya.

“Kalau tutup dalam artian bangkrut tidak ada. Tapi beberapa sudah mulai menyesuaikan operasionalnya,” katanya melalui pesan instan.

Made menjelaskan bahwa jaringan kantor yang beresiko tinggi seperti di mal melakukan percepatan waktu kliring. “Selain itu, ada LJK yang mengatur terkait antrean dan tempat duduk untuk menerapkan social distancing,” jelasnya.

Di Kalimtan Timur dan Utara, total jaringan LJK hingga Januari berjumlah 1.337 kantor. Rinciannya adalah bank umum (konvensional dan syariah) 838, BPR/S 57, asuransi 165, lembaga pembiayaan 228, dana pensiun 2, perusahaan penjaminan 4, perusahaan pegadaian 29, dan perusahaan efek 14.

Sementara itu, relaksasi dari OJK, tambah Made, ada dua. Pertama penilaian kredit yang tadinya berdasakan analisa 3 pilar (kemampuan membayar, kondisi keuangan dan prospek usaha), saat ini dinilai hanya berdasarkan kemampuan membayar saja. Ketentuan ini dikhususkan bagi kredit dengan nilai maksimum Rp10 miliar. Hal ini untuk membantu usaha kecil dan menengah.

Kedua, bagi kredit yang nilainya di atas itu, bisa merestrukturisasi kredit. Ketika melakukan itu, kolektibilitasnya dapat dikategorikan lancar.

Sebelumnya, bagi kredit yang direstrukturisasi harus lancar dulu pembayaran kewajibannya selama 3 kali, baru dapat ditingkatkan kualitasnya. Dengan ketentuan baru ini, kualitas kredit restrukturisasi dapat langsung dikategorikan lancar.

Stimulus OJK akan diperluas bukan hanya kredit perbankan, tetapi juga ke lembaga pembiayaan atau leasing company. Saat ini OJK sedang mempersiapkan kebijakan stimulus perekonomian di sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) dengan melonggarkan ketentuan kewajiban pembayaran di perusahaan pembiayaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK Virus Corona
Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top