Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasca Dilarang, Ekspor CPO Sumatera-Kalimantan Turun 60 Persen

Ketua APKB Wilayah Sumatera dan Kalimantan Ryo Kurniawan menyatakan terjadi penurunan sangat signifikan di Pulau Sumatera.
M. Mutawallie Sya’rawie
M. Mutawallie Sya’rawie - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  00:30 WIB
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB) Wilayah Sumatera dan Kalimantan memperkirakan penurunan ekspor crude palm oil (CPO) mencapai 60 persen selama kebijakan pelarangan diberlakukan pemerintah.

Ketua APKB Wilayah Sumatera dan Kalimantan Ryo Kurniawan menyatakan terjadi penurunan sangat signifikan di Pulau Sumatera.

“Kapal biasanya satu bulan ekspor mencapai 50.000 MT, sekarang hanya beberapa. Dari [jumlah] 15 kapal [pengangkut CPO] jadi 2 sampai 3 kapal,” ujarnya, Kamis (26/5/2022).

Dia menyebutkan, hal itu menyebabkan kerugian dari berbagai pihak seperti pengusaha, kapal pengangkut CPO, buyer yang terikat kontrak.

Meski tidak dapat merinci total kerugian yang ditimbulkan, Ryo menyebutkan dari sisi petani juga dirugikan yang tidak dapat menjual Tandan Buah Segar (TBS) mereka ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) karena kondisi tangki timbun yang penuh.

“Harga merosot untuk CPO dan turunannya akibat pelarangan ini. Kita tau sudah dibuka, tapi sampai saat ini belum ada terkait teknis ketentuan untuk penerbitan PE baik manual maupun by sistem,” sebutnya.

Selain itu, dia mengungkapkan bahwa kebijakan pemerintah terkait pelarangan ekspor CPO telah berbeda dengan definisi kawasan berikat yang diberikan bea cukai.

“Tidak berbanding dengan fasilitas. Kawasan berikat yang harusnya kita tujuan ekspor, bukan lokal,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ryo mengaku senang Apical Group melalui PT Kutai Refinery Nusantara (KRN) telah melakukan ekspor perdana Palm Kernel Expeller (PKE) sebesar 7.000 ton ke Korea Selatan, Kamis (26/5/2022).

Dia menyebutkan PKE yang berupa residu bungkil memiliki nilai jual tinggi di luar negeri, sehingga dapat meningkatkan devisa negara baik bea luar maupun tarif pungutan ekspor atau levy minyak sawit.

“Kami dari APKB sangat senang, karena bagus untuk pemulihan ekonomi nasional,” sebutnya.

Adapun, dia menuturkan bahwa di wilayah Kalimantan masih berpotensi untuk mengembangkan produk turunan CPO seperti Oleo Chemical yang didorong dengan berdirinya sejumlah perusahaan sawit di Benua Etam. “Yang pasti bahan baku jangan dari Kalimantan aja dari Sumatera juga,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor cpo sawit kelapa sawit moratorium ekspor cpo
Editor : Reni Lestari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top