Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kaltim Komitmen Bantu Kurangi Emisi Karbon Indonesia 33 Persen

Pemprov Kaltim komitmen berkontribusi mengurangi emisi total Indonesia sebesar 33 persen. Dengan pengurangan emisi sekitar 10 persen setiap tahun.
M. Mutawallie Sya’rawie
M. Mutawallie Sya’rawie - Bisnis.com 13 November 2021  |  04:33 WIB
Asap membubung dari cerobong-cerobong asap sebuah pabrik pemanas di Jilin, China - Reuters
Asap membubung dari cerobong-cerobong asap sebuah pabrik pemanas di Jilin, China - Reuters

Bisnis.com, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menyatakan komitmen untuk berkontribusi mengurangi emisi total Indonesia sebesar 33 persen.

Gubernur Kaltim Isran Noor menyatakan tetap dengan komitmennya untuk mengurangi emisi khususnya dari kegiatan berbasis lahan hingga 23 juta ton CO2e dari tahun 2019.

“Dengan pengurangan emisi sekitar 10 persen setiap tahun, Pemerintah RI menargetkan 485 juta ton CO2," ujarnya yang dikutip, Jumat (12/11/2021).

Pemprov Kaltim berupaya mengurangi emisi hingga 164 juta ton CO2 pada 2030. Dengan luas lahan 12,7 juta hektare, Kaltim hampir sebanding dengan Inggris yang tercatat seluas 13,4 juta hektare, dimana luas hutan Kaltim mencapai 6,5 juta hektare.

Kendati demikian, seluas 6.173 hektare areal hutan telah digunakan untuk perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman, pengelolaan hutan yang tidak lestari, pembukaan lahan tanpa izin, pertambangan dan tambak dalam 2 tahun terakhir.

Di sisi lain, Isran mengungkapkan bahwa Kaltim juga berkomitmen terhadap upaya transisi energi dengan energi baru dan terbarukan (EBT) yang rendah emisi dan berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat.

“Termasuk pemanfaatan energi baru terbarukan pada biofuel seperti B-30 dan 8-100, disisi lain perekonomian Kaltim masih bergangtung pada minyak dan pertambangan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tutuk SH Cahyono menyatakan kekeberhasilan dunia untuk mengurangi konsumsi batu bara tergantung seberapa cepat kemampuan negara-negara itu menguasai teknologi EBT.

“Jadi memang kebutuhan energi kan terus menerus tinggi, penduduk semakin banyak. Nah kalau EBT-nya enggak bisa dikuasai, ya orang tetap masih butuh batu bara,” terangnya.

Dia melanjutkan, dalam jangka panjang komitmen negara-negara sudah semakin kuat untuk mengurangi energi fosil yang merusak iklim.

“Jadi otomatis kita bisa perkirakan kebutuhan batu bara semakin lama semakin sedikit berkurang. Akhirnya kita harus mikir sektor lain harus dimajukan, karena kalau tidak nanti bagaimana masa depan masa depan Kaltim,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Gubernur Kaltim datang ke Glasgow, Inggris untuk menjadi narasumber talkshow di Paviliun Indonesia COP 26 UNFCCC.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kaltim emisi karbon
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top